BPBD Buleleng Siapkan Langkah Antisipasi
BMKG Prediksi Kekeringan Ekstrem
SINGARAJA, NusaBali - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, merilis peringatan dini iklim untuk wilayah Bali.
Dalam rilis tertanggal 10 Oktober 2025, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Bali akan mengalami hujan sedang hingga lebat pada 11–20 Oktober 2025. Namun kondisi berbeda justru terjadi di Kabupaten Buleleng. Hampir seluruh wilayahnya terpantau tanpa hujan antara 1 hingga 30 hari, bahkan di Kecamatan Tejakula dilaporkan tidak turun hujan selama tiga bulan terakhir.
Prediksi BMKG juga menunjukkan potensi kekeringan panjang hingga ekstrem di wilayah Buleleng bagian timur, dengan periode tanpa hujan lebih dari 60 hari. Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat Buleleng termasuk daerah dengan karakter geografis nyegara gunung (dataran tinggi dan dataran rendah) yang rentan terhadap berbagai jenis bencana alam.
Mengantisipasi hal tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng segera menggelar rapat koordinasi terpadu bersama seluruh pemangku kepentingan, baik instansi vertikal, kementerian, hingga pemerintah desa dan kelurahan, Jumat (17/10). Rapat virtual ini dipimpin langsung oleh Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, Putu Ariadi Pribadi, yang menegaskan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi.
“Buleleng memiliki potensi bencana yang sangat tinggi. Sesuai rilis BMKG, awal musim hujan baru akan terjadi pada minggu kedua Oktober di sebagian wilayah. Karena itu, penguatan kesiapsiagaan dan kesamaan langkah seluruh stakeholder sangat penting,” ujar Ariadi.
Dari hasil pemetaan risiko, terdapat sembilan jenis bencana yang berpotensi terjadi di wilayah Buleleng, yakni banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, gelombang ekstrim dan abrasi, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, tanah longsor, serta gempa bumi. Kondisi ini menuntut adanya upaya pencegahan dan mitigasi yang menyeluruh.
“Potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, kebakaran hutan, kekeringan, dan tanah longsor harus ditangani dengan langkah terpadu, terukur, dan menyeluruh. Tujuannya untuk melindungi masyarakat dari ancaman bencana,” tegas Ariadi.
Prediksi cuaca dan musim di Buleleng yang mengalami anomaly dengan sebagian besar wilayah di Bali, disebut Ariadi harus tetap diwaspadai. Selain menekan bencana akibat kekeringan, krisis air dan kebakaran hutan dan lahan, juga antisipasi menghadapi musim penghujan.
BPBD menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari mitigasi bencana. Komponen penyebab bencana hidrometeorologi tidak hanya faktor alam seperti lahan dan atmosfer, tetapi juga perilaku manusia. “Menjaga kebersihan drainase, sungai, dan pantai, serta tidak membuang sampah sembarangan adalah langkah sederhana yang berdampak besar. Gerakan Jumat Bersih dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) perlu dijadikan kebiasaan. Sehingga saat turun hujan, air dapat mengalir maksimal,” kata dia.
Putu Ariadi berharap hasil rapat koordinasi tersebut memperkuat sinergi antar instansi, sehingga mitigasi bencana di Buleleng semakin konkret dan menyentuh hingga ke tingkat masyarakat. BPBD juga mendorong agar pemerintah desa rutin melaporkan kondisi wilayah yang berpotensi mengalami bencana, menyiapkan jalur evakuasi, titik kumpul aman, serta melibatkan masyarakat dalam aksi kebersihan di saluran air dan daerah aliran sungai.7 k23
1
Komentar