nusabali

Dari Anggrek Bulan hingga Lenjong, Festival Anggrek Bali 2025 Gaungkan Cinta Flora Endemik Pulau Dewata

  • www.nusabali.com-dari-anggrek-bulan-hingga-lenjong-festival-anggrek-bali-2025-gaungkan-cinta-flora-endemik-pulau-dewata

DENPASAR, NusaBali.com – Festival Anggrek Bali 2025 resmi berakhir pada Jumat (7/11/2025) di Taman Budaya Art Center Denpasar. Ajang yang berlangsung selama sepekan, 1–7 November 2025 ini, sukses memikat ribuan pengunjung dan menegaskan pentingnya pelestarian anggrek endemik Bali yang mulai langka.

Festival yang digelar oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali itu dibuka Gubernur Bali Wayan Koster. Sementara rangkaian penutupan diwarnai dengan fashion show, pameran anggrek, serta bazar UMKM lokal Bali yang menampilkan berbagai produk berbasis alam dan ramah lingkungan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunada mengatakan, festival tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua, dengan mengangkat tema “Anggrek Kembali.” Tema ini diambil sebagai refleksi atas kondisi anggrek endemik Bali yang populasinya kian menurun akibat perubahan lingkungan dan minimnya upaya pelestarian.

“Kami ingin masyarakat mengenal kembali anggrek Bali yang mulai punah. Anggrek bukan hanya tanaman hias, tetapi juga memiliki nilai ekonomi, estetika, dan ekologis,” ujar Sunada di sela-sela acara penutupan, Jumat (7/11).

Diminati Peserta dari Dalam dan Luar Bali

Festival yang diikuti oleh 36 stan peserta ini tak hanya diisi oleh komunitas anggrek Bali, tetapi juga dihadiri peserta dari luar daerah seperti Yogyakarta, Banyuwangi, dan Malang. Mereka menampilkan berbagai jenis anggrek unggulan dan hasil budidaya inovatif yang menarik perhatian pengunjung.

Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sepanjang festival. Banyak pengunjung yang tidak sekadar datang untuk melihat, tetapi juga membeli bibit anggrek, berdiskusi tentang perawatan tanaman, bahkan ikut dalam sesi edukasi budidaya.

“Vibes-nya luar biasa. Pengunjung bisa belajar langsung bagaimana menanam dan merawat anggrek endemik Bali. Ini jadi momentum yang baik untuk edukasi publik,” kata Sunada.

Menonjolkan Keindahan dan Nilai Ekologis Anggrek Bali

Anggrek endemik Bali memiliki keunikan tersendiri dari segi bentuk, warna, dan aroma. Beberapa jenis yang dipamerkan antara lain Anggrek Bulan, Anggrek Lenjong, Anggrek Tricolour, dan Anggrek Pandan.

Sunada menjelaskan, keindahan morfologis dan potensi ekonomi anggrek Bali sangat besar. Selain digemari sebagai tanaman hias, beberapa jenis anggrek memiliki aroma alami yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku minyak wangi dan kosmetik herbal.

“Keberagaman genetik pada anggrek Bali juga berpotensi dikembangkan untuk menghasilkan varian baru yang lebih kuat dan bernilai ekonomi tinggi,” imbuhnya.

Dari sisi ekologis, anggrek endemik Bali memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, terutama sebagai rumah bagi serangga penyerbuk.

Dorong Masyarakat Menanam dan Melestarikan Anggrek

Sunada berharap festival ini dapat menjadi gerakan bersama untuk melestarikan kekayaan flora Bali, sejalan dengan spirit Jagat Kerthi — konsep menjaga keseimbangan alam, manusia, dan budaya.

“Kami ingin anggrek kembali ditanam, kembali dikenal, kembali dibudidayakan, dan kembali menjadi kebanggaan Bali,” tegasnya.

Ia menambahkan, pada penyelenggaraan festival berikutnya, pihaknya akan fokus menampilkan lebih banyak jenis anggrek langka agar publik makin mengenal kekayaan hayati Pulau Dewata.

Dengan berakhirnya Festival Anggrek Bali 2025, semangat “Anggrek Kembali” diharapkan tidak hanya berhenti di Art Center, tetapi tumbuh di pekarangan rumah masyarakat — sebagai wujud nyata cinta terhadap alam dan identitas Bali. *m03

Komentar