Yowana Sading Festival 2025: 11 Sekaa Teruna Adu Kreativitas Penjor Kreasi
MANGUPURA, NusaBali.com – Sabha Yowana Giri Winangun, Desa Adat Sading, Kecamatan Mengwi, Badung, untuk pertama kalinya menggelar Yowana Sading Festival 2025. Festival perdana ini menghadirkan berbagai lomba bernuansa budaya Hindu Bali, salah satunya Lomba Penjor Kreasi yang diikuti 11 Sekaa Teruna se-Desa Adat Sading.
Rangkaian acara festival berlangsung sejak 9 November hingga 7 Desember 2025. Kegiatan diawali dengan gotong royong, penanaman bibit pohon, dan penebaran benih ikan di seluruh wilayah Desa Adat Sading. Dilanjutkan dengan penancapan penjor pada 11 November di Jalan Wantilan Pura Desa Adat Sading serta lomba Penjor pada 12 November.
Sejumlah kategori lomba lain turut digelar, seperti lomba Gebogan di Banjar Sengguan Pasekan, lomba Ngelawar, lomba Ugrawakya/MC, dan lomba Cultural Reels Content. Malam puncak apresiasi akan dilaksanakan pada 27 November 2025, sementara pementasan Barong Mekupuk digelar pada 28 November. Festival ditutup dengan pencabutan penjor pada 7 Desember 2025.
Ketua Pelaksana Yowana Sading Festival 2025, I Gede Agus Ary Sanjaya (Arik Ote), mengatakan lomba Penjor dipilih karena melihat maraknya tren lomba penjor di berbagai daerah, sekaligus merespons antusias Sekaa Teruna Sading.
“Banyak Sekaa Teruna mengusulkan lomba Penjor. Kami sebagai Sabha Yowana yang menaungi 11 Sekaa Teruna ingin mewadahi kreativitas mereka. Karena itu lomba Penjor masuk ke agenda festival perdana ini,” ujarnya, Sabtu (15/11).
Menurut Arik, Penjor Kreasi kini menjadi wadah kreativitas baru bagi anak muda selama tetap memegang pakem Penjor Yadnya. “Seni penjor berkembang dari waktu ke waktu tanpa meninggalkan esensi. Ini bagian dari kreativitas generasi muda yang patut diapresiasi,” katanya.
Tiga juri dilibatkan dalam penilaian yakni I Wayan Eka Sukerya Ghama (Eka Soca), I Putu Arif Suciawan (Arif Lelong), dan AA Raka Yudhi Pratama (Raka Dalem Bernat). Adapun aspek penilaian meliputi keutuhan karya, keselarasan konsep, keharmonisan, jejeg penjor, dan ketepatan pemasangan aksesoris.
Arik juga menanggapi polemik pemasangan penjor dan kabel listrik yang ramai di media sosial. “Kami berharap semua pihak menyesuaikan diri dengan kearifan lokal. Penjor adalah tradisi Galungan, tentu harus bisa dipasang di depan rumah. Kami mendukung program Bupati Badung dalam penataan kabel PLN dan provider agar masyarakat dapat beryadnya dengan nyaman,” tegasnya.
Selain lomba Penjor, berbagai lomba lain juga mengangkat nilai-nilai budaya Bali.
• Lomba Gebogan mengusung tema Panca Rengga, pakem tradisional yang dikembangkan sesuai kreativitas masa kini.
• Lomba Ngelawar mengangkat menu Lawar Nangka dengan daging babi sebagai bahan dasar.
• Lomba Cultural Reels Content menantang peserta mengemas pesan budaya dan tujuan festival dalam format konten digital.
Menurut Arik, festival ini tidak hanya memperkuat kreativitas generasi muda, tetapi juga memberi kontribusi pada sektor budaya, sosial, dan pariwisata Badung.
“Yowana Sading Festival 2025 membawa dampak positif agar Desa Adat Sading makin dikenal. Kegiatan ini menarik minat kunjungan dan memberi ruang bagi generasi muda untuk menjaga budaya,” kata Arik.
Ia menegaskan bahwa sasaran utama festival ini adalah kebersamaan, kreativitas, pelestarian budaya, serta penguatan integritas Desa Adat Sading. *m03
Komentar