Festival Desa Penglipuran 2025 Dibuka, Usung Harmoni dan Pariwisata Berkelanjutan
BANGLI, NusaBali.com - Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli resmi membuka Festival Desa Penglipuran XII Tahun 2025 pada Kamis (10/7/2025). Perhelatan budaya tahunan ini akan berlangsung selama tiga hari hingga 12 Juli mendatang, mengusung tema “Samskerti Bhumi Jana: Harmoni Menuju Pariwisata Berkelanjutan dan Inklusif”.
Kepala Pengelola Desa Wisata Penglipuran, Wayan Sumiarsa, mengatakan tema tersebut dipilih untuk menegaskan komitmen desa dalam mewujudkan pariwisata yang tidak hanya lestari secara ekologis, tetapi juga adil dan merangkul semua lapisan masyarakat.
“Festival ini adalah bentuk syukur atas berkah yang diberikan, sekaligus ajakan tulus kepada dunia untuk bersama-sama melestarikan warisan leluhur demi generasi mendatang,” ujarnya, Kamis.
Festival Desa Penglipuran bukan sekadar ajang pameran seni dan budaya, tetapi juga implementasi filosofi Tri Hita Karana yang menekankan harmoni antara manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan. Tahun ini, festival dirancang sebagai ruang edukasi, apresiasi seni, dan promosi pariwisata berbasis masyarakat yang ramah lingkungan.
Hari Pertama: Harmoni Alam dan Spiritualitas
Hari pembukaan Kamis (10/7) diawali dengan Lomba Gebogan di Pewaregan Pura Penataran, menampilkan keindahan persembahan buah dan bunga khas Bali yang disusun menjulang. Opening Ceremony di Jabe Pura Penataran menampilkan Tari Legong Mesatya, Kolosal Tari Gabor, dan Parade Gebogan.
Kegiatan ini melibatkan ratusan peserta, termasuk siswi SMP di Bangli, seniman lokal, desa-desa tetangga, serta mengundang pejabat Kementerian Pariwisata, Kementerian Lingkungan Hidup, Pemprov Bali, dan Pemkab Bangli.
Pada sore hari digelar Penilaian Penjor di Tugu Pahlawan, menilai kreativitas dan makna spiritual hiasan bambu melengkung yang menjadi simbol menyambut Galungan. Malam harinya dilanjutkan Pengumuman Juara Penjor dan Hiburan Budaya Bali.
Hari Kedua: Kreativitas dan Edukasi Komunitas
Jumat (11/7) festival berfokus pada kegiatan edukatif dan kreatif. Anak-anak diajak mengikuti Lomba Mewarnai di Tugu Pahlawan untuk mengenal budaya Bali sejak dini. Di sepanjang hari juga ditampilkan berbagai seni pertunjukan dan musik lokal, ditutup dengan Hiburan Budaya Bali pada malam harinya.
Hari Ketiga: Pelestarian Seni dan Apresiasi Budaya
Sabtu (12/7) menjadi puncak perayaan dengan Lomba Tari Barong Macan di Pasar Pelipurlara. Pertunjukan ini menampilkan gerakan energik dan kostum khas dalam narasi mitologi Bali. Festival juga menghadirkan stan UMKM kuliner dan kerajinan, memberi manfaat ekonomi langsung bagi warga setempat.
Penutupan di Tugu Pahlawan diisi dengan Hiburan Musik Lokal, menghadirkan suasana akrab dan meriah.

Warga mengusung gebogan berkeliling desa saat pembukaan Penglipuran Village Festival 2025 di Desa Wisata Penglipuran, Bangli, Bali, Kamis (10/7/2025). -ANTARA
Menurut Wayan Sumiarsa, festival ini juga menjadi media promosi Desa Wisata Penglipuran, wadah untuk meningkatkan kompetensi pariwisata masyarakat, serta bentuk syukur kolektif warga.
“Kami mengundang semua wisatawan domestik dan mancanegara untuk datang dan merasakan harmoni Desa Penglipuran. Mari kita jaga bersama kelestarian seni, budaya, dan lingkungan demi warisan berharga bagi masa depan,” ajaknya.
Destinasi Desa Terbersih di Dunia
Desa Penglipuran dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia. Pada 2024, jumlah kunjungannya mencapai lebih dari 1 juta orang, atau rata-rata 2.652 pengunjung per hari. Pada 2023, Penglipuran dinobatkan sebagai One of The Best Tourism Villages in The World oleh UNWTO.
Dengan tata ruang tradisional yang tertata rapi, arsitektur adat yang otentik, serta komitmen terhadap filosofi Tri Hita Karana, desa ini menjadi model pariwisata berkelanjutan berbasis masyarakat. Festival tahunan seperti ini menjadi salah satu wujud nyata upaya melestarikan nilai budaya sekaligus memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata unggulan di Bali.
Komentar