Terkendala Lahan Investor Asing, Perbaikan Pura Dalem Dawan Tertunda
SEMARAPURA, NusaBali - Rencana perbaikan Pura Dalem Desa Adat Dawan, Kecamatan Dawan, Klungkung pascabencana banjir September lalu belum bisa direalisasikan tahun ini.
Pemerintah Kabupaten Klungkung sudah menyiapkan anggaran melalui dana Belanja Tidak Terduga (BTT), namun pelaksanaan proyek terpaksa ditunda. Kendalanya, lahan yang dibutuhkan untuk pelebaran sungai dimiliki investor asing.
Banjir yang terjadi pertengahan September lalu menyebabkan aliran sungai di sekitar Pura Dalem Dawan meluap dan menggerus tanggul di sisi barat pura. Sejumlah palinggih rusak, tembok panyengker roboh, dan akses jalan menuju pura tertutup longsoran tanah serta batu. Akibatnya, pelaksanaan kegiatan keagamaan sempat terhenti. Warga bergotong-royong membersihkan area pura agar bisa difungsikan kembali walau sifatnya sementara.
Kepala Pelaksana BPBD Klungkung Putu Widiada mengatakan, saat meninjau lokasi Bupati Klungkung langsung memberikan arahan agar penanganan segera dilakukan dan pasang anggaran. “Kami langsung menggelar rakortas, hasilnya disepakati penggunaan dana BTT untuk penanganan keadaan mendesak di Pura Dalem Dawan,” jelas Widiada, Jumat (10/10). Setelah anggaran disiapkan, BPBD meminta Prajuru Desa Adat Dawan sosialisasi dan mengajukan permohonan penggunaan lahan di sekitar pura.
Namun, Dinas PUPRPKP Klungkung memiliki keterbatasan waktu dalam pelaksanaan pembangunan fisik dengan nilai anggaran di atas Rp 400 juta. “Sampai pertengahan Oktober ini belum ada kepastian, sehingga kegiatan perbaikan ditunda. Kami sudah laporkan kepada Bapak Bupati untuk dapat dipasang kembali pada tahun anggaran 2026,” ujar Widiada.
Bendesa Adat Dawan, Ida Bagus Gede Mahendra, mengatakan koordinasi dengan pemilik lahan masih terkendala karena sulit dihubungi. “Pemilik lahan baru ada di Bali pada tanggal 10 sampai 14 Oktober ini. Dinas PUPRPKP mensyaratkan minggu ini harus sudah ada keputusan, tetapi kami belum bisa menjangkau langsung,” ungkap Ida Bagus Mahendra.
Dia menambahkan, lahan di sekitar alur sungai telah berpindah tangan hingga tiga kali dan kini dikuasai investor asing yang berencana membangun resort. “Informasinya, lahan itu mau dijual lagi,” ujarnya. Menurut hasil perhitungan teknis Dinas PUPRPKP, lebar ideal sungai di lokasi itu seharusnya delapan meter, kondisi sekarang hanya sekitar empat meter. Debit air yang besar saat hujan membuat aliran mudah tersumbat dan rawan meluap ke area pura. “Semoga nanti pemilik lahan bisa melunak. Kami masih berharap bisa terealisasi tahun ini, minimal November. Kalau tidak, mau tak mau ditunda tahun depan,” ungkap Mahendra. 7 k24
Komentar