nusabali

‘Orgil’ Pembunuh Ipar Kabur dari RSJ

  • www.nusabali.com-orgil-pembunuh-ipar-kabur-dari-rsj

Penderita gangguan jiwa alias orang gila (orgil) yang sempat membunuh kakak ipar dan keponakannya, Brigadir I Nyoman Suarsa, 36, kabur dari perawatan RSJ Bangli, Senin (4/1). 

Keluarga dan Warga Sekampung Waswas

BANGLI, NusaBali
Berita kaburnya orgil yang anggota Polri ini kontan bikin cemas pihak keluarga dan mas-yarakat di kampung halamannya, Banjar Apuan Kaja, Desa Apuan, Kecamatan Susut, Bangli, karena mereka masih trauma tragedi berdarah 12 Juni 2015 silam.

Kasus kaburnya Nyoman Suarsa dari RSJ Bangli baru diketahui petugas setempat, Senin pagi sekitar pukul 10.00 Wita. Meski telah dilakukan upaya pencarian ke berbagai tempat, Nyoman Suarsa belum juga ditemukan hingga Selasa (5/1). Tak ada yang tahu di mana orgil berdarah dingin itu bersembunyi.

Informasi di lapangan, sebelum Nyoman Suarsa diketahui kabur, sekitar 100 pasien RSJ Bangli melakukan kegiatan rehabilitasi kerja bakti bersih-bersih di dalam lingkungan RSJ, Senin pagi pukul 08.00 Wita. Kegiatan kerja bakti dilakukan dengan pengawasan para tenaga medis dan 4 petugas satpam RSJ Bangli.

Setelah selama 2 jam diajak bersih-bersih, para pasien RSJ kemudian dikumpulkan untuk masuk ke ruangan perawatan masing-masing. Nyoman Suarsa sendiri, seperti biasa, harus masuk lagi ke Ruang Terpadu tempatnya dirawat di RSJ Bangli. Saat dilakukan pengecekan sekitar pukul 10.00 Wita, Suarsa---anggota kepolisian yang bertugas di Bagian Sumda Polres Bangli---ternyata menghilang.

Karena hilangnya Suarsa, pihak RSJ Bangli pun kelabakan. Seluruh perawat, pegawai, dan petugas satpam berusaha mencari Suarsa di lingkungan RSJ, namun upaya mereka nihil. Siangnya sekitar pukul 11.00 Wita, pihak RSJ meluncur ke rumah keluarga Suarsa di Banjar Apuan Kaja, Desa Apuan, Kecamatan Susut untuk melakukan pengecekan. Ternyata, Suarsa tidak ada di sana. Bahkan, sampai Selasa kemarin, keberadaan orgil pembunuh kakak ipar dan keponakannya ini masih misterius.

Suarsa diduga kabur saat kegiatan bersih-bersih bersama ratusan pasien lainnya dengan melompati pagar sisi barat pintu utama RSJ Bangli. Suarsa memanfaatkan kelengahan petugas yang tengah sibuk mengawasi pasien-pasien lainnya. Petugas memperkirakan setelah bnerhasil melompati pagar, Suarsa menyusuri Jalan Kesumayuda Bangli jurusan Desa Demulih tembus ke Desa Apuan. Pasalnya, ada warga Banjar Serokadan, Desa Abuan yang sempat melihat Suarsa di jalanan, Senin siang pukul 11.00 Wita.

“Kami belum tahu kebetradaan pasien tersebut (Nyoman Suarsa). Kami juga sampaikan ke Kantor Desa Apuan dan cek ke rumahnya, tapi yang bersangkutan tidak ada pulang,” ungkap Kasi Pelayanan RSJ Bangli, dr I Dewa Gede Basudewa SpKJ, Selasa kemarin.
Menurut dr Dewa Basudewa, kondisi kejiwaan Suarsa sesungguhnya stabil, bahkan sudah bisa diajak pulang dengan status rawat jalan. Dari analisa medik, Suarsa juga sudah berkeinginan pulang dari RSJ Bangli. “Kondisinya selama ini sudah tenang,” sambung dr Bagus Surya Kusumadewa, yang kemarin mendampingi dr Dewa Basudewa. 

Dengan sistem rawat jalan dan pengobatan, diyakini penyakit yang diderita Suarsa tidak akan kambuh, kecuali dipantik oleh penyebab yang luar biasa. “Dulu kambuh (saat kejadian berdarah membunuh kakak ipar dan keponakannya, Red), karena pengobatannya terputus,” tandas dr Bagus Surya.

Dia menyebutkan, jika terlalu lama di RSJ Bangli, justru berdampak tidak baik bagi pasien, karena seperti terisolasi. Sejak beberapa pekan terakhir, tanggungan pengobatan untuk Suarsa dilakukan pihak RSJ Bangli. Pasalnya, jaminan dari asuransi yang digunakan Suarsa hanya untuk 180 hari. Sedang Suarsa sendiri masuk RSJ Bangli sejak Juni 2015 lalu, artinya sudah lebih dari 180 hari.

Menurut dr Bagus Surya, pihak RSJ Bangli sudah memberitahu keluarga Suarsa di Desa Apuan terkait hal tersebut melalui surat. Namun, pihak keluarga pasien menyatakan belum siap menerima kembali Suarsa, dengan alasan masih trauma insiden maut 12 Juni 2015 silam, ketika yang bersangkutan membunuh kakak iparnya, Ni Komang Sudiani, 30, dan putri tunggalnya, Ni Luh Putu Sri Aristya Dewi, 7 (keponakan pelaku).

Selanjutnya...

Komentar