Bupati Gus Par: Jadikan Momentum Kemenangan Dharma Perkuat Visi Agung
AMLAPURA, NusaBali - Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata akrab disapa Gus Par dan Wakil Bupati Karangasem Pandu Prapanca Lagosa, mengajak masyarakat mengimplementasikan nilai kemenangan dharma untuk memperkuat pondasi Visi Karangasem Agung (Aman, Gigih, Unggul, Nyaman dan Gemah Ripah Loh Jinawi).
Pesan itu disampaikan Bupati Gus Par di acara Karangasem Akhir Pekan (KAP) Jalan Veteran Amlapura, Sabtu (15/11) malam. Disebutkan Bupati Gus Par, kemenangan dharma wajib diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga perayaan tidak saja kesannya hanya serimonial saja, tetapi juga mampu menghayati, dan mengamalkan kemenangan itu di kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai dharma, katanya, berupa kejujuran, integritas, keadilan, saling tolong-menolong, dan pengendalian diri wajib dibawa dan dipraktekkan saat bekerja, berinteraksi sosial, di rumah dan dalam setiap sendi kehidupan. "Mari memulai mengimplementasikan nilai-nilai kemenangan dharma itu, di dalam kehidupan sehari-hari, agar lebih bermanfaat," pinta Bupati Gus Par.
Kata Bupati Gus Par, musuh-musuh dalam diri umat manusia yang mesti diperangi, mulai dari tri mala, catur mada, panca wisaya, panca ma, sad ripu, sad attayi, sapta timira, asta dusta, dasa mala dan asuri sampat. Itulah sifat-sifat negatif yang selama ini menguasai diri umat manusia.
Dalam diri umat manusia katanya, ada dua kekuatan yang bertentangan, dharma (kebaikan) dengan adharma (kejahatan), kemenangan dharma terjadi ketika mampu mengendalikan hawa nafsu, amarah, dan keserakahan, serta mampu memilih hidup dengan jalan damai.
Jalani Galungan dengan hati damai, dilandasi semangat dharma mulai dari Tumpek Wariga, Sugihan Jawa (Wraspati Wage Sungsang), Sugihan Bali (Sukra Kliwon Sungsang), penyekeban (Redite Paing Dunggulan, penyajaan (Soma Pon Dunggulan), penampahan (Anggara Wage Dunggulan), puncaknya Buda Kliwon Dunggulan, selanjutnya hari pemacekan agung Soma Kliwon Kuningan, kemudian Kuningan Saniscara Kliwon Kuningan.
Terakhir hari pegat wakan, ditandai mencabut penjor, lalu membakar penjor, Buda Kliwon Pahang, satu bulan kalender Bali (35 hari) setelah puncak Galungan.@k16
Komentar