Siswa SMP Diduga Dianiaya Oknum Kaling
Korban Dikira Anggota Kelompok yang Sering Trek-trekan
NEGARA, NusaBali - Seorang siswa kelas II SMP berinisial IPOM,14, diduga menjadi korban penganiayaan oleh seorang oknum Kepala Lingkungan (Kaling) dari Kelurahan Dauhwaru, Kecamatan/Kabupaten Jembrana.
Peristiwa kekerasan fisik itu terjadi pada, Sabtu (27/9) malam sekitar pukul 21.00 Wita, dipicu tuduhan sepihak bahwa korban melakukan trek-trekan atau balap liar. Pihak keluarga yang tidak terima telah melaporkan kasus ini ke Polres Jembrana.
IPOM saat ditemui, Rabu (1/10) sore, menceritakan bahwa saat malam Minggu itu, ia yang membonceng temannya, MA,13, menggunakan sepeda motor Honda Supra milik kakeknya, awalnya berniat menonton pertandingan voli di GOR Kresna Jvara, Kelurahan Dauhwaru. Karena tidak ada pertandingan, keduanya memutuskan pulang.
Namun, saat perjalanan pulang, tepatnya di depan gudang kayu sebelah selatan Setra Desa Adat Batuagung, Desa Batuagung, korban yang datang dari arah timur langsung dicegat oleh pelaku yang datang dari arah berlawanan. "Pas dicegat itu tangan saya langsung dipegang, ditanya ke mana tadi kamu? Saya bilang habis dari GOR dan saya langsung dituduh habis trek-trekan. Dia terus bilang trek-trekan kamu tadi, saya bilang tidak ada, tapi terus dipaksa bilang trek-trekan," ujar korban.
Karena ketakutan, IPOM berinisiatif mencabut kunci motor. Saat itulah IPOM mengaku tiba-tiba dipukul di bagian dadanya hingga terjatuh. IPOM lalu lari ke selatan mencari perlindungan di salah satu toko busana adat. Namun, pelaku tetap mengejarnya masuk ke dalam toko. "Di sana saya dijambak berkali-kali dan dipaksa keluar. Terus di depan toko itu saya diancam. Dia bilang kamu jangan banyak bicara ya, saya bunuh kamu," kata IPOM.
Setelah kejadian itu, kata IPOM, pelaku mencabut kabel motor korban dan ia disuruh mendorong motornya menuju GOR. Beruntung saat di depan sebuah toko bangunan yang tidak jauh dari lokasi kejadian, IPOM yang melihat pelaku lengah, berinisiatif menelepon sang nenek, GAPA,54, yang kemudian berhasil menolongnya.
Nenek korban, GAPA, menuturkan bahwa ketika ia tiba di lokasi, cucunya sudah menangis dan mengeluh kesakitan di bagian dadanya. Saat ditanya oleh nenek korban, sang oknum Kaling berinisial IKWP alias Brt tersebut bersikukuh tidak ada melakukan apapun dan menuduh cucunya telah ikut trek-trekan. Saat itu, GAPA pun mengaku sempat membantah tuduhan tersebut. Apalagi motor yang dibawa cucunya adalah motor tua yang tidak memungkinkan untuk trek-trekan. "Sampat berdebat dan dia (sang oknum Kaling) tetap tidak mengaku menyakiti cucu saya. Padahal teman yang diajak cucu saya sudah jelas bilang kalau sempat dipukul," ucap GAPA.
Setelah banyak orang datang, GAPA langsung ngajak cucunya ke rumah sakit. Sang oknum Kaling itu pun dinyatakan sempat menyusul ke rumah sakit dan tetap tidak mengakui tindakannya. "Besoknya saya sama anak saya (ibu korban) berinisiatif meminta rekaman CCTV di toko tempat cucu sempat masuk. Setelah dapat rekaman CCTV itu baru dia mengaku dan terus minta maaf," tambah GAPA.
Meski pemeriksaan medis di rumah sakit menyatakan korban tidak mengalami luka serius, IPOM mengaku masih mengeluhkan sakit di dadanya. Selain itu, ia juga mengalami beberapa bekas luka lecet karena sempat jatuh ke semak-semak. Keluarga juga menyatakan IPOM kini mengalami trauma dan ketakutan setiap kali melihat orang baru.
Atas dasar bukti CCTV dan kondisi korban yang trauma, orang tua korban yang tidak terima dengan tindakan sewenang-wenang oknum Kaling tersebut akhirnya memutuskan melaporkan kasus ini ke Polres Jembrana. "Kami tetap tidak terima. Kami harap dia diproses," tegas GAPA. Secara terpisah, sang oknum Kaling IKWP yang sempat dikonfirmasi mengakui kejadian tersebut. Ia berdalih tindakannya itu murni karena kesalahpahaman. Ia mengira IPOM adalah bagian dari kelompok pelaku trek-trekan yang selama ini kerap meresahkan masyarakat di seputaran GOR.
"Saya akui saya salah. Musibah yang saya alami ini bagian dari tiang (saya) kemarin itu melakukan langkah bagaimana kerumunan yang pada akhirnya sering terjadi trek-trekan. Sehingga saya berusaha melakukan langkah-langkah. Cuman kemarin itu reflek kejadiannya dan tiang memang salah," ujar IKWP. IKWP pun sempat memohon agar permasalahannya tidak dinaikan ke media dan menyatakan masih terus melakukan upaya mediasi. Sebelumnya, ia pun mengaku telah berupaya datang ke rumah korban untuk meminta maaf kepada keluarga, namun permintaan maafnya belum diterima karena menduga pihak keluarga masih dalam kondisi emosi.
"Yang jelas tiang akui memang tiang salah. Tiang berharap keluarga bisa memaafkan. Dan sampai saat ini saya tetap lakukan langkah-langkah agar bisa dimediasi dan dimaafkan atas kesalahan saya," ucap IKWP. Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Jembrana AKP Made Suharta Wijaya saat dikonfirmasi membenarkan adanya laporan kasus dugaan penganiayaan tersebut. Namun, ia mengaku belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut karena masih dalam proses penyelidikan. "Masih proses lidik," ujarnya. 7 ode
Komentar