nusabali

Dilaksanakan Sejak Tahun 1876, Parade Ngoncang di Banjar Adat Banjar Paketan Buleleng

  • www.nusabali.com-dilaksanakan-sejak-tahun-1876-parade-ngoncang-di-banjar-adat-banjar-paketan-buleleng

SINGARAJA, NusaBali
Sebanyak 9 tim ngoncang (membunyikan lesung) beradu bakat dalam parade ngoncang di Banjar Adat Banjar Paketan, Lingkungan Banjar Paketan, Kelurahan Paket Agung, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Kamis (23/3) sore.

Parade Ngoncang yang diselenggarakan oleh Sekaa Truna Hita Mandala, merupakan salah satu upaya pelestarian seni, budaya dan adat tradisi Bali. Masing-masing tim tidak hanya tampil dengan kepiawaian memukul lesung menggunakan anak lesung, tetapi juga dibalut busana dan pernak-pernik menarik. Tim masing-masing terdiri dari 7 orang. Mereka tampil memukau memukul lesung dengan ritme yang berbeda-beda sehingga menghasilkan irama yang unik.

Prajuru Banjar Adat Banjar Paketan I Putu Gede Mertha di sela-sela acara mengatakan, ngoncang pada zaman dahulu merupakan tradisi yang disakralkan. Para tetua baru akan ngoncang memakai lesung penumbuk padi saat ada ritual khusus. Seperti saat upacara ngaben untuk kelengkapan upacara, saat pangerupukan Nyepi untuk menetralisir kekuatan negatif dan nyomia bhutakala. Serta  saat bulan gerhana yang dipercaya menghalau kalarau (raksasa dalam kepercayaan Hindu) yang menutupi sinar bulan.

“Budaya ini menurut hasil penelusuran kami kepada para tetua kami dulu sudah ada sejak tahun 1876. Sehingga kalau dihitung sampai sekarang sudah 147 tahun,” terang Mertha.

Lesung penumbuk padi ini dulu dimiliki sebagian besar keluarga di Banjar Paketan. Namun seiring berjalannya waktu dan tidak ada lagi lahan sawah yang diolah, keberadaan lesung mulai berkurang. Mertha menyebut di Banjar Paketan kini hanya tersisa 14 unit. Satu unit sudah tidak diperbolehkan lagi dibunyikan pemiliknya. Sebab dipercayai akan mendatangkan musibah, jika dimanfaatkan selain untuk menumbuk padi.

“Dari 14 yang tersisa yang tertua itu ada berumur ratusan tahun, ukurannya besar panjang 3,5 meter dan lebar 40 sentimeter. Kalau yang dipakai disini yang usianya lebih baru. Nah sekarang ini agar tidak punah dikembangkan tradisi ngoncang untuk hiburan di luar ritual,” imbuh Mertha.

Sementara itu Kelian Sekaa Truna Hita Mandala I gede Arya Septiawan mengatakan tradisi ngoncang memang rutin digelar setiap tahunnya. Terkecuali saat pandemi Covid-19 sempat vakum selama dua tahun.

“Kami selaku sekaa truna memang mendobrak ngoncang sebagai pelestarian budaya di luar kegiatan ritual. Karena jika tidak dilestarikan tradisi ini bisa punah sama seperti lesung yang kini ditinggalkan sebagai penumbuk padi,” terang Arya.

Parade ngoncang ini diikuti 9 tim perwakilan dari RT yang ada di Lingkungan Banjar Paketan, Kelurahan Paket Agung, Buleleng. Sebagian besar pesertanya adalah anak muda. “Pemuda kami tonjolkan untuk regenerasi, sehingga ke depannya ketika tetua kami dari segi fisik tidak mampu bisa diteruskan oleh yowana-yowana di sini,” kata dia. *k23

Komentar