nusabali

Bupati Gus Par Terima Sertifikat GIAHS-FAO

  • www.nusabali.com-bupati-gus-par-terima-sertifikat-giahs-fao

AMLAPURA, NusaBali - Sertifikat sistem warisan pertanian penting global atau GIAHS (Globally Important Agricultural Heritage Systems (GIAHS) dari Food and Agriculture Organization (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa, diterima Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata, di ruang kerjanya, Jalan Ngurah Rai Amlapura, Selasa (4/11).

Sertifikat ini dijemput Penyarikan Desa Adat Sibetan, Kecamatan Bebandem I Made Mastiawan, Jumat (31/10. Mastiawan bersama Ketua Kelompok Tani Dukuh Lestari I Nengah Suparta menerima sertifikat ini dalam acara pameran di Roma, Italia. Penyerahan penghargaan  itu dilakukan dalam GIAHS Award Ceremony 2025 di Roma, Italia, oleh Deputi Direktur Jenderal FAO Godfrey Magwenzi kepada Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI, Muhammad Taufiq Ratule.

Selanjutnya diterima I Made Mastiawan dan I Nengah Suparta. Penghargaan itu untuk pertama kali diterima Indonesia  berupa sertifikat Sistem Warisan Pertanian Penting Global. Keberhasilan sistem agroforestri salak Karangasem merupakan hasil kolaborasi antara petani, lembaga adat, akademisi, pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan FAO

Karangasem dikenal sebagai sentra salak terbesar di Bali, dengan produksi mencapai 24.972 ton pada 2024. Sistem ini melibatkan sekitar 2.800 petani di Desa Adat Sibetan, yang telah menjaga lebih dari 12 varietas lokal salak secara turun-temurun.

Penyarikan Desa Adat Sibetan I Made Mastiawan melaporkan, di stan pameran di Roma, stand dari Karangasem paling banyak dikunjungi para delegasi. Karena memamerkan buah salak, menjadi aneka olahan, di antaranya diolah jadi minuman, keripik, kopi salak, dan lain-lain. "Banyak delegasi yang berkunjung mencoba, minuman buah salak dan keripik salak," katanya.

Sertifikat itu diraih, katanya, melalui proses panjang. Selain mampu melestarikan berkebun salak, mempertahankan 12 varietas, juga didukung awig-awig, tradisi, dukungan objek wisata, dan memperketat alih fungsi lahan. "Nantinya 10 tahun lagi, pihak FAO, akan mengecek di lokasi, jika lahan kebun salak berkurang 20 persen, sertifikat itu bisa dicabut," katanya.

Dalam GIAHS Award Ceremony 2025, sistem agroforestri salak Bali ditetapkan sebagai salah satu dari 28 sistem warisan pertanian baru dari 13 negara, termasuk Brasil, China, Ekuador, Iran, Italia, Jepang, Korea, Meksiko, Maroko, Spanyol, Thailand, dan Tunisia.

Bupati I Gusti Putu Parwata didampingi Sekda I Ketut Sedan Merta, Sekdis Pertanian Pangan dan Perikanan I Putu Suarjana, dan Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura I Gusti Lanang Swastika, dan Kabag Prokopim Setdakab Karangasem I Wayan Surya Edy Gautama. "Agar kualitas salak ditingkatkan sedapat mungkin agar memproduksi salak organik, dan lahannya dipertahankan," pinta Bupati I Gusti Putu Parwata. Sertifikat GIAHS itu bukan saja jadi kebanggaan masyarakat Karangasem, melainkan juga masyarakat Indonesia. @k16

Komentar