nusabali

Seniman Gamelan Mulut (Gamut) Made Agus Wardana Kembali Tampilkan Inovasi

Hadirkan Kolaborasi Iringi Pementasan Wayang Kulit

  • www.nusabali.com-seniman-gamelan-mulut-gamut-made-agus-wardana-kembali-tampilkan-inovasi

Dengan bantuan teknologi loopstation, suara gamelan, suara alam, suara angin badai mampu mengiringi kisah dalam pentas wayang

DENPASAR, NusaBali 
Seniman gamelan mulut (gamut) Made Agus Wardana kembali melakukan inovasi dengan tampil mengiringi pementasan wayang kulit. Pementasan yang berlangsung di Lycée Français de Bali, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Badung, Senin (27/1), lalu menghadirkan kolaborasi yang mengesankan. 

Dalam program pengenalan dan pengetahuan budaya Indonesia yang diperuntukan kepada anak-anak TK maupun SD di sekolah itu, gamut berperan kuat dalam membawa suasana. Dengan bantuan teknologi loopstation, suara gamelan, suara alam, suara angin badai mampu mengiringi kisah dalam pentas wayang. Efek bass yang memberi tekanan kepada suara gong atau jegogan dalam gamelan Bali terdengar sangat identik. 

“Berkesenian itu perlu pembaruan, kalau tidak akan ditinggalkan peminatnya. Bahkan jika dibiarkan tanpa inovasi, kesenian akan stagnan tidak lagi menjadi primadona di hati masyarakat,” ujar Wardana kepada NusaBali, Minggu (2/1).  Menurut Wardana yang akrab disapa Bli Ciaaattt, sebagai sebuah inovasi dalam kesenian gamut terus melakukan petualangan, mengeksplorasi aneka jenis pertunjukan Bali, dari topeng, tari lepas, fragmentari kontemporer, hingga kini wayang kulit.

Gamut diciptakan pertama kali oleh Wardana di Brussel, Belgia pada tahun 2015. Tahun 2020 kemunculannya viral di berbagai media sosial. Gamut mengkhususkan menyuarakan bunyi instrumen gamelan Bali seperti pemade, ugal, kantilan, kendang, kajar, cengceng, gong dan kempur mempergunakan suara vokal atau mulut. Bunyi-bunyi seperti ’nyang, nying nyong nyeng’ terdengar mendekati suara gamelan dengan penggunaan alat rekam loopstation yang bisa dimainkan seorang diri ataupun berkelompok secara live. 

“Dalam proses gamut berkarya ternyata semua berawal dari percobaan. Percobaan secara terus menerus, direkam, dibunyikan kemudian dihayati lama-lama menjadi sebuah gending,” ujar Wardana. Pertunjukan wayang kulit di sekolah internasional Prancis mengambil lakon cerita rakyat sang kancil dan raksasa. Para guru dan anak-anak sangat antusias menyambut gembira kegiatan ini. Mereka larut dalam kegirangan dan secara aktif ikut berpartisipasi dalam kegiatan workshop di sesi kedua setelah pertunjukan wayang usai. 

Sang dalang Putu Agus Meli Artawan mengatakan, kesempatan berkolaborasi dengan gamut adalah hal yang mengasyikkan. Meskipun ada beberapa garapan wayang yang telah menggunakan musik digital sebagai iringannya, namun dengan kehadiran gamut sebagai iringannya, mampu memperkaya inovasi karya seni pedalangan. 

“Gamut itu sangat menarik, sebuah inovasi baru dalam dunia pedalangan di mana pada umumnya wayang kulit yang diiringi gamelan tradisional Bali, kini telah berkembang ke penggunaan teknologi digital,” ujarnya. Lebih lanjut Agus Meli Artawan yang lulusan Program Studi Sarjana Seni Pedalangan ISI Denpasar ini menyampaikan bahwa wayang penting ditanamkan pada anak-anak, sebab pertunjukan wayang memiliki pesan-pesan moral tentang bagaimana cara untuk berperilaku yang baik, memahami nilai kesetiakawanan, dan berbagai etika kehidupan lainnya. “Ini merupakan esensi dan filsafat wayang itu sendiri, sebagai media pendidikan, pertunjukan, dan lainnya,” ujar Artawan. 7 adi 

Komentar