Desa Adat Santi Gelar Karya Ngenteg Linggih
AMLAPURA, NusaBali - Desa Adat Santi, Desa Selat, Kecamatan Selat, Karangasem, menggelar Puncak Karya Pengenteg Linggih, Mepeselang, Mepedanaan, dan Nubung Pedagingan bertepatan dengan Purnama Sasih Kelima, yang jatuh pada Buda Umanis Julungwangi, Rabu (5/11). Upacara suci ini menjadi puncak rangkaian karya agung yang telah disiapkan sejak tiga tahun terakhir oleh seluruh krama setempat.
Manggala Prawartaka Karya I Gusti Ngurah Ananjaya mengatakan puncak karya yang berlangsung Rabu kemarin melibatkan sebanyak enam sulinggih Siwa Buda. Untuk upacara ngenteg linggi di Pura Kahyangan Tiga, utamanya di Pura Puseh dan Bale Agung, upacara dipuput oleh yajamana karya yakni Ida Pedanda Gede Made Putra Lusuh dari Griya Suci Lusuh, Ida Pedanda Gede Nyoman Talikup dari Griya Kaulu Biau Muncan, dan Ida Pedanda Gede Wana Yoga dari Griya Wanasari Sidemen.
Selanjutnya dilaksanakan upacara mapeselang dipuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Batuaji dari Griya Akah Klungkung dan Ida Pedanda Gede Wayan Jelantik Putra Pradnya dari Griya Jelantik Wanasari Sidemen. Rangkaian berlanjut dengan mapedanaan dipuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Padangrata dari Griya Gede Muncan.
“Rangkaian upacara dimulai sejak pukul 05.00 Wita dan berakhir menjelang pukul 16.00 Wita, diikuti sekitar 500 orang lebih krama. Seluruh prosesi berjalan sesuai rencana dan rundown yang telah disusun. Dengan kaenter wiku tapini Ida Pedanda Istri Made Putri Watu Sasih dari Griya Suci Lusuh,” jelas Ananjaya.
Lebih lanjut dijelaskan, upacara kali ini menggunakan tingkatan Utamaning Utama, berdasarkan petunjuk dari yajamana karya. Jenis upacara ini tergolong sangat besar karena melibatkan upakara utama yang dibuat berdasarkan sradha bakti dan berpedoman pada lontar Sundarigama serta Swamandala. Selain itu, digelar pula upcara “Menawa Ratna” yang menggunakan 11 jenis bunga harum sebagai sarana utama. “Dari sejarah yang ada, pada tahun 1985 desa kami pernah melaksanakan karya ngenteg linggih catur muka. Namun untuk tahun 2025 ini rentetannya jauh lebih besar dan lengkap. Karena selain ngenteg linggih, juga dilaksanakan Tawur Tabuh Gentuh, termasuk melaspas pura yang berkaitan dengan Pura Kahyangan Tiga, seperti Pura Jurang,” terang ASN di Kantor Kemenag Karangasem, ini.
Bendesa Adat Santi I Gusti Lanang Ngurah menjelaskan bahwa rencana pelaksanaan karya ini telah dirancang sejak tahun 2021. “Sejak tiga tahun lalu kami sudah beberapa kali rapat. Tahun 2021 sudah disepakati karya dilaksanakan tahun 2025. Sejak itu kami mulai melakukan persiapan dan pembangunan sarana upacara,” ucapnya.
Persiapan upacara dimulai secara niskala sejak Januari 2025, ketika prajuru desa matur piuning ke Kayangan Tiga untuk menetapkan waktu pelaksanaan karya. Adapun seluruh pembiayaan karya ini bersumber dari dana swadaya masyarakat dan donasi sukarela. “Selain iuran wajib, ada juga krama yang dengan sukarela menyumbangkan kerbau, kambing, babi, bahkan hasil kebun,” beber mantan Anggota DPRD Karangasem 1999-2004 ini.
Meski tingkatan upacara yang dijalankan merupakan tingkatan yang utama dan paling besar, namun Lanang Ngurah bersyukur dukungan krama untuk ngayah sangat tinggi. Krama Desa Adat Santi yang terlibat terdiri atas 111 KK krama ngarep (yang tinggal di desa) dan 67 KK krama ngelelage (yang tinggal di luar desa). Seluruhnya memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang sama dalam mendukung pelaksanaan karya. “Kami bersyukur, semangat dan gotong royong masyarakat sangat luar biasa,” ketanya.
Disinggung mengenai makna dari karya ini, menurut Lanang Ngurah, untuk kesejahteraan dan ketentraman masyarakat Desa Adat Santi di masa-masa mendatang. “Tujuannya untuk memohon ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi agar memberikan sinar suci, sehingga masyarakat Desa Adat Santi hidup rukun dan sejahtera, baik secara lahir maupun batin,” ucapnya.7ind
Komentar