SDN Besan Gagas Inovasi Taman Hujan Sekolah
SEMARAPURA, NusaBali - SDN Besan di Desa Besan, Kecamatan Dawan, Klungkung punya cara unik memanfaatkan air hujan. Air hujan dari atap sekolah disalurkan ke dalam kolam dan dialirkan ke taman resapan.
Air hasil penampungan dimanfaatkan untuk irigasi kebun sekolah, penyiraman tanaman, serta pemeliharaan fasilitas sanitasi. Pihak sekolah cukup antusias melakukan inovasi ini. Sehingga SDN Besan menjadi salah satu sekolah yang terpilih dari tujuh sekolah dalam program Bali Water Protection (BWP) yang dijalankan oleh IDEP Selaras Alam yaitu Tirtanovasi.
Lomba Tirtanovasi diselenggarakan pada tahun 2024 untuk mendorong sekolah-sekolah di Bali berinovasi dalam upaya konservasi air. IDEP Selaras Alam merancang kegiatan ini dengan pendekatan bottom-up dan partisipatif, menjadikan sekolah bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai subyek dan agen perubahan dalam menyelesaikan masalah publik. IDEP Foundation melakukan kunjungan bersama media dan wartawan (media visit) ke sekolah-sekolah pemenang Tirtanovasi, salah satunya SDN Besan, Kamis (30/10).
Kasek SDN Besan, Wayan Yudiartana, mengatakan inovasi ini digagas untuk memberikan pembelajaran kepada anak-anak sehingga membiasakan anak-anak sejak dini punya kepedulian terhadap air. “Kami juga bisa menekan penggunaan air PDAM sehingga pembiayaan air terus dapat berkurang. Kami mencatat efisiensi penggunaan air bersih PDAM sebesar 50 persen dibandingkan sebelum proyek berjalan,” katanya. Selain siswa dan guru, kegiatan perawatan taman juga melibatkan komite sekolah dan masyarakat sekitar.
Program ini sekaligus memperkenalkan konsep konservasi air sederhana yang dapat diterapkan di rumah tangga. “Saat terjadi hujan, air yang mengalir ke sumur resapan bisa bertahan sampai tujuh hari. Jadi, sangat membantu kami untuk memenuhi kebutuhan menyiram tanaman,” ungkap Yudiartana. Seluruh inovasi itu juga minim biaya. Seluruh peralatan yang dibutuhkan hanya menghabiskan anggaran sekitar Rp 6 juta. Melihat manfaat yang besar, dia ingin sekali Taman Hujan Sekolah ini dapat diperluas dengan menampung air hujan dari gedung ruang kelas yang lain.
Menekan efek negatif dari air yang tertampung, petugas kesehatan dari Puskesmas rutin mengecek dan memberikan obat agar tidak menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk. Program Tirtanovasi mendorong perubahan perilaku dalam penggunaan air dan pengelolaan lingkungan sekolah. Seluruh inovasi yang diterapkan terbukti dapat dijalankan dengan sumber daya lokal dan biaya terjangkau. Selain dampak teknis, kegiatan ini juga meningkatkan kesadaran siswa dan guru terhadap pentingnya konservasi air serta memperkuat kolaborasi antara sekolah, komite, dan masyarakat sekitar.
Lomba ini menggunakan pendekatan bottom-up, di mana masyarakat dalam hal ini sekolah, dilihat bukan sebagai obyek penerima manfaat, melainkan sebagai subyek dan agen perubahan dalam menyelesaikan masalah publik. “Kami percaya masyarakat mampu menghasilkan inovasi dan solusi lokal dari, oleh, dan untuk masyarakat. Bukan untuk menggantikan peran negara, tetapi untuk mempercepat penyelesaian masalah dengan menunjukkan potensi inovasi berbasis masyarakat,” ujar Muchamad Awal, Direktur Eksekutif IDEP.
Dia menambahkan, tiga sekolah terpilih sebagai pemenang karena menonjol dalam kreativitas, keberlanjutan, dan relevansi dengan kondisi lokal, antara lain dari inovasi Taman MEKAR (Menjaga Kelestarian Air dan Ruang Hidup) Inovasi yang dikembangkan SD Negeri 4 Munduk, Buleleng. Taman Hujan Sekolah SD Negeri Besan di Klungkung dan inovasi Sistem Tower Ganda untuk Daur Ulang Air SMA Negeri 1 Penebel, Tabanan. 7 k24
Komentar