nusabali

Cuaca Buruk, Harga Ikan Melonjak

  • www.nusabali.com-cuaca-buruk-harga-ikan-melonjak

SINGARAJA, NusaBali
Cuaca buruk yang terjadi sejak akhir tahun hingga awal tahun berdampak signifikan pada kenaikan harga ikan laut.

Gelombang tinggi serta angin kencang yang melanda kawasan pesisir memaksa nelayan libur. Ditambah lagi masih sulitnya nelayan mendapatkan BBM. Efeknya, pasokan ikan ke pedagang juga berkurang hingga kosong. Hal ini juga membuat omzet penjual ikan laut menurun.

Salah seorang pedagang ikan di pinggir Jalan Raya Desa Anturan, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Ketut Sukertini, 50, mengaku stok ikan yang ia jual berkurang drastis. Bahkan beberapa jenis ikan tertentu banyak yang kosong. "Sekarang stok ikan sedikit. Yang paling laris ikan karang, sekarang tidak ada. Banyak yang kosong. Penjualan jadinya menurun," ujar Sukertini, Jumat (6/1).

Ikan yang dijual Sukertini biasanya diperoleh dari nelayan di Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, dan Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng. Namun belakangan ini stok ikan berkurang lantaran nelayan yang biasa memasok ikan padanya, tak melaut. Berkurangnya stok ikan juga membuat harga ikan melonjak.

"Dulunya biasanya untuk ikan tuna, tompek, tenggiri, per kilogramnya Rp 25.000, sekarang harganya sampai Rp 35.000. Harganya naik karena stoknya sangat sedikit," kata dia.

Sementara itu, sejumlah nelayan di pesisir laut Desa Anturan, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, memutuskan libur melaut karena cuaca ekstrem. Mereka pun memakirkan puluhan perahu di atas tanggul batu armor penahan abrasi.

Ketua Kelompok Nelayan Taruna Samudra Desa Anturan, Kadek Parwata mengatakan kondisi itu sudah terjadi dua minggu belakangan. Cuaca ekstrem menyebabkan gelombang tinggi dan angin kencang, membuat para nelayan takut untuk melaut. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para nelayan ada yang beralih profesi.

Menurutnya, anggota kelompok nelayan Taruna Samudra yan  beranggotakan 66 orang, sebagian anggotanya ada yang beralih menjadi pengantar wisatawan untuk menonton lumba-lumba hingga bertani. "Yang tidak punya profesi lain ya diem menunggu cuaca normal. Jadi mereka meminjam uang," ujarnya.

"Malau melaut paling cuma dapat cumi, itu pun tidak bisa jauh-jauh. Kalau cuaca normal bisa dapat sampai 100 kilogram ikan tuna," aku Parwata.

Kata Parwata, gelombang tinggi saat ini merupakan yang terparah dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, air laut sempat masuk pekarangan rumah warga di pesisir hingga sebetis orang dewasa. Hal ini, diduga disebabkan kurangnya gorong-gorong yang bisa mengalirkan air kembali ke laut.

"Harapannya ke pemerintah, sekarang sudah ada tanggul pantai, tapi kalau bisa tolong dibuatkan gorong-gorong biar air tidak sampai ke rumah, supaya cepat mengalir," harapnya.*mz

Komentar