nusabali

Pura Penataran Temaga, Saksi Bangkitnya Spirit Ngusaba Nini

  • www.nusabali.com-pura-penataran-temaga-saksi-bangkitnya-spirit-ngusaba-nini

AMLAPURA, NusaBali.com - Sejarah baru terukir di Banjar Adat Temaga, Desa Kertha Buana, Kecamatan Sidemen, Karangasem. Untuk pertama kalinya, warga setempat menggelar Karya Agung Tawur, Memungkah, Pedudusan Agung, Mendem Pedagingan, serta Ngusaba Nini di Pura Penataran Temaga.

Rangkaian upacara suci yang disebut Yadnya Bakti Bersama ini dimulai sejak 21 Oktober dan berpuncak pada Rabu (5/11/2025) bertepatan dengan Purnama Kalima. Karya agung ini dipuput oleh Ida Pedanda Gede Nyoman Rai Tianyar dari Griya Menara Sidemen, dengan Tapini Ida Pedanda Istri Karang dari Griya Cang Apit Sidemen.

Seluruh prosesi yadnya dipimpin oleh Pengerajeg Karya I Wayan Sumatra, dengan struktur pelaksana terdiri atas Baga Parahyangan (Jro Mangku Widi), Baga Pawongan (I Nengah Sukra), dan Baga Palemahan (I Wayan Kenak). Koordinator baga antara lain Komang Edi Tresna, Wayan Angga Sudiartama, I Wayan Netra Suparsana, I Wayan Sutama, Komang Gita, Jro Mangku Ngurah, Nengah Mustika, Ketut Gadung, Wayan Subagia, dan I Wayan Sugina.

“Rencana karya ini sudah digagas sejak 2018. Awalnya hendak dilaksanakan tahun 2019, namun tertunda karena pandemi. Kini akhirnya bisa terwujud berkat kekompakan dan semangat ngayah krama Banjar Adat Temaga,” ujar I Wayan Sumatra, Rabu (5/11).


Sumatra menegaskan, seluruh pelaksanaan yadnya ini murni bersumber dari swadaya dan rasa bakti bersama warga. Semua berjalan berlandaskan semangat ngayah tanpa pamrih.
“Tidak ada batas antara panitia dan pemedek, semua bergerak karena rasa bakti. Yang kami jaga bukan kemegahan, tapi makna suci dan satya terhadap leluhur,” imbuhnya.

Pelaksanaan karya juga berlandaskan pada tiga bentuk tradisi Ngusaba Nini khas masyarakat Temaga, yakni Ngusaba Nini Goreng, Ngusaba Nini Jerimpen, dan Ngusaba Nini Lalab. Ketiganya melambangkan siklus kesuburan alam dan rasa syukur manusia atas anugerah bumi.

Dalam filosofi lokal, Nini dimaknai sebagai lambang Ibu Pertiwi, sumber kehidupan yang patut dipuja dan dijaga melalui yadnya yang tulus dan berkesinambungan.

“Tiga jenis Ngusaba Nini itu menggambarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan roh leluhur. Semua menjadi dasar karya ini, agar hidup tetap subur, damai, dan selaras,” terang Sumatra.

Di sela-sela prosesi suci, suasana pura semakin hidup dengan pementasan tari sakral Nyutri, tarian wali yang hanya dipentaskan di Pura Penataran Temaga. Tarian ini merupakan persembahan suci yang diwariskan turun-temurun dan diyakini sebagai simbol penyucian serta pemanggilan keseimbangan energi alam semesta.

“Tarian sakral Nyutri ditarikan ketika Ida Betara tedun mececingak atau melilacita diiringi gamelan sakral. Keindahan tarian tersebut menggambarkan suka cita dan kesejahteraan,” jelas Sumatra.

Selain spiritualitasnya, Pura Penataran Temaga juga memiliki nilai historis dan arsitektural tinggi. Beberapa bangunan masih mempertahankan bentuk asli dari batu padas dengan ukiran klasik Bali Kuno. Restorasi dilakukan secara hati-hati tanpa mengubah struktur awalnya, sehingga pura ini tetap menjadi saksi perjalanan spiritual masyarakat setempat.

“Kami berharap lembaga terkait seperti pemerintah, arkeolog, maupun akademisi dapat membantu melakukan kajian dan pendokumentasian warisan arsitektur ini, agar sejarah Pura Penataran Temaga dapat diketahui secara ilmiah,” harap Sumatra.

Bagi krama Banjar Adat Temaga, yadnya ini bukan sekadar ritual, tetapi juga simbol kebangkitan spirit ngayah yang diwariskan leluhur dan menjadi napas kebudayaan Bali sejati.

“Dari semangat inilah masyarakat Temaga kembali menyalakan bara kebersamaan, bahwa kekuatan adat hidup bukan karena bantuan besar, melainkan karena ketulusan hati yang menyatu dalam satu bakti,” pungkas Sumatra dengan nada haru.

Komentar