Komunitas Kartwo Mulai Garap Ogoh-ogoh Jelang Nyepi Caka 1948
DENPASAR, NusaBali.com – Menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948, komunitas sekaa demen Kartwo yang berlokasi di Jalan Pulau Kawe, Gang Kartika II, Pedungan, Denpasar Selatan, mulai menyiapkan karya ogoh-ogoh untuk diarak pada Pengerupukan mendatang. Komunitas ini mulai menyalakan dapur kreativitas sejak Rabu (12/11/2025).
Ketua Komunitas Kartwo, Anak Agung Dharma Putra atau akrab disapa Gung Ama, mengatakan persiapan tahun ini dilakukan lebih awal untuk mengantisipasi berbagai kendala seperti cuaca dan waktu pengerjaan.
“Tahun 2026 nanti kami menampilkan satu tokoh karakter saja. Tahun sebelumnya kami membuat banyak tokoh, dan itu memakan waktu serta diuji cuaca yang tidak menentu,” ujar Gung Ama, Jumat (14/11).
Pria yang berprofesi sebagai marketing sepeda motor ini juga merupakan arsitek ogoh-ogoh dan telah lama berkecimpung dalam dunia kreativitas tersebut.
Satu Tokoh dengan Kualitas Maksimal
Untuk ogoh-ogoh tahun ini, Komunitas Kartwo berencana menghadirkan satu tokoh berkonsep perpaduan manusia dan hewan. Meski tema belum diputuskan, Gung Ama memastikan karya yang ditampilkan akan maksimal.
“Kami tidak pernah membuat RAB. Berapa pun dana yang ada, itu yang kami habiskan untuk berkarya. Misalnya ada Rp 20 juta, ya kami maksimalkan anggaran itu,” jelasnya.
Di tengah maraknya penggunaan rotan sintetis atau material siap pakai, Komunitas Kartwo tetap konsisten memakai bambu sebagai kerangka utama ogoh-ogoh. Selain alasan biaya, penggunaan bambu memberi ruang kebersamaan dalam proses pengerjaan.
“Kami pakai bambu karena ingin semua rekan dapat bagian dalam proses. Memang lebih rumit, tapi bagi kami inilah bentuk ramah lingkungan yang sebenarnya—bagaimana menciptakan karya maksimal dengan bahan yang sederhana,” katanya.
Gung Ama menegaskan, ritme pengerjaan ogoh-ogoh akan disesuaikan dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan pada akhir November. “Kami sudah memperhitungkan waktu. Rekan-rekan harus merayakan hari raya dulu, setelah itu baru lanjut garap ogoh-ogoh,” ujarnya.
Tahun-tahun sebelumnya, Gung Ama sempat mengambil proyek ogoh-ogoh untuk banjar, namun tahun ini belum dipastikan apakah ia kembali menerima permintaan serupa.
Selain itu, ia memiliki harapan agar karya ogoh-ogoh komunitas di gang-gang kecil juga mendapat perhatian pemerintah. “Semoga karya ogoh-ogoh di gang—yang kami sebut Ogoh-ogoh Sekaa Demen—bisa disoroti pemerintah Kota Denpasar. Bahkan kalau bisa ada lomba ogoh-ogoh antar gang tingkat kota,” harapnya.
Dengan semangat berkarya dan melestarikan budaya Bali, Komunitas Kartwo ingin agar tradisi ogoh-ogoh tetap hidup di tengah perkembangan zaman. *m03
Komentar