nusabali

Simposium ASSA-IOSSMA di Bali Wujudkan Terobosan Penanganan Cedera Olahraga

  • www.nusabali.com-simposium-assa-iossma-di-bali-wujudkan-terobosan-penanganan-cedera-olahraga

DENPASAR, NusaBali.com – Ratusan ahli kedokteran olahraga dari ASEAN dan berbagai negara dunia berkumpul di The Meru Sanur Hotel, Bali, dalam simposium gabungan simposium gabungan 13th Annual Meeting of the ASEAN Society for Sports Medicine and Arthroscopy (ASSA) dengan 5th Congress dan 13th Annual Meeting of the Indonesian Orthopaedic Society for Sports Medicine and Arthroscopy (IOSSMA).

Acara yang berlangsung 28–30 Agustus 2025 ini mengangkat tema “Capturing the Future in Sports Injury through Collaborative Innovation”, dengan tujuan memperkuat kolaborasi regional dalam penanganan cedera olahraga.

Forum internasional ini diikuti 367 peserta, menghadirkan 41 pembicara internasional dan 41 pakar lokal. Tidak hanya dari Indonesia dan ASEAN, partisipan juga datang dari Korea, Jepang, Amerika Serikat, Kanada, hingga Australia. 

Ketua Panitia Penyelenggara, dr Wayan Murjana, mengatakan simposium kali ini lebih besar dibanding sebelumnya karena cakupan peserta yang semakin luas. “Ini acara rutin tahunan. Bedanya, kali ini melibatkan banyak negara luar ASEAN. Ada Korea, Jepang, Amerika, Kanada, Australia,” ujarnya di sela kegiatan, Kamis (28/8).

Menurutnya, inti simposium adalah berbagi inovasi dalam bidang orthopedic sport injury. “Ada teknologi-teknologi baru yang saat ini sedang dikembangkan. Dengan forum ini kita bisa belajar bersama dan mengembangkannya di Indonesia,” jelas Murjana. 

Salah satu inovasi yang disorot adalah arthroscopic surgery, teknik operasi minimal invasif yang hanya menimbulkan luka kecil, dengan risiko infeksi dan perdarahan rendah, serta pemulihan pasien lebih cepat.

dr Febry Siswanto (tengah) bersama dr Wayan Murjana (kanan) dan dr Komang Mahendra Laksana (kiri). 

dr Komang Mahendra Laksana, selaku Vice Chairman, menyoroti tren meningkatnya cedera olahraga di Indonesia pascapandemi. “Sekarang olahraga seperti lari dan pedal sedang tren, tapi di sisi lain kasus cedera juga meningkat. Banyak terjadi cedera pergelangan tangan, bahu, hingga lutut,” terangnya.

Momen penting dalam simposium kali ini adalah terpilihnya dr I Gusti Made Febry Siswanto, Sp.OT, sebagai Presiden ASSA periode 2025–2028. Ia melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan organisasi kedokteran olahraga tingkat ASEAN itu, menyusul rekannya sesama putra Bali, dr IGN Wien Aryana, yang saat ini juga menjadi Presiden IOSSMA. 

“Setiap negara punya keahlian dan perkembangan berbeda. Dengan forum ini kita bisa berbagi dan membantu negara lain agar levelnya setara. Harapannya, pasien di Indonesia tidak perlu lagi mencari pengobatan ke luar negeri,” kata Febry.

Selain membahas inovasi teknik operasi dan proses pemulihan cedera seperti ACL (anterior cruciate ligament) yang idealnya bisa kembali bermain dalam 6–7 bulan jika ditangani benar, forum ini juga mengingatkan bahwa cedera adalah bagian tak terpisahkan dari aktivitas olahraga. “Cedera itu bukan akhir segalanya. Indonesia sudah punya ahli di berbagai daerah yang siap menangani cedera secara komprehensif,” lanjut dokter Timnas Sepak Bola Indonesia ini.

Saat ini, IOSSMA memiliki 78 anggota bersertifikat secara nasional, dengan lima di antaranya berada di Bali. Lewat forum ini, Indonesia juga membuka program pelatihan bagi negara ASEAN, demi menyatukan standar keilmuan dan layanan kedokteran olahraga di kawasan.

Dengan digelarnya ASSA-IOSSMA 2025 di Bali, Indonesia diharapkan semakin diakui sebagai pusat inovasi kedokteran olahraga regional, sekaligus memperkuat jejaring ilmiah yang bermanfaat bagi kesehatan atlet maupun masyarakat umum.

Komentar