nusabali

Lontar Dianggap Tenget dan Keramat, Tim Kesulitan Lakukan Konservasi

  • www.nusabali.com-lontar-dianggap-tenget-dan-keramat-tim-kesulitan-lakukan-konservasi

Sejumlah kalangan masyarakat masih menganggap lontar tenget dan keramat.

Di Bangli Sudah 61 Cakep Lontar Dikonservasi


BANGLI, NusaBali
Anggapan tersebut menjadi kendala Tim Penyuluh Bahasa Bali Bangli untuk melakukan konservasi lontar milik masyarakat.

“Masyarakat masih berfikir lontar tenget, dikeramatkan, karenanya tidak berani membuka,” ungkap koordinator tim konservasi Penyuluh Bahasa Bali Bangli I Made Oka Samudra, Rabu (7/6).

Oka Samudra menyampaikan, di wilayah Bangli cukup banyak warga yang memiliki lontar. Hanya saja tidak semua mengizinkan lontar tersebut untuk dikonservasi.

Dijelaskannya, tim penyuluh sempat meminta izin untuk melakukan konservasi lontar, tetapi ditolak oleh pemilik. “Ditolak sudah hal biasa,” ujarnya. Pihaknya berharap masyakarat lebih terbuka, terutama yang memiliki lontar. Pemilik lontar diharapkan berkenan lontarnya dikonservasi.

“Bila tidak diizinkan membaca isi lontar, paling tidak biarkan kami untuk melakukan perawatan. Sehingga lontar-lontar yang ada nantinya bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya,” ungkapnya.

Dari beberapa lontar yang sudah dikonservasi, sebagian besar kondisinya sudah memprihatinkan. “Alangkah baik lontar disimpan pada kotak kaca. Tapi di masyarakat biasa lontar disimpan pada sokasi,” tutur pria asal Banjar Penida, Desa Tembuku, Bangli, itu.

Saat ini sudah ada 61 cakep lontar yang sudah dikonservasi. Sebanyak 16 cakep lontar milik I Dewa Sang Made Widana dari Banjar Tanggahan Talangjiwa, Desa Demulih, Kecamatan Susut. Lontar sebanyak 15 cakep milik krama adat Tiga, Desa Tiga, Kecamatan Susut. Serta 30 cakep lontar milik I Dewa Gede Ngurah Oka, Banjar Pande, Desa Tamanbali, Bangli.

Oka Samudra menambahkan masih ada tujuh lokasi yang belum dilakukan konservasi. “Bila ditotal ada 10 lokasi, kurang lebih ada 103 cakep lontar,” ucapnya. Secara umum lontar-lontar tersebut berisi tentang usada, kawisesan, bebantenan.

Salah seorang pemilik lontar yang mengizinkan lontarnya dikonservasi adalah I Dewa Gede Ngurah Oka, Prebekel Tamanbali. Menurutnya, lontar yang dia miliki jarang dibuka ataupun dibaca. “Saya tidak terlalu paham isinya. kami coba minta bantuan tim penyuluh,” ujarnya. *e

Komentar