nusabali

Luaran vs Manfaat, Mana yang Lebih Menjanjikan?

  • www.nusabali.com-luaran-vs-manfaat-mana-yang-lebih-menjanjikan

PENDULUM jam dinding bergayung, kiri dan kanan dalam bilangan waktu detik. Teori dan praktik pembelajaran mendekati perilaku pendulum, walau tidak dalam hitungan detik, tetapi mengikuti dialektika.

Menurut Hegel, berpikir dialektik merupakan cara memahami dan memecahkan persoalan berdasarkan atas tiga unsur, yaitu: tesis, antitesis, dan sintesis. Dalam pembelajaran, tesis luaran pembelajaran (output-based learning) dihadapkan dengan antesis manfaat pembelajaran (outcome-based learning), mana yang lebih jumawa dari kedua pendekatan itu? Atau, apakah keduanya dapat diasimilasi (sintesis) agar tidak terjadi konflik?

Saat ini, kecepatan pemanfaatan teknologi dan produksi inovasi berkembang sangat pesat. Kenyataan ini memunculkan kesenjangan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan SDM di dunia kerja dan masyarakat. Pada abad 21, tantangan pendidikan adalah peran dan strategi dalam menjembatani kesenjangan antara proses pendidikan dengan dunia kerja dan kebutuhan inovasi. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mewadahi pendidikan abad 21 adalah ‘outcome–based education (OBE)’. 

Umumnya, pembelajaran berbasis luaran menetapkan standar pencapaian minimal, misalnya 75 persen atau lebih. Jelas, standar pencapaian tersebut terlalu tinggi dan dapat meng-eksklusi subjek berkebutuhan khusus atau lainnya. Standar minimal yang tidak realistis dan peng-eksklusi-an subjek belajar jelas tidak berkeadilan (equity). Proponen pembelajaran berbasis manfaat, yang diistilahkan dengan ‘outcome-based education (OBE)’ tidak sepaham dengan model promosi sosial demikian. Subjek belajar berkebutuhan khusus pasti ‘tersandung’ karena mereka berkinerja belajar di bawah standar untuk populasi normal. 

Pembelajaran berbasis manfaat, antara lain, lebih menekankan pada kejelasan yang ingin diketahui dan dilakukan peserta didik setelah pembelajaran selesai. Prinsip dasar OBE, yaitu, kejelasan fokus, perancangan rinci, harapan realistis, dan peluang luas dalam penerapan. Penilaian OBE itu berbeda dengan tradisional, walaupun terlihat sama. Ada pembagian persen tiap evaluasi dalam OBE dalam menilai capaian pembelajaran. Capaian pembelajaran mata kuliah berdasarkan ‘outcome’ yang ingin dicapai dan ditentukan oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan berdasarkan atas masukan pihak terkait (stakeholder). Pembelajaran tradisional menitik-beratkan pada pemerolehan pengetahuan. Sedangkan OBE, memadukan antara pengetahuan dan keterampilan secara kreatif. Penilaian bukan hanya penguasaan pengetahuan tetapi juga keahlian dalam memanfaatkan pengetahuan secara nyata. 

Karakteristik pembelajaran berbasis manfaat, yaitu  penguasaan (mastery), pembelajaran bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Proses pembelajaran OBE ditengara meningkatkan rasa percaya diri, keberhasilan akademik lebih tinggi, menekan jumlah putus belajar atau sekolah, dan menjamin kejujuran.

Dalam teori teks, ada berbagai relasi, yaitu, relasi personal, inter-personal, dan transaksional. Pendidik dan peserta didik harus mampu merefleksikan kejujuran personal dan inter-personal sebelum bertransaksi sosial. Harus ada kesepahaman akan berbagai situasi, seperti latar, partisipan, maksud, tujuan, tindak tutur dan perilaku, kanal komunikasi, serta genre-nya. Kesepakatan yang jujur antara semua agen pembelajaran akan mampu mendorong kerja sama sosial yang kondusif dan kreatif. Relasi dalam pembelajaran yang bersumbu pada kejujuran akan menegaskan relasi setara walau tak persis sama, menjamin harkat martabat tanpa pembeda, melibatkan dalam proses musyawarah yang berkeadilan, dan semua berada dalam posisi asali. 

Menurut Rawls, untuk meraih keadilan sebagai kejujuran, maka posisi asali merupakan prasyarat, tidak harus sama melainkan sebagai kondisi awal imajiner. Kondisi awal imajiner ini harus dibayangkan dan diterima. Karena hanya dengan cara ini keadilan sebagai prosedural murni bisa dicapai. 

Setiap orang yang berpartisipasi dalam perumusan prinsip-prinsip keadilan ini harus benar-benar masuk dalam situasi ideal tersebut. Hanya saja, Rawls percaya bahwa tidak semua orang dapat masuk ke dalam posisi asali, hanya mereka yang memiliki kemampuan bernalar yang akan berhasil masuk ke dalam proses musyawarah yang jujur. Pembelajaran OBE akan menjamin semua yang tak teraih dalam pembelajaran konvensional dan OBE lebih menjanjikan realitas kontekstual. 7

Prof Dewa Komang Tantra MSc, PhD
Profesor Tetap Universitas Warmadewa

Komentar