nusabali

Pembukaan Festival Nusa Penida ke-8 Tahun 2025 Diawali Penampilan Puluhan Penari Pendet Pasepan

Menetralisir Unsur Negatif, Simbol Penyucian dari Dewa Agni

  • www.nusabali.com-pembukaan-festival-nusa-penida-ke-8-tahun-2025-diawali-penampilan-puluhan-penari-pendet-pasepan

Tari Pendet Pasepan yang merupakan tarian sakral ini ditampilkan bukan dalam konteks seremonial, tetapi tetap dalam konteks sakral, yakni upacara pakelem

SEMARAPURA, NusaBali
Festival Nusa Penida ke-8 Tahun 2025 resmi dibuka Asisten Deputi Event Internasional Pariwisata RI, Hafiz Agung Rifai di Pesisir Tanjung Kerambitan, Desa Adat Dalem Setra Batununggul, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Jumat (7/11). Pembukaan berlangsung khidmat dengan penampilan puluhan penari Tari Pendet Pasepan dan Tari Baris Pati sebelum upacara pakelem, menjadikan suasana pembukaan festival bernuansa religius dan sakral.

Penampilan Tari Pendet Pasepan dalam pembukaan festival kali ini menjadi perhatian khusus. Tarian sakral khas Desa Adat Dalem Setra Batununggul ini ditarikan oleh sekitar 50 orang penari ibu-ibu yang sudah terbiasa menari saat upacara keagamaan di desanya. Tari ini merupakan salah satu tari wali atau tari sakral yang biasanya dipentaskan pada saat upacara melasti maupun piodalan, berfungsi untuk menetralisir unsur negatif melalui pasepan. Pasepan ini dianggap sebagai simbol penyucian dari Dewa Agni.

Menurut Bendesa Adat Dalem Setra Batununggul, I Dewa Ketut Anom Astika, tarian ini memiliki ciri khas tersendiri dibanding Tari Pendet biasa. Jika Tari Pendet umumnya menggunakan bunga (sekar) sebagai perlambang kesucian, maka Tari Pendet Pasepan menggunakan pasepan yang dibawa di tangan kanan penari, sebagai perlambang api penyucian. “Biasanya Tari Pendet Pasepan dipentaskan pada saat upacara dewa yadnya maupun pitra yadnya di desa adat. Tarian ini kami tampilkan bukan dalam konteks pertunjukan seremonial, tetapi tetap dalam konteks sakral (upacara pakelem),” ujarnya.

Bupati Satria (tiga dari kiri) bersama para tamu undangan saat ngaturang pakelem. -IST 

Dia menegaskan, setelah penampilan tarian tersebut, baru digelar upacara ngaturang banten pakelem lengkap dengan sarana bebek dan ayam hitam di Pantai Tanjung Kerambitan. “Kalau tidak dalam konteks upacara, saya pun tidak akan izinkan menari di sana. Jadi meski tampil saat pembukaan festival, itu tetap dalam situasi sakral karena ditarikan sebelum prosesi pakelem, disaksikan para tamu undangan. Tujuan utamanya untuk menetralkan energi buruk menjadi energi positif, agar Nusa Penida secara umum senantiasa harmonis,” tambah Bendesa Dewa Anom Astika. 

Setelah penampilan tarian dan prosesi pakelem berlangsung, acara dilanjutkan dengan pembukaan resmi festival yang ditandai pemukulan kentongan (kulkul) oleh Bupati Klungkung I Made Satria, Wakil Bupati Klungkung Tjokorda Gde Surya Putra, Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail, Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bali I Nyoman Suwirta, serta sejumlah undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Bupati Satria menyampaikan rasa bangga atas terselenggaranya Festival Nusa Penida ke-8 yang kini telah menjadi kebanggaan masyarakat Klungkung, khususnya di Kepulauan Nusa Penida. Tahun ini merupakan kali ketiga festival tersebut masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata RI. “Dengan perkembangan pariwisata yang terus meningkat, Festival Nusa Penida ke-8 tahun 2025 ini diselenggarakan secara kolaboratif bersama stakeholder, mengusung tema The Soul for Tomorrow. Tema ini mengingatkan kita bahwa jiwa Nusa Penida yang hidup dalam budaya, tradisi, dan alamnya yang indah harus dijaga agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya.

Pembukaan secara resmi Festival Nusa Penida ke -8 tahun 2025 ditandai pemukulan kentongan secara bersama-sama. -IST 

Lebih lanjut Bupati Satria menambahkan, festival digelar selama empat hari, mulai 6-9 November 2025 dengan melibatkan unsur masyarakat, pelaku pariwisata dan UMKM, seniman, budayawan, komunitas, serta lembaga pendidikan. “Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya menampilkan keindahan dan kekayaan budaya Nusa Penida, tetapi juga memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk membangun pariwisata yang berdaya saing, berbudaya, dan berkelanjutan. Mari jadikan festival ini momentum meneguhkan komitmen menuju masa depan pariwisata Klungkung yang berdaya saing global, namun tetap berakar pada nilai-nilai budaya Bali,” pesannya.

Sementara itu, Asisten Deputi Event Internasional Pariwisata RI, Hafiz Agung Rifai menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Klungkung atas penyelenggaraan festival. Dia menilai, Festival Nusa Penida bukan hanya ajang promosi pariwisata, tetapi juga bentuk nyata pelestarian adat, seni, dan budaya lokal. “Festival Nusa Penida ini luar biasa, selain untuk mempromosikan pariwisata, juga menjaga kelestarian adat dan budaya Klungkung, khususnya Nusa Penida. Tahun ini untuk ketiga kalinya masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN), itu sangat luar biasa. Semoga festival ini menjadi motivasi masyarakat untuk bersama-sama menjaga keindahan alam, seni, dan budaya demi kemajuan Nusa Penida ke depan,” harapnya.

Pelaksanaan Tari Pendet Pasepan di pembukaan festival juga menjadi simbol kuat hubungan antara adat, budaya, dan pariwisata di Nusa Penida. Di tengah geliat pariwisata modern, masyarakat tetap menjadikan nilai-nilai kesucian dan tradisi sebagai roh utama setiap kegiatan. Kehadiran tarian sakral di pembukaan festival menjadi pengingat bahwa pembangunan pariwisata di Nusa Penida tidak boleh lepas dari akar spiritual dan budaya Bali yang adiluhung. 7 k24

Komentar