Profesor Dikalahkan Doktor dalam Bursa Calon Rektor UNHI, Alumni Angkat Bicara
Sae Tanju: Faktor Jaringan, Kepemimpinan, dan Figur Reformis Bisa Jadi Penentu
DENPASAR, NusaBali.com – Proses pemilihan Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar periode 2026–2030 tengah menjadi perhatian publik akademik Bali. Fenomena menarik muncul setelah hasil penyisihan tiga besar calon rektor menunjukkan bahwa calon bergelar profesor kalah dari calon bergelar doktor.
Berdasarkan hasil Rapat Pleno Panitia Seleksi (Pansel) Rektor UNHI, tiga nama yang lolos ke tahap akhir yakni Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, SE., M.Si; Dr. I Komang Gede Santhyasa, ST., MT; dan Dr. Drs. I Putu Sarjana, M.Si.
Adapun sejumlah profesor yang tidak lolos ke babak final di antaranya Prof. Dr. Ir. I Wayan Muka, ST., MT., IPU., ASEAN Eng; Prof. Dr. I Gede Putu Kawiana, SE., MM; Prof. Dr. Ir. Euis Dewi Yuliana, M.Si; dan Prof. Dr. Drs. I Wayan Winaja, M.Si.
Hasil ini menimbulkan perbincangan hangat di kalangan civitas akademika. I Ketut Sae Tanju, S.E., M.M., mantan Ketua BEM sekaligus mantan Ketua Ikatan Alumni UNHI Denpasar, menyebut fenomena ini menarik karena menunjukkan bahwa pemilihan rektor tidak lagi semata bergantung pada jabatan akademik tertinggi.
“Banyak kampus memang mensyaratkan calon rektor minimal bergelar doktor (S3) dan memiliki jabatan akademik tertentu seperti lektor kepala atau profesor. Namun dalam praktiknya, aspek manajerial, visi, jaringan, serta dukungan stakeholder sering lebih menentukan hasil akhir,” jelas Sae Tanju yang kini juga menjabat Ketua Forum Alumni KMHDI Bali, Rabu (29/10).
Menurutnya, dalam konteks UNHI Denpasar, kemungkinan besar preferensi stakeholder kampus tengah mengarah pada figur reformis dan inovatif.
“Bisa jadi para pemilih, baik senat, yayasan, maupun civitas kampus, lebih menginginkan figur baru yang membawa perubahan, bukan sekadar mempertahankan pola lama,” ujarnya.
Ia menambahkan, calon bergelar doktor yang dianggap adaptif terhadap transformasi digital, tata kelola modern, serta internasionalisasi kampus, memiliki peluang lebih besar. “Jika calon doktor dipandang sebagai agen perubahan, sementara calon profesor dianggap mewakili status quo, wajar bila suara lebih banyak mengarah pada yang doktor,” terang Sae Tanju.
Selain faktor personal dan visi, dukungan jaringan internal dan eksternal kampus juga dinilai berperan penting.
“Pemilihan rektor bukan hanya soal akademik, tapi juga kemampuan membangun komunikasi dan sinergi dengan berbagai pihak—baik fakultas, alumni, maupun mitra eksternal. Figur yang lebih aktif menjalin hubungan dan memahami politik kampus biasanya lebih unggul,” tambahnya.
Sae Tanju juga menilai setiap kampus memiliki kebutuhan yang spesifik. Dalam kasus UNHI, mungkin saat ini dibutuhkan pemimpin yang mampu memperkuat tata kelola, meningkatkan akreditasi, serta mempercepat digitalisasi dan publikasi ilmiah internasional.
“Pemenangnya bukan sekadar yang bergelar guru besar, tapi yang paling siap menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.
Ia berharap siapapun yang nantinya terpilih sebagai rektor baru, mampu membawa UNHI Denpasar menjadi kampus riset unggulan dan berdaya saing global.
“UNHI harus naik kelas, baik dari segi penelitian, reputasi akademik, maupun kualitas lulusan yang mampu bersaing di dunia internasional,” pungkas Sae Tanju.
Sementara itu, Ketua Panitia Seleksi Rektor UNHI, Prof. dr. I Wayan Wita, menegaskan bahwa seluruh tahapan seleksi sudah berjalan sesuai Anggaran Dasar dan Statuta UNHI. “Proses ini sangat transparan dan objektif. Dalam statuta juga diatur bahwa syarat minimal calon rektor adalah bergelar doktor, dengan usia maksimal 75 tahun,” jelasnya.
Ia menambahkan, seleksi dilakukan melalui metode Assessment Centre untuk menjamin objektivitas.
Proses ini dilaksanakan selama tiga hari, dari 20 hingga 22 Oktober 2025 di Aula Indraprasta, Lantai III Rektorat UNHI.
Panitia Seleksi juga menggunakan tujuh kriteria kompetensi utama sebagai dasar penilaian: nilai-nilai dan budaya (15%), visi dan strategi (15%), tridharma perguruan tinggi (15%), kepribadian dan kepemimpinan (20%), manajemen dan tata kelola (15%), jejaring dan kemitraan (10%), serta bisnis, teknologi, dan inovasi (10%). *nvi
Komentar