nusabali

Sempat Terseok-seok, Pusat Oleh-Oleh Khas Bali di Kuta Mulai Dipadati Wisatawan Domestik

  • www.nusabali.com-sempat-terseok-seok-pusat-oleh-oleh-khas-bali-di-kuta-mulai-dipadati-wisatawan-domestik

MANGUPURA, NusaBali.com - Pasca pandemi melanda Pulau Dewata, Bali pada awal tahun 2020 silam, bisnis pusat oleh-oleh di sepanjang Jalan Raya Kuta sempat lumpuh. Walaupun belum pulih total, pedagang kios besar hingga kios kecil kini bisa tersenyum menikmati peningkatan omzet.

Seperti salah satu kios besar yang menjual oleh-oleh khas Bali yakni toko yang bernama ‘Serimpi Bali’ mulai kedatangan pengunjung dari berbagai daerah. 

Saat ditemui di lokasi, Karyawan di toko oleh-oleh Serimpi Bali, Dewa Ayu Utariyani mengungkapkan semenjak setelah pandemi berlalu peningkatan jumlah pengunjung yang melipir ke tokonya lumayan banyak untuk membeli produk-produk yang terpajang.

“Saat pandemi kita terseok-seok dalam artian pada saat pandemi kita pernah tutup, karena ini toko jadi kita tetap buka tetapi kita bersih-bersih saja agar produk-produk dan barang di sini tidak berdebu. Masalah tamu pastilah sepi saat itu,” ujar karyawan di toko Serimpi Bali, Dewa Ayu Utariyani, awal pekan ini.

Dewa Ayu menuturkan, omzet di tokonya mulai merangkak naik sejak bulan Oktober dan paling ramai pengunjung pada saat hari Jumat hingga Minggu. 

Ia pun turut membeberkan jika wisatawan yang mendominasi berbelanja di tokonya saat ini adalah wisatan domestik. Tak ayal jika produk-produk yang terpajang sangat ramah dikantong mulai dari harga Rp 15.000 saja. 

Produk-produk yang terjual pun berasal dari hasil orang lokal Bali dan produk yang paling banyak diminati seperti buah salak Bali, pie susu, baju barong, dan kacang Bali.

“Kadang sepi, kadang juga ramainya yang berbelanja. Astungkara bulan Desember ini sudah mulai ramai. Kita mengutamana wisatawan lokal yang banyak berkunjung ke sini. Kalau harga namanya untuk oleh-oleh kita menjual dengan harga yang paling murah, karena tamu itu otomatis beli yang murah untuk orang banyak. Jika kemahalan tidak ada beli nanti,” tuturnya sembari merapikan barang dagangannya.

Di sisi lain, di seberang jalan toko Serimpi Bali yakni toko Jepun Bali terlihat mulai dipadati wisatawan. Bahkan dilihat dari pantauan para pengunjung silih berganti memasuki toko Jepun Bali.

“Sudah lumayan meningkat pengunjung yang datang ke sini, hanya saja tergantung jika ada event atau kalau musim liburan pasti meningkat dan wisatawan lokal yang paling banyak berkunjung,” ujar staf toko Jepun Bali, Nora Jaya Putri. 

Produk yang dijual pun, kata Nora Jaya sepenuhnnya menggunakan produk unggulan dari para UMKM di Bali. Meski belum pulih total, Nora Jaya Putri menjelaskan jika peningkatan pendapatan ia rasakan sejak akhir tahun 2021 dan terus bertambah sampai saat ini.

“Harapan saya sebagai pelaku usaha sih ingin keadaan ini bisa tetap terus meningkat, Bali selalu aman dan semoga objek wisata di Bali bisa semakin banyak dibuka agar wisatawan otomatis juga akan terus ke sini,” haraapnya.

Jika berjalan sekitar 100 meter, terlihat juga kios-kios kecil yang ikut kecipratan rezeki. Bukannya merasa tersaingi, namun kios-kios kecil merasakan imbas positif berada berdampingan dengan toko kios besar oleh-oleh khas Bali di sepenjang Jalan Raya Kuta. 

Saat ditemui langsung di kiosnya, karyawan kios Sinar Jaya, Ni Ketut Alit Sriani menjelaskan jika para wisatawan menumpuk pada kios-kios besar otomatis mereka akan mencari kios-kios kecil sembari menunggu kios-kios besar tersebut agak sepi. 

Ia juga mengakui saat ini kiosnya sudah mulai menunjukkan peningkatan penjualan sejak 6 bulan terakhir.

“Selama 6 bulan ini sudah meningkat tetapi kebanyakan wisatawannya itu dari domestik yang sedang study tour. Lumayanlah ada peningkatan dari setelah pandemi. Tetapi ada beberapa turis asing yang mampir seperi turis dari India, Pakistan, Arab, atau Australia, namun tidak banyak seperti tamu domestik. Sekarang pasarnya lebih banyak dari yang lokal saja,” ujar Ni Ketut Alit Sriani. 

Selama 6 bulan terakhir, ia mengaku omzetnya sudah pulih hingga mencapai di angka 60 persen dan akan meningkat saat hari libur seperti hari Sabtu dan Minggu.

“Ramainya kunjungan biasanya hari Sabtu dan Minggu tetapi tidak bisa kita prediksi juga. Mungkin setelah G20 ini Astungkara tamu asing lebih banyak lagi. Karena kita bergerak di bidang pariwisata biar tidak tepuruk lagi seperti dua tahun lalu,” pungkasnya. *ris

Komentar