nusabali

Dipuput 13 Sulinggih, Wawalungan 3 Kerbau

Tawur Panca Wali Krama di Pura Gunung Lebah Ubud

  • www.nusabali.com-dipuput-13-sulinggih-wawalungan-3-kerbau

GIANYAR, NusaBali - Puri AgungUbud bersama Desa Adat Ubud, Gianyar, menyelenggarakan Karya Padudusan Agung, Mapeselang Tawur Panca Wali Krama, lan Mapadanan di Pura Parahyangan Jagat Payogan Agung Gunung Lebah Tjampuhan Ubud. Tawur Panca Wali Krama digelar pada Sukra Kliwon Watugunung, Jumat (7/2), dipuput 13 sulinggih.

Sulinggih dimaksud, antara lain, Ida Pedanda Tegal Jingga, Ida Pedanda Buda Keling, Ida Rsi Bujangga Angkling, Ida Pedanda Selat Duda, Ida Pedanda Wana Yoga Griya Sidemen, Ida Pedanda Griya Peling Baleran, Ida Pedanda Budha Griya Saraswati Batuan, Ida Pedanda Griya Baturiti, Ida Pedanda Budha Wanasari Tali Beng, Ida Pedanda Griya Peling Delodan, Ida Pedanda Budha Keling, dan Ida Pedanda Griya Peling Batubulan.

Prosesi Tawur Agung disaksikan Pj Gubernur Bali Sang Made Mahendrajaya, Panglingsir Puri Ubud, Bupati Gianyar terpilih Made Agus Mahayastra, anggota DPRD Provinsi Bali maupun Kabupaten Gianyar, tokoh masyarakat serta ratusan undangan lainnya.

Pangempon Pura Prof Dr Ir Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati MSi alias Cok Ace didampingi Drs Tjokorda Gde Putra Sukawati, Prof Dr Tjokorda Gde Raka Sukawati SE MM, menjelaskan rangkaian karya telah diawali dengan matur piuning pada Rabu (15/12/2024), lanjut nanceb, caru Rsi Gana di Beji Campuhan, Nedunang Ida Bhatara sami, melasti ke segara Masceti pada Rabu (5/2), mepepada alit, mendak bagia, lan tawur. Puncak pada Budha Kliwon Sinta atau Pagerwesi, Rabu (12/2). Penyineban digelar Rabu (19/2), Nyegara Gunung pada Redite Umanis Ukir, Minggu (23/2).

Karya Padudusan Agung ini merupakan gelaran setiap 10 tahun sekali. Secara khusus pada pelaksanaan kali ini mengambil tingkatan Tawur Pedanan Madya dengan menggunakan 3 ekor kerbau. 

Kata Cok Ace, Pura Payogan Agung Gunung Lebah tak lepas dari purana pura yang menyebutkan bahwa tempat tersebut merupakan pertemuan Akasa lan Pertiwi, pertemuan antara Lanang dan Wadon yang dibuktikan dengan keberadaan aliran Tukad Wos lanang dan wadon. "Semoga karya ini membawa vibrasi positif untuk Bali," tambah Prof Tjokorda Raka Sukawati. 

Pura Gunung Lebah juga berkaitan erat dengan perjalanan suci Maha Rsi Markandeya dari Gunung Dieng Jawa Tengah ke Bali. "Konon, sesampainya beliau di Bali beliau tanpa permisi sehingga banyak pengikut beliau yang sakit sampai meninggal dunia," jelas Tjokorda Raka Sukawati. 

Kondisi tersebut membuat Maha Rsi kembali ke Gunung Raung di tanah Jawa hingga beliau mendapatkan petunjuk untuk melakukan perabasan dan membawa peradaban baru ke Bali melalui suatu upacara yadnya. "Setelah beliau menempatkan pancadatu, baru beliau mengadakan upacara perabasan dan peradaban baru di Bali. Sejak itu, tidak ada lagi kejadian seperti sebelumnya dan di tempat ini beliau mengadakan yoga. Di antara pertemuan dua sungai yakni wos lanang dan wos wadon. Dari pertempuan sungai ini, semua tempat beliau mengadakan yoga setelah itu baru beliau melakukan perabasan sampai Taro dan mewariskan peradaban baru," terangnya. 7 nvi

Komentar