nusabali

Usai Renovasi Besar-besaran Telan Biaya Rp 3,4 Miliar

Kelenteng Ling Gwan Kiong Diresmikan Kembali

  • www.nusabali.com-usai-renovasi-besar-besaran-telan-biaya-rp-34-miliar

SINGARAJA, NusaBali - Tempat Ibadah Tridharma (TI Td) Ling Gwan Kiong yang berada di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng resmi difungsikan kembali usai menjalani renovasi besar-besaran.

Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna, Jumat (8/8), ditandai dengan pemotongan pita.

Ketua Pengurus TI Td Ling Gwan Kiong, Wirasanjaya, menjelaskan bahwa renovasi ini merupakan yang kedua sejak kelenteng berdiri pada tahun 1873. Renovasi pertama tempat ibadah yang terletak di Jalan Erlangga ini dilakukan pada 1972. Sementara renovasi terbaru dimulai pada 27 Maret 2024 dan berlangsung selama setahun lebih.

“Renovasi kali ini hampir menyeluruh, sekitar 90 persen dari struktur bangunan diperbarui. Hanya temboknya saja yang masih dipakai, selebihnya seperti atap, kap, hingga pilar diganti semua,” jelas Wirasanjaya usai peresmian. 

Ia menegaskan restorasi kelenteng ini tetap menghormati nilai sejarah yang terkandung. Meski hampir seluruhnya dipugar, renovasi tersebut juga tak mengubah bentuk bangunan asli. Pilar-pilar utama klenteng yang sebelumnya sudah rapuh karena dimakan rayap diganti menggunakan kayu merbau dari Irian Jaya. 

Unsur kayu dipilih karena memiliki makna filosofis tersendiri dalam kepercayaan Tridharma, di mana unsur alam seperti kayu dan logam menjadi bagian penting dari keseimbangan spiritual. Tak hanya struktur utama, berbagai ornamen dan ukiran juga turut direstorasi. Beberapa ornamen Bali yang khas dipertahankan dan dikembalikan seperti semula. 

“Itu tidak baru, tapi direstorasi. Ada yang rusak karena usia, kami buat replikanya persis seperti aslinya. Termasuk angin-anginan dari era Belanda yang warnanya hitam itu, kami buat ulang,” beber Wirasanjaya.

Satu hal yang menarik dari renovasi kelenteng ini adalah digitalisasi lukisan dinding bergaya cerita klasik Samkok (Tiga Negara) yang berada di bangunan altar. Dahulu lukisan ini digambar langsung di tembok, namun kini direproduksi dalam bentuk keramik dengan teknologi digital printing.

“Karena kami sudah punya data digitalnya dari umat, jadi kami gambar ulang lewat komputer. Jika suatu saat rusak, tinggal dicetak lagi,” lanjutnya. 

Wirasanjaya mengungkapkan, renovasi tersebut menghabiskan dana sebesar Rp3,4 miliar. Dari total biaya tersebut, sekitar 12 persen berasal dari kas internal klenteng, sedangkan 88 persen sisanya dikumpulkan melalui donasi umat, baik dari Buleleng maupun yang ada di perantauan.

Setelah peresmian ini, pengurus klenteng akan melanjutkan perbaikan ke bagian aula barat yang masih memerlukan penanganan. Diharapkan, keberadaan Klenteng Ling Gwan Kiong yang telah berdiri selama lebih dari 150 tahun ini terus menjadi simbol spiritual, budaya, dan kemajemukan di Buleleng.

Ia menyebutkan, renovasi dilakukan sebagai bentuk sinergi dengan upaya pemerintah menghidupkan kembali kawasan Pelabuhan Tua Buleleng sebagai destinasi bersejarah. “Kami mendukung program pemerintah membangkitkan kembali pelabuhan yang bersejarah ini,” tutupnya.7 mzk

Komentar