nusabali

Songket Beratan Diajukan Jadi Warisan Budaya Dunia

  • www.nusabali.com-songket-beratan-diajukan-jadi-warisan-budaya-dunia

Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bali mulai melakukan proses identifikasi, sebelum diajukan kepada UNESCO.

BPNB Bali Lakukan Identifikasi


SINGARAJA, NusaBali
Kerajinan kain tenun songket di Desa Pakraman Beratan Samayaji, Kelurahan Beratan, Kecamatan/Kabupaten Buleleng diusulkan menjadi warisan budaya dunia tak benda. Alasannya motif songket di Beratan Samayaji dinilai sangat unik, dan usianya pun terbilang tua.

Minggu (18/6) kemarin, tim dari BPNB Bali mendatangi Desa Pakraman Beratan Samayaji guna melakukan identifikasi. Badan yang bernaung di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI tersebut, berusaha melakukan identifikasi, dokumentasi, hingga mendeskripsi seluruh proses pembuatan songket di wilayah itu.

Kepala BPNB Bali, Made Dharama Suteja mengatakan bahwa pihaknya mencatat warisan budaya tak benda di Indonesia. Caranya lewat rekaman, mendiskripsikan, mendata maestro, dan melihat alatnya. “Keunikan Songket Beratan ini ada pada motifnya. Nanti lewat kementerian, kami akan usulkan jadi warisan budaya dunia tak benda. Minimal warisan budaya dunia tak benda di Indonesia,” ujar dia.

Suteja menyatakan kini pihaknya melakukan pendataan untuk menjadi warisan budaya tak benda di Indonesia. Nantinya akan ada tim pusat yang melakukan verifikasi terhadap data-data yang telah disajikan. Jika lolos, motif Songket Beratan dicatat sebagai warisan budaya tak benda di Indonesia. “Tapi tidak menutup kemungkinan nanti akan diusulkan ke UNESCO, sehingga bisa diakui dunia,” imbuhnya.

Sementara itu Pangliman Desa Pakraman Beratan Samayaji, Made Ngurah Wedana mengungkapkan, selama ini Beratan Samayaji dikenal sebagai salah satu desa penghasil tenun songket di Buleleng. Ironisnya keberaan songket khas Beratan Samayaji terancam punah. Lantaran penenun songket semakin jarang.

Kini di wilayah desa pakraman, tercatat hanya ada lima unit alat tenun yang bisa digunakan. Sementara warga yang aktif melakukan aktifitas pertenunan hanya tiga orang saja. Fakta itu dikhawatirkan menghambat pengakuan motif Songket Beratan sebagai warisan budaya.

“Padahal dulu menenun songket ini mata pencaharian ibu rumah tangga di Beratan Samayaji. Sejak permintaan songket lesu, akhirnya produksinya semakin berkurang. Ujung-ujungnya yang menenun juga semakin berkurang,” katanya.

Wedana pun khawatir jika motif Songket Beratan akan punah. Bukan hanya permintaan yang sedikit, namun generasi muda juga enggan menggeluti tenun songket. “Regenerasi sulit kami lakukan, karena anak muda sekarang melihat songket ini bukan bisnis yang menjanjikan. Terus terang jika hal ini terus terjadi, Songket Beratan akan punah,” keluh Wedana. *k23

Komentar