Gubernur Koster Buka Utsawa Dharma Gita 2025
Kegiatan Budaya Harus Dijadikan Prioritas
DENPASAR, NusaBali - Gubernur Bali Wayan Koster membuka Utsawa Dharma Gita (UDG) ke-32 Tahun 2025 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Centre), Denpasar, Jumat (24/10).
Gubernur terus mengingatkan pentingnya budaya bagi eksistensi Bali di masa depan.
UDG ke-32 diikuti oleh 370 peserta dari seluruh kabupaten/kota di Bali. Mengikuti 9 kategori lomba, para peserta tidak hanya usia dewasa dan pemuda tapi juga melibatkan anak-anak. Gubernur Koster sangat senang melihat antusiasme para peserta yang berparade di hari pembukaan. “Tityang lihat adik-adik semangat ikutnya,” ujar Gubernur Koster.
Dia pun menyentil Bupati Buleleng karena jumlah peserta UDG tahun ini paling sedikit di antara peserta lain. Menurutnya, setiap kegiatan budaya harus menjadi prioritas setiap bupati/walikota se-Bali. Karena tanpa budaya, Bali tidak lagi unik dan menarik. “Untuk program yang berkaitan dengan budaya, seni, agama, harus dipahami sebagai sesuatu yang amat prioritas,” jelasnya.

Salah satu pertunjukan meriahkan pembukaan UDG 2025. -IST
Melihat pentingnya budaya bagi kelangsungan Bali di masa depan, maka Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mengusung visi pembangunan Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui pola pembangunan semesta berencana dalam Bali era baru. Visi tersebut berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi, yakni Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerhi, dan Jagat Kerthi. Menurut Gubernur, panglingsir Bali telah mewariskan ajaran, budaya, adat istiadat, kearifan lokal yang begitu kaya, mulia, unik, dan unggul. Hal ini, jelasnya, harus menjadi kesadaran kolektif. Karena Bali tanpa budaya tidak akan bisa hidup. Budaya inilah yang menjadi anugerah yang membawa Bali menjadi daerah pariwisata terkenal di dunia.
“Tanpa budaya nggak ada yang tertarik sama Bali. Budaya inilah yang jadi daya tarik utama karena memiliki taksu, aura, bahkan Bali ini tenget, sakral karena upacaranya terus jalan. Kalau ini tidak kita lakukan Bali akan kehilangan auranya, taksunya. Dan, sekarang itu mulai agak menurun,” kata politisi asal Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng ini. Gubernur Koster mengajak seluruh masyarakat Bali untuk ikut merawat budaya. Dengan begitu maka Bali di masa depan akan selalu bisa survive, berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan dalam menghadapi dinamika lokal, nasional, dan global. “Adik-adik agar tetap kukuh mengikuti UDG ini, jangan pernah bosan,” pesan Gubernur Koster.
UDG 2025 mengagendakan 9 mata lomba antara lain Membaca Sloka, Membaca Palawakya, Membaca Kakawin, Kidung, Dharmawiwada, Dharmawacana Berbahasa Bali, Dharmawacana Berbahasa Inggris, Menghapal Sloka, dan Lomba Gaguritan.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Gede Arya Sugiartha menyampaikan UDG 2025 menjadi persiapan Bali menuju UDG tingkat nasional yang akan dilaksanakan pada tahun 2027 di Palu, Sulawesi Tengah. Sembilan kategori lomba yang dipertandingkan mengacu jumlah mata loma saat UDG tingkat nasional nanti. “Kita lombakan dulu di provinsi untuk menjaring yang akan dikirim mewakili Bali,” ungkapnya.
Bali adalah juara umum dalam tiga penyelenggaraan UDG nasional terakhir.
Mantan Rektor ISI Bali ini mengungkapkan, pembinaan akan terus dilakukan dari akar rumput untuk meraih target juara umum empat kali berturut-turut. Para peserta UDG 2025 sebelumnya telah dibina oleh Widya Sabha kabupaten/kota sebelum tampil mewakili wilayah masing-masing. “Potensi di daerah luar biasa. Ini pun untuk yang tampil di provinsi, Widya Sabha kabupaten/kota susah memilih karena banyak yang bagus. Karena itu kabupaten/kota kita harapkan juga rutin melakukan pembinaan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan serupa UDG,” tandas Arya Sugiartha. 7 adi
Komentar