Kredit dan Tabungan Masyarakat Naik di 2025
Kinerja Keuangan Bali Nusra Kuat
DENPASAR, NusaBali - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat, sektor keuangan di wilayah Bali dan Nusa Tenggara tetap stabil dan tumbuh positif hingga Agustus 2025.
Kepala OJK Provinsi Bali, Kristrianti Puji Rahayu, mengatakan industri jasa keuangan termasuk perbankan, lembaga pembiayaan, dan pasar modal menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah kondisi ekonomi global yang masih bergejolak.
“Kantor OJK Provinsi Bali menyatakan kinerja Industri Jasa Keuangan (IJK) di wilayah Bali dan Nusa Tenggara posisi Agustus 2025 tetap resilien dan terjaga stabil tercermin dari fungsi intermediasi berjalan baik, serta likuiditas dan permodalan perbankan berada pada level yang memadai,” ujar Kristrianti dalam keterangannya, Senin (13/10).
Berdasarkan data OJK, total kredit yang disalurkan oleh bank umum dan BPR di wilayah Bali dan Nusa Tenggara mencapai Rp 241,52 triliun, tumbuh 6,89 persen dibandingkan tahun lalu.
Sebagian besar atau sekitar 58 persen dari total kredit itu disalurkan untuk kegiatan produktif, seperti modal kerja dan investasi. Artinya, dana pinjaman banyak dipakai untuk kegiatan usaha, bukan hanya konsumsi pribadi.
Menariknya, pertumbuhan kredit investasi naik cukup tinggi 27,22 persen secara tahunan menandakan semakin banyak pelaku usaha yang percaya pada prospek ekonomi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara. Dari sisi sektor, penyaluran kredit masih didominasi oleh sektor non-usaha (seperti konsumsi rumah tangga) dan perdagangan besar dan eceran.
Untuk rincian wilayah, di Bali pertumbuhan tertinggi datang dari sektor non-usaha dengan kenaikan Rp 1,92 triliun. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), sektor pertambangan dan penggalian melonjak 37,37 persen, sementara di Nusa Tenggara Timur (NTT) peningkatan terbesar juga berasal dari sektor non-usaha dengan kenaikan Rp 1,73 triliun.
Dari total penyaluran kredit, sekitar 41,6 persen diberikan kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Meski pertumbuhannya hanya naik 1,1 persen dibandingkan tahun lalu, porsi ini menunjukkan keberpihakan perbankan terhadap sektor riil dan pelaku usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Seiring dengan penyaluran kredit, penghimpunan dana masyarakat juga meningkat. Dana Pihak Ketiga (DPK) per Agustus 2025 mencapai Rp 297,25 triliun atau tumbuh 7,88 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu terutama ditopang oleh kenaikan tabungan sebesar Rp 11,58 triliun dan deposito sebesar Rp 8,97 triliun.
“Fungsi intermediasi yang tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) posisi Agustus 2025 sebesar 81,25 persen, sedikit melandai dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 82,01 persen,” papar Kristrianti.
Secara umum, rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) berada di angka 81,25 persen, menunjukkan perbankan masih punya ruang cukup untuk menyalurkan kredit baru. Di sisi lain, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) masih aman di level 3,12 persen, jauh di bawah ambang batas 5 persen. tr
Komentar