REI Bali: Penurunan Suku Bunga Genjot Permintaan Rumah
Ketersediaan rumah di Bali yang sedang dikerjakan oleh para pengembang anggota asosiasi sekitar 2.500 unit, baik untuk segmentasi rumah komersial dan rumah subsidi.
DENPASAR, NusaBali
Dewan Pimpinan Daerah Real Estat Indonesia (DPD REI) Bali menilai penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 5 persen dapat menggenjot permintaan rumah. REI DPD Bali menyebut penjualan rumah berpotensi naik 5-10.
“Dengan penurunan suku bunga itu penjualan rumah berpotensi naik 5-10 persen,” kata Ketua DPD REI Bali Anak Agung Darma Setiawan di Denpasar, Jumat (22/8).
Menurut dia, relaksasi fiskal tersebut akan mendorong masyarakat untuk mengakses fasilitas pembiayaan melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di perbankan. Dengan demikian, dia pun mengharapkan pelonggaran suku bunga acuan bank sentral tersebut mendorong daya beli konsumen ekonomi menengah termasuk keluarga baru/milenial.
Selain itu, kemampuan para pengembang untuk memperluas proyek perumahan dan pangsa pasar juga berpotensi dilakukan dengan penurunan suku bunga tersebut. “Akan bertambah pembangunan rumah dari para pengembang,” ucapnya.
Saat ini, lanjut dia, ketersediaan rumah di Bali yang sedang dikerjakan oleh para pengembang anggota asosiasi itu sekitar 2.500 unit, baik untuk segmentasi rumah komersial dan rumah subsidi. Untuk komersial, lanjut dia, tersebar di Kota Denpasar, Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Badung dengan kisaran harga bervariasi hingga Rp 2 miliar per unit, termasuk vila dengan kisaran harga Rp 5-6 miliar, menyesuaikan luas lahan dan bangunan.
Sedangkan rumah subsidi dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tersebar di Kabupaten Buleleng, Kabupaten Karangasem hingga Kabupaten Jembrana dengan harga sekitar Rp 185 juta.
Relaksasi suku bunga acuan itu juga diharapkan menambah kapasitas konsumen untuk memiliki hunian karena kebutuhan rumah diperkirakan masih tinggi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2023 mencatat kesenjangan angka kebutuhan rumah (backlog) kepemilikan rumah pada 2023 diperkirakan mencapai 9,9 juta.
Sebelumnya, BI memangkas suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) sehingga berada pada level 5,00 persen. BI mencatat pada Juli 2025, suku bunga kredit tercatat sebesar 9,16 persen masih relatif sama dengan bulan sebelumnya.
BI memandang suku bunga kredit perbankan perlu terus menurun, sehingga dapat mendorong peningkatan penyaluran kredit/pembiayaan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, REI Bali juga melakukan digitalisasi pemasaran guna menggenjot penetrasi pasar hunian, mencermati geliat ekonomi daerah yang tumbuh positif mencapai 5,78 persen hingga semester I-2025. “Ini akan menjembatani pengembang dengan konsumen terkait kebutuhan properti yang sehat, legal dan mudah diakses,” katanya.
Konsumen, katanya, dapat mengakses laman reibali.com yang menampilkan detail hunian, dilengkapi nama pengembang, lokasi, hingga harga dan dapat langsung terhubung dengan pengembang melalui pesan berbasis aplikasi.
Selain itu, ada juga simulasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) apabila membeli rumah dengan skema cicilan perbankan.
Sebelumnya REI Bali sudah memiliki laman digital, namun belum terkelola maksimal. Makanya, saat ini diaktifkan kembali dengan menggandeng situs daring jual beli properti tanah air yakni rumah123.com.
Sementara itu, CEO rumah123, Wasudewan, mengatakan saat ini lalu lintas kunjungan daring mencapai sekitar 11-12 juta per bulan. Hampir 95 persen kunjungan berasal dari wilayah Indonesia, namun terkonsentrasi di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) serta Jawa Barat.
Dia optimistis dengan ekspansi di Bali sangat potensial, mengingat Bali sebagai daerah tujuan wisata. “Bali potensinya luar biasa dengan proyek perumahan yang luas dan bisa menangkap semua segmen,” ujar dia. 7 ant
Komentar