Hujan Guyur Bali, BMKG Imbau Warga Siaga
MANGUPURA, NusaBali - Dalam dua hari terakhir, cuaca di sejumlah wilayah Bali didominasi hujan dengan intensitas yang cukup tinggi. Sejak Sabtu (8/11), hujan turun hampir tanpa jeda dan baru mulai mereda pada Minggu (9/11) sore.
Dari pantauan di lapangan, curah hujan yang deras sempat melanda kawasan Badung Selatan hingga Kota Denpasar sejak pagi hingga sore, membuat beberapa ruas jalan tergenang dan arus lalu lintas tersendat.
Prakirawan Cuaca BBMKG Wilayah III Denpasar, I Gede Agus Mahendra, menjelaskan bahwa intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir menandai awal musim hujan di sebagian besar wilayah Bali. Hujan pun disebut bervariasi dari ringan hingga lebat dan bisa terjadi sepanjang hari, terutama pada wilayah pesisir selatan Bali.
“Khusus di daerah selatan Bali, hujan dominan terjadi dini hari, siang, dan sore,” jelas Agus Mahendra pada Minggu sore kemarin. Dia menyebut, puncak musim hujan diperkirakan akan berlangsung pada Januari hingga Februari 2026, dengan potensi curah hujan yang lebih tinggi dari rata-rata bulanan. Pihaknya pun kembali mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak cuaca ekstrem, seperti genangan air, banjir, dan angin kencang yang bisa menyebabkan pohon tumbang.
“Di awal musim hujan ini potensi bencana hidrometeorologi cukup tinggi. Kami imbau masyarakat untuk selalu waspada dan rutin memantau pembaruan informasi cuaca dari BMKG,” imbaunya. Sebelumnya Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, I Gede Agung Teja, Kamis (6/11) lalu menyatakan mitigasi bencana terus dilakukan pihaknya bersama-sama dengan instansi terkait lainnya. Pemerintah, ujarnya, selalu berusaha menguatkan koordinasi, mendorong melakukan pembersihan sungai, mengeruk sungai, menyediakan peralatan, dan kegiatan lainnya. Meski demikian, kolaborasi dengan masyarakat menjadi faktor kunci dalam menekan kejadian bencana hidrometeorologi. Cuaca ekstrem biasanya terjadi secara masif atau luas, sehingga BPBD tidak mungkin sendirian menangani dari hulu sampai hilir.
“Tentu tidak cukup karena banyak faktor yang mempengaruhi terutama kita butuh support dari seluruh masyarakat, manajemen lingkungan masing-masing, sampah, saluran drainase juga. Cukup banyak drainase yang mampet oleh sampah, lumpur, atau bahkan proyek atau kabel juga ada,” ujar Gede Teja. Gede Teja menambahkan, intensitas hujan yang terjadi beberapa hari terakhir memang tidak setinggi saat kejadian bencana 10 September 2025 lalu yang mengakibatkan belasan korban meninggal dan sampai saat ini ada korban yang belum ditemukan. Meski demikian Gede Teja mengingatkan, saat ini masih awal musim hujan yang akan terus berlangsung dalam beberapa bulan mendatang. Puncak musim hujan sendiri diprakirakan terjadi pada bulan Januari dan Februari 2026. “Jadi perlu waspada karena potensi curah hujan beratnya masih ada. Puncak musim hujan itu Januari sampai Februari 2026,” tadas Gede Teja. 7 ol3
Komentar