nusabali

Petani Krisan Mendapat Bantuan Green House

  • www.nusabali.com-petani-krisan-mendapat-bantuan-green-house

SINGARAJA, NusaBali
Bunga krisan memiliki peluang pasar yang sangat besar. Bunga ini menjadi salah satu komoditas unggulan di dua desa di Buleleng, yakni Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, dan Desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan.

Pemerintah berupaya memacu produksi bunga krisan melalui pengembangan kawasan hortikultura. "Bunga krisan merupakan komoditas unggulan di Buleleng. Karena di Bali hanya dihasilkan di Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Tabanan," ujar Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Buleleng, Gede Subudi, Minggu (26/3).

Jumlah produksi bunga krisan di Buleleng pada tahun 2022 lalu mencapai 97.325 tangkai. Produksi tersebut untuk memenuhi pasar florist di Bali. Dengan jumlah produksi cukup tinggi itu, pasar bunga krisan masih terbuka lebar. Bahkan peluang ekspor juga terbuka. "Sementara ini masih pasar Bali. Namun sudah ada rencana ekspor ke Jepang," katanya.

Untuk menggenjot hasil produksi bunga krisan, Kementerian Pertanian RI melalui Direktorat Jenderal (Dirjen) Hortikultura menyalurkan bantuan sarana dan prasarana pertanian bunga krisan pada tahun 2023 ini. Bantuan tersebut akan diberikan pada kelompok petani di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, dan Desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan.

Bantuan tersebut untuk mengembangkan kawasan pertanian bunga krisan di lahan seluas 400 are. Nilai bantuan mencapai sekitar Rp 200 juta per kelompok petani. Hanya saja, dalam paket bantuan ini tidak mendapatkan bibit. Pengadaan bibit dilakukan swadaya. Paket bantuan yang diberikan berupa green house yang dilengkapi dengan irigasi tetes dan instalasi listrik.

Budidaya bunga krisan sendiri cenderung cukup rumit. "Karena tanaman bunga ini memerlukan perlakuan khusus, harus di green house dan pemeliharaan yang telaten," ucapnya.

Kata Subudi, pengembangan kampung flori yang merupakan turunan dari kampung hortikultura dengan mengedepankan teknologi green house atau rumah kaca. Kampung ini menjadi bagian dari program yang diinisiasi Dirjen Hortikultura. Dengan menerapkan teknologi budidaya florikultura dalam green house.

Menurutnya, dengan bantuan green house dan sarana pelengkap, petani dapat meningkatkan mutu tanaman hias yang dihasilkan. "Ini penting agar dapat memenuhi standar ekspor dan mampu bersaing dengan tanaman hias dari wilayah lain. Apalagi peluang pasar masih terbuka lebar," imbuh Subudi.

Selama ini, bunga krisan hasil produksi di dua desa tersebut didasarkan untuk kebutuhan pariwisata seperti hotel, spa, restoran, hingga digunakan untuk dekorasi acara pernikahan maupun seremoni penyambutan. *mz

Komentar