Sukar Awasi Area Tepi Jalan, Sangeh Monkey Forest Pasang Peringatan Jangan Sentuh Satwa
Alas Pala Sangeh
Sangeh Monkey Forest
HPR
Rabies
Daya Tarik Wisata
DTW
Monyet
Gigitan Monyet
Kera Ekor Panjang
Sangeh
MANGUPURA, NusaBali.com – Pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Alas Pala Sangeh Monkey Forest memasang sejumlah papan peringatan di sisi timur area hutan pala yang berbatasan langsung dengan tepi ruas Jalan Raya Denpasar–Petang, Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung.
Papan peringatan berwarna hijau tersebut bertuliskan kalimat larangan berbahasa Inggris yang berbunyi ‘Please Don't Touch the Monkey’ serta ditambahkan keterangan berbahasa Indonesia yakni ‘Dilarang Menyentuh Monyet.’ Papan peringatan ini berdiri menghadap trotoar dan jalan raya di depannya.
Ketua Pengelola DTW Alas Pala Sangeh IB Gede Pujawan menuturkan sisi timur destinasi dengan atraksi satwa kera ekor panjang berhabitat di hutan pala seluas 14 hektare ini memang sukar diawasi. Sebab, area itu berbatasan langsung dengan jalan umum sehingga sukar dipantau apabila ada wisatawan singgah tanpa masuk via gerbang wisata.
“Sign board itu sebagai antisipasi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan karena seperti kita ketahui satwa monyet itu liar, di mana pun di Sangeh, di Uluwatu, satwa itu tidak boleh disentuh,” beber Pujawan ketika ditemui NusaBali.com di sela Indonesia Tourism Marketing Week di Sanur, Denpasar, Sabtu (11/10/2025).
Lanjut Pujawan, setiap wisatawan yang mengunjungi Sangeh Monkey Forest—terutama yang masuk ke area hutan—selalu diperingatkan oleh staf yang bertugas agar tidak menyentuh monyet. Nah, hal ini sukar dilakukan jika aktivitas wisatawan itu berlangsung di luar pagar khususnya di tepi jalan umum.
Meski sudah dilakukan berbagai upaya untuk menjaga keamanan wisatawan selama berwisata, selalu saja ada yang tidak terawasi maupun wisatawan sendiri yang bandel. Sangeh Monkey Forest mencatat lebih dari 20 kasus kontak wisatawan dengan satwa yang tergolong Hewan Penular Rabies (HPR) ini sepanjang Januari–September 2025.
Kontak antara satwa monyet dan wisatawan biasanya berupa cakaran sampai gigitan. Dari 20-an kasus sepanjang tahun 2025 ini, kata Pujawan, rata-rata merupakan kasus ringan seperti cakaran. Jika ada kasus berat seperti gigitan dan apalagi gigitan itu terjadi di area leher ke atas maka wisatawan segera dilarikan ke Rabies Center.
“Syukur kami didukung Dinas Kesehatan Kabupaten Badung. Jadi, setiap tamu yang terkena cakaran maupun gigitan, kami larikan ke Rabies Center terdekat untuk mendapat Vaksin Anti Rabies (VAR) maupun serum secara gratis,” ungkap Pujawan.
Pengelola Alas Pala Sangeh memastikan setiap wisatawan yang masuk ke objek wisata dan mengalami kontak dengan satwa dijamin penanganan kedaruratannya secara gratis tanpa biaya berpuluh juta rupiah. Jaminan layanan gratis ini tidak terkecuali bagi wisatawan berkewarganegaraan asing.
Sementara itu, populasi kera abu-abu ekor panjang atau Macaca fascicularis ini diperkirakan lebih dari 700 ekor dan terbagi dalam tiga kelompok teritorial. Pujawan konsisten mendorong agar institusi terkait berperan aktif mengontrol populasi kera serta memeriksa kesehatan satwa secara berkala. *rat
Ketua Pengelola DTW Alas Pala Sangeh IB Gede Pujawan menuturkan sisi timur destinasi dengan atraksi satwa kera ekor panjang berhabitat di hutan pala seluas 14 hektare ini memang sukar diawasi. Sebab, area itu berbatasan langsung dengan jalan umum sehingga sukar dipantau apabila ada wisatawan singgah tanpa masuk via gerbang wisata.
“Sign board itu sebagai antisipasi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan karena seperti kita ketahui satwa monyet itu liar, di mana pun di Sangeh, di Uluwatu, satwa itu tidak boleh disentuh,” beber Pujawan ketika ditemui NusaBali.com di sela Indonesia Tourism Marketing Week di Sanur, Denpasar, Sabtu (11/10/2025).
Lanjut Pujawan, setiap wisatawan yang mengunjungi Sangeh Monkey Forest—terutama yang masuk ke area hutan—selalu diperingatkan oleh staf yang bertugas agar tidak menyentuh monyet. Nah, hal ini sukar dilakukan jika aktivitas wisatawan itu berlangsung di luar pagar khususnya di tepi jalan umum.
Meski sudah dilakukan berbagai upaya untuk menjaga keamanan wisatawan selama berwisata, selalu saja ada yang tidak terawasi maupun wisatawan sendiri yang bandel. Sangeh Monkey Forest mencatat lebih dari 20 kasus kontak wisatawan dengan satwa yang tergolong Hewan Penular Rabies (HPR) ini sepanjang Januari–September 2025.
Kontak antara satwa monyet dan wisatawan biasanya berupa cakaran sampai gigitan. Dari 20-an kasus sepanjang tahun 2025 ini, kata Pujawan, rata-rata merupakan kasus ringan seperti cakaran. Jika ada kasus berat seperti gigitan dan apalagi gigitan itu terjadi di area leher ke atas maka wisatawan segera dilarikan ke Rabies Center.
“Syukur kami didukung Dinas Kesehatan Kabupaten Badung. Jadi, setiap tamu yang terkena cakaran maupun gigitan, kami larikan ke Rabies Center terdekat untuk mendapat Vaksin Anti Rabies (VAR) maupun serum secara gratis,” ungkap Pujawan.
Pengelola Alas Pala Sangeh memastikan setiap wisatawan yang masuk ke objek wisata dan mengalami kontak dengan satwa dijamin penanganan kedaruratannya secara gratis tanpa biaya berpuluh juta rupiah. Jaminan layanan gratis ini tidak terkecuali bagi wisatawan berkewarganegaraan asing.
Sementara itu, populasi kera abu-abu ekor panjang atau Macaca fascicularis ini diperkirakan lebih dari 700 ekor dan terbagi dalam tiga kelompok teritorial. Pujawan konsisten mendorong agar institusi terkait berperan aktif mengontrol populasi kera serta memeriksa kesehatan satwa secara berkala. *rat
Komentar