nusabali

Melihat Keunikan Pura Beji Batan Gatep di Banjar Gegadon, Kapal, Mengwi

Jadi Tempat Malukat, Ada Gua Air dan Lingga Siwa

  • www.nusabali.com-melihat-keunikan-pura-beji-batan-gatep-di-banjar-gegadon-kapal-mengwi

Sejak awal pura ini memang sudah dijadikan tempat pertapaan orang-orang penting dalam sejarah, di antara orang-orang penting itu adalah Arya Sentong.

MANGUPURA, NusaBali

Pura Beji Batan Gatep di Banjar Gegadon, Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung menyimpan keunikan dan nilai magis di setiap jengkal keberadaannya. Pura yang berdiri di atas lahan seluas 5 are ini sebagiannya pernah terkubur di lembah Tukad Yeh Penet yang melewati Desa Adat Kapal. Pada tahun 1995, ketika Jero Mangku I Made Los (Alm) masih ngayah, di pura tersebut hanya terdapat satu palinggih.

Putra Jero Mangku I Made Los yang merupakan calon Pamangku Pura Batan Gatep, yakni I Made Raka Dharmawan,55, menceritakan dari bagian yang terkubur itu kemudian dikeruk. Dari hasil pengerukan selama 10 hari, ditemukan gua air dengan lebar 1 meter dan sebuah lingga bersegi delapan. “Awalnya pengerukan itu dilakukan karena pancuran yang ada di pura ini tidak kering-kering, sedangkan banyak rembesan air keluar dari lereng yang tadinya mengubur itu,” kata Raka Dharmawan saat ditemui areal Pura Batan Gatep, Jumat (20/1) sore.

Dia membeberkan berdasarkan Purana Wataning Gatep, pura ini sudah ada sejak tahun 1667. Sejak awal, areal pura di lembah Tukad Yeh Penet ini memang sudah dijadikan tempat pertapaan orang-orang penting dalam sejarah.

Di antara orang-orang penting itu adalah Arya Sentong. Tokoh yang melahirkan trah Pasemetonan Arya Sentong ini, kala itu sedang dalam perjalanan pulang dari Nusa Penida. Persinggahan sekaligus pertapaan ini tercatat dalam purana dari Pura Batan Gatep. Selain itu, berdasarkan penerawangan dari guru spiritual yang sempat mengunjungi pura, ternyata ada pula bekas raja kecil dari Jawa Timur yang pernah bertapa di areal pura ini.

Kedatangan bekas raja yang akhirnya bergelar Bhagawan Bhanu pasca menuntaskan pertapaannya ini terjadi sebelum kedatangan Arya Sentong. “Bhagawan Bhanu inilah yang dikatakan banyak mendatangkan energi yang luar biasa ke area ini. Jejak-jejak energi ini masih bisa dirasakan bahkan bisa dilihat oleh orang tertentu,” tutur calon pamangku yang akan menjalani ekajati pada Februari mendatang.

Jejak energi ini berupa sinar biru yang tak berujung jatuh di atas Padmasana. Sinar tersebut secara tidak sengaja dilihat oleh seorang warga yang sedang memancing di Tukad Yeh Penet pada tengah malam. Kemudian, Raka sendiri pernah merasakan ada energi berwujud pertapa sedang bersila di atas tebing di atas pura.

Lambat laun energi yang mampu mengundang spirit niskala ini membuat dua penjaga bergelar Ida Ratu Niang Sakti dan Ida Dukuh Sakti betah berada di Pura Batan Gatep. Saat ini, kedua spirit ini bahkan sudah memiliki palinggih masing-masing yang mengapit Padmasana di mana ditemukan gua air dan lingga segi delapan.

Sejak ditata pada tahun 2012 silam, gua air tersebut kini berada di bawah palinggih padmasana. Satu sumber air lagi berada di bawah palinggih piyasan. Sedangkan lingga yang sudah ada sejak awal diposisikan di tengah kolam dengan aliran air yang berasal dari mulut gua air. Atas petunjuk seorang brahmana asal India, lingga tersebut dibuatkan yoni. Batu yoni dari lingga tersebut katunas (diminta) dari batu cadas di Gunung Agung. Lingga yoni ini sekarang menjadi konsentrasi semadi para guru spiritual dan juga pamedek yang ingin malukat.

Kata Raka, Pura Batan Gatep dikunjungi oleh berbagai kalangan, bahkan dari lintas agama, daerah, dan negara. Para Brahmana dari India menyebutkan pura ini energinya sangat sesuai untuk melakukan semadi, lebih-lebih untuk melakukan tapa Siwaratri. “Ketika Siwaratri, puluhan orang bisa memadati pura ini. Pertama akan ada kegiatan melantunkan lagu pujian menurut Weda. Kemudian dilanjutkan dengan ritual Abhishekam,” jelas pria berkacamata ini.

Abhisekam adalah ritual memandikan lingga yoni dengan air susu dan madu. Aliran susu dan madu yang meleleh keluar dari liang yoni ini bisa dibawa pulang untuk dipercikkan di pekarangan rumah. Hal ini dipercaya membawa kesuburan dan kesejahteraan sebab lingga yoni secara kasar menggambarkan senggama dan secara filosofi menyimbolkan penciptaan. Lingga yoni sendiri adalah simbol krusial dalam ajaran Siwa dan bahkan simbol dari Siwa itu sendiri.

Dalam proses pemujaan ini digunakan pula daun pohon bilwa atau orang Bali lebih mengenal dengan sebutan bila atau bela. Pohon bilwa sendiri identik dengan cerita filsafat Lubdaka mengenai Hari Suci Siwaratri. Satu pohon bilwa ini berhasil ditanam dan tumbuh subur di dalam areal pura dengan disiram air susu.

Daun dari pohon inilah yang digunakan untuk melakukan pemujaan Siwa melalui lingga yoni. Kata calon pamangku paruh baya yang sudah memiliki cucu ini, satu daun pohon bilwa yang dijaga oleh satu duri ini dipetik kemudian diletakkan di atas lingga yoni. Selanjutnya cakupkan tangan dan lantunkan mantra pujian sederhana seperti ‘Om Namah Shivaya’. Berdasarkan cerita filsafat Lubdaka, mantra pujian ini diucapkan sebanyak 108 kali. Kemudian diikuti dengan gerakan sujud di hadapan lingga yoni. Namun, terdapat satu pantangan dalam pemujaan Siwa ini, yakni tidak boleh mempersembahkan unsur daging di hadapan lingga yoni.

Pemujaan semacam ini berlangsung setiap satu hari sebelum rahina Tilem pada setiap bulannya. Waktu pemujaan ini pada waktu tertentu juga bertepatan pada Hari Suci Siwaratri karena hari suci ini jatuh pada purwaning Tilem Kapitu. “Yang terpenting itu bukan bagaimana cara kita memuja, tetapi seberapa yakin kita melakukan pemujaan,” tandas Raka. *ol1

Komentar