nusabali

BKSDA Bali Gandeng KPP Lepasliarkan Penyu dan Tukik

  • www.nusabali.com-bksda-bali-gandeng-kpp-lepasliarkan-penyu-dan-tukik

DENPASAR, NusaBali - BKSDA Bali bekerja sama dengan Kelompok Pelestari Penyu (KPP) Saba Asri melaksanakan kegiatan pelepasliaran penyu dan tukik lekang (Lepidochelys olivacea) di Pantai Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Senin (27/10).

Pelepasliaran satwa ini merupakan aksi nyata komitmen bersama pemerintah, lembaga konservasi, dan komunitas masyarakat dalam menjaga kelestarian satwa liar. 

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto) bersama anggota, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, serta para pemangku kepentingan di bidang konservasi di Bali. 

“Kehadiran Komisi IV DPR RI dalam kegiatan ini menunjukkan perhatian besar terhadap upaya konservasi satwa liar khususnya di Provinsi Bali,” ujar Kepala Balai KSDA Bali Ratna Hendratmoko. 

Kegiatan ini merupakan kegiatan konservasi rutin yang dilakukan oleh KPP di Bali. Satwa liar dilindungi jenis penyu ini merupakan hasil rescue dari KPP yang merupakan anggota dari Asosiasi Kelompok Pelestari Penyu Bali (AKPPB), mitra Kementerian Kehutanan di bawah UPT BKSDA Bali. Tukik yang dilepasliarkan merupakan hasil penetasan di KPP yang telurnya berasal dari hasil rescue di sekitar pantai di Bali. 

Adapun satwa yang dilepasliarkan sebanyak tiga ekor penyu lekang (Lepidochelys olivacea), enam ekor penyu hijau (Chelonia mydas), dan satu ekor penyu sisik (Eretmochelys imricata), serta 200 ekor tukik jenis penyu lekang.

Hendratmoko menjelaskan, penyu merupakan satwa liar dilindungi menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo UU Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. 

Berdasarkan IUCN termasuk dalam kategori Endangered (EN), sehingga perlindungan terhadap satwa ini penting mengingat populasinya yang terancam akibat perusakan habitat dan rendahnya kemampuan bertahan hidup saat usia tukik.

“BKSDA Bali berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi lintas lembaga dalam menjaga kelestarian satwa liar dan ekosistemnya, serta memastikan keberlanjutan ini sebagai bagian dari upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Bali,” tegas Hendratmoko. 

Bendesa Adat Saba I Gusti Ngurah Mahendradinata, menyampaikan KPP Saba Asri didirikan dengan tujuan menjaga kelestarian populasi penyu yang mulai terancam akibat perubahan lingkungan dan aktivitas manusia. KPP Saba Asri menjadi tempat penetasan telur penyu, pelepasan tukik, dan pusat pembelajaran bagi pelajar, wisatawan, serta masyarakat umum. 

“Harapannya agar kunjungan ini semakin mempererat sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan legislatif dalam menjaga kelestarian sumber daya alam dan hayati Indonesia,” kata Mahendradinata. 

Ketua Asosiasi Kelompok Pelestari Penyu Bali (AKPPB) Made Sukanta, mengungkapkan AKPPB terdiri dari 31 KPP dan dibina oleh Balai KSDA Bali. 

Pembentukan asosiasi ini lahir dari semangat kebersamaan dan kepedulian untuk menjaga kelestarian penyu serta ekosistem laut yang menjadi habitatnya. 

“Melalui asosiasi ini, para pegiat konservasi dapat saling berkoordinasi, bertukar pengalaman, memperkuat jaringan, serta menyatukan langkah dalam upaya pelestarian yang lebih terarah dan berkelanjutan,” ujar Sukanta dari KPP Serangan. 7 adi

Komentar