Pemkot Denpasar Siapkan Usulan Kapten Japa Jadi Pahlawan Nasional
DENPASAR, NusaBali - Pemerintah Kota Denpasar berencana mengusulkan Kapten Anumerta Ida Bagus Putu Japa sebagai Pahlawan Nasional. Langkah ini ditempuh sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengorbanannya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Walikota I Gusti Ngurah Jaya Negara usai memimpin apel peringatan Hari Pahlawan di Lapangan Lumintang, Denpasar Utara, Senin (10/11), mengemukakan bahwa pihaknya tengah melakukan kajian mendalam terkait rencana pengusulan tersebut.
“Kami akan segera menerima audiensi dari pihak keluarga beliau. Saat ini Denpasar sedang menyusun narasi perjuangan Kapten Japa untuk diajukan ke pemerintah pusat,” ujar Walikota Jaya Negara.
Menurutnya, Kapten Japa merupakan sosok pejuang muda yang mengharumkan nama Bali, khususnya Denpasar, dalam perlawanan terhadap Belanda.
Kapten Anumerta Ida Bagus Putu Japa gugur dalam Serangan Umum Kota Denpasar pada 11 April 1946. Pejuang kelahiran 3 April 1925 di Griya Punia Jati, Jalan Hayam Wuruk Denpasar ini wafat pada usia 21 tahun. Dia merupakan kakak dari mantan Gubernur Bali Prof Dr Ida Bagus Mantra, sekaligus paman dari mantan Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra.
Riwayat pendidikan Kapten Japa dimulai di HIS (Hollandsch Inlandsche School) selama tujuh tahun, kemudian melanjutkan ke MULO di Malang, Jawa Timur. Saat pecahnya Perang Pasifik, dia kembali ke Bali dan sempat menjalani kerja paksa di perusahaan Mitsui Bussan pada masa pendudukan Jepang.
Setelah Jepang kalah dan PETA (Pembela Tanah Air) dibentuk, Ida Bagus Japa ikut bergabung bersama 1.650 orang lainnya dan menjalani latihan di Banyumala. Pasca-proklamasi kemerdekaan, dia turut membentuk BKR (Badan Keamanan Rakyat) bersama Nyoman Peged.
Ketika pasukan Belanda mendarat di Sanur pada 2 Maret 1946, pasukan pejuang Bali mengadakan sejumlah rapat untuk menyusun serangan balasan. Dalam rapat di Pagutan, Padangsambian, 8 April 1946, Ida Bagus Japa ditunjuk memimpin pasukan dari arah timur (Yang Batu) dengan kekuatan terbesar, mencapai 800 orang.
Namun dalam pertempuran sengit itu, Kapten Japa tertembak di dahi dan tiga peluru bersarang di dadanya. Sebelum menghembuskan napas terakhir, dia sempat berpesan kepada rekan seperjuangannya, Ida Bagus Banjar, untuk melanjutkan perjuangan.
Kapten Japa meninggalkan seorang istri, Jero Wati, yang saat itu tengah mengandung delapan bulan. Kini, namanya diabadikan sebagai nama jalan dan monumen di Bundaran Jalan Hangtuah – Jalan Hayam Wuruk – Jalan Raya Puputan, Niti Mandala, Denpasar, sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanannya bagi bangsa dan daerah. 7 mis
Komentar