Warga Serangan Serukan Dukungan Akademisi dan Aktivis: Jangan Biarkan Kami Sendirian Hadapi LNG
DENPASAR, NusaBali.com – Masyarakat Desa Adat Serangan merasa harus berjuang sendirian menghadapi polemik pembangunan Terminal LNG di lepas pantai Denpasar Selatan. Mereka meminta masyarakat luas, terutama para akademisi, pemerhati lingkungan, dan tokoh budaya Bali, turut bersuara dalam menilai proyek energi bersih ini secara objektif.
Prajuru Desa Adat Serangan I Wayan Patut, Sabtu (8/11/2025), mengatakan proyek LNG bukan sekadar urusan satu desa, tetapi menyangkut masa depan ekologi dan spiritual Bali secara keseluruhan. “Kalau alam rusak di Serangan, masyarakat Denpasar dan Bali juga akan merasakan dampaknya. Jadi jangan biarkan kami berjuang sendiri,” ujar peraih Kalpataru 2011 ini.
Ia menilai, banyak pihak masih belum memahami akar persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir. Penolakan warga Serangan bukan karena sentimen anti-pembangunan, melainkan karena proyek itu berpotensi menimbulkan gangguan terhadap ekosistem laut dan tatanan sosial adat. “Kami hanya ingin semua dijalankan sesuai aturan, bukan asal jalan,” kata Patut.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa hingga kini masyarakat belum menerima salinan dokumen resmi hasil kajian atau AMDAL proyek LNG. “Kami sudah datang ke Jakarta dan Surabaya, bahkan ke Kementerian Lingkungan Hidup. Tapi sampai sekarang belum pernah kami lihat dokumen yang lengkap, padahal itu hak publik,” ujarnya.
Ketiadaan dokumen kajian membuat warga sulit memahami potensi dampak dan mitigasi yang direncanakan. “Kami ingin tahu, kalau terjadi bencana bagaimana mitigasinya? Kalau ada pencemaran laut, siapa bertanggung jawab? Ini belum ada jawaban,” tegasnya.
Menurut Patut, jika pemerintah serius ingin membangun kepercayaan publik, maka seluruh proses harus dilakukan secara transparan. “Sampaikan secara terbuka apa manfaatnya, apa risikonya. Jangan sampai masyarakat hanya dijadikan objek,” katanya.
Ia juga mengajak kalangan kampus, terutama ahli lingkungan dan sosial, untuk memberikan pandangan akademis yang bisa menuntun arah kebijakan. “Profesor, doktor, dan praktisi lingkungan di Bali harus ikut berbicara. Jangan hanya diam ketika laut Bali mau diubah,” ujarnya.
Desa Adat Serangan menegaskan, masyarakat siap duduk bersama dengan semua pihak dalam forum terbuka. “Kami tidak menolak kemajuan, tapi kami ingin Bali tetap hidup dengan adat dan budayanya. Kalau energi bersih itu memang baik, mari wujudkan bersama tanpa mengorbankan kelestarian alam,” tegasnya.
Ia mengingatkan, proyek seperti LNG akan meninggalkan jejak jangka panjang di pesisir selatan Bali. Karena itu, keputusan yang diambil hari ini akan menentukan wajah Bali di masa depan. “Kalau pembangunan ini tidak hati-hati, generasi berikutnya yang akan menanggung akibatnya,” pungkas Patut.
Komentar