nusabali

Induk King Cobra Gegerkan Warga Tengkudak

  • www.nusabali.com-induk-king-cobra-gegerkan-warga-tengkudak

TABANAN, NusaBali - Tim Reptil Asih Tabanan mengevakuasi induk king cobra dari sarangnya di Banjar Tingkih Kerep, Desa Tengkudak, Kecamatan Penebel pada Jumat (7/11).

Selain itu turut juga dievakuasi telurnya sebanyak 45 butir. 

Evakuasi king cobra dari sarangnya disekitaran pohon bambu itu cukup menegangkan. Salah satu timnya bernama Dek Ray atau yang akbrab disebut Ray Cobra nampak tenang menangkap indukan dengan panjang 2,51 meter tersebut. Sebelum ditangkap bagian kepala, Ray Cobra terlebih dahulu memegang ekornya. 

Meskipun kepala king cobra itu siap menyerang namun dengan keahlihan Ray Cobra berhasil menaklukkan ular dari sarangnya tersebut. Saat ini telur dan ular yang memiliki lingkar tubuh 10 centimeter itu sudah dibawa ke penangkaran. 

Ketua Reptil Asih Tabanan, Ni Putu Astridayanti mengatakan ular yang dievakuasi timnya itu awalnya dilaporkan oleh warga. Saat ke ladang ditemukan adanya king cobra di bawah pohon bambu. "Akhirnya tim kami meluncur ke lokasi ditemukan juga 45 butir telur," ujarnya ketika dikonfirmasi Senin (10/11). 

Menurutnya telur ditemukan di bawah tanah sedalam 37 centimeter. Puluhan telur itu diamankan dipenangkaran. Telur ini diprediksi akan menetas 3 bulan berikutnya. "Kalau ularnya tidak dibunuh dibawa ke penangkaran. Nantinya akan digunakan sebagai sarana edukasi," jelasnya. 

Penyuluh Bahasa Bali ini menambahkan selain di Banjar Tingkih Kerep, timnya juga pernah mengamankan ular king cobra betina di dapur warga di kawasan Banjar Tegayang, Desa Penatahan Kecamatan Penebel. 

Disebutkan musim penghujan membawa kewaspadaan baru bagi warga Tabanan dan Jembrana. Sejak Juni hingga November 2025, sebanyak 17 ekor ular king kobra berhasil ditangkap dari area permukiman dan kebun warga di dua kabupaten tersebut. Selain itu, sekitar 500 butir telur juga diamankan untuk mencegah penetasan di alam terbuka.

Astrid sapaan akbrabnya, menjelaskan bahwa Tabanan menjadi wilayah dengan temuan king kobra terbanyak di Bali. Menurutnya, meningkatnya populasi ular berbisa mematikan ini dipicu berkurangnya predator alami seperti biawak, elang, burung hantu, dan kucing hutan akibat perburuan liar.

“Banyak yang tidak tahu hewan yang diburu justru pemangsa alami king kobra. Akibatnya, rantai ekosistem terganggu dan populasi ular meningkat,” ujarnya. 

Astrid menambahkan, musim penghujan merupakan periode bertelur dan bersarangnya king kobra. Telur-telur tersebut diperkirakan menetas antara Desember hingga Februari, sehingga kemungkinan kemunculan ular di permukiman warga masih tinggi.

Dijelaskan, king kobra adalah satu-satunya jenis ular yang membuat sarang sendiri. Biasanya, ular ini bersarang di area pohon bambu atau tegalan dekat saluran air, dengan kedalaman sarang mencapai 60–80 sentimeter. 

"Selama menjaga telur, induk ular tidak keluar dari sarang hingga tiga bulan. Karena itu, warga yang beraktivitas di tegalan bambu atau dekat telabah sebaiknya waspada,” pinta Astrid.

Dari hasil rescue tahun ini, king kobra terpanjang ditemukan mencapai 3,7 meter, sedangkan rekor tertinggi di Bali pernah ditemukan pada 2013 di Selemadeg Barat, mencapai 4,7 meter. Astrid tak menutup kemungkinan akan ada temuan baru dengan ukuran lebih besar hingga akhir tahun ini.

Seluruh ular yang ditangkap tidak dimusnahkan, melainkan dipindahkan ke penangkaran untuk keperluan edukasi konservasi kepada masyarakat. “Tujuan dievakuasi bukan membasmi, tapi memberi pemahaman tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem,” tegasnya.

Astrid juga mengimbau warga tidak menangkap ular sendiri saat menemukan king kobra di lingkungan sekitar. “Jangan mendekati atau memancing reaksinya. Hubungi petugas atau relawan karena bisa king kobra sangat berbahaya,” pesannya.7 des

Komentar