nusabali

Menebar Kearifan Desa di Perkotaan

Pameran Fotografi 'Kebun Kami' di Panjer

  • www.nusabali.com-menebar-kearifan-desa-di-perkotaan

DENPASAR, NusaBali
Sebuah pameran fotografi yang tidak biasa berlangsung di tengah-tengah Kota Denpasar. Di halaman sebuah rumah yang dipenuhi dengan berbagai jenis tanaman.

Foto-foto yang dipamerkan bak merespons tetamanan yang ada di sekelilingnya. Disebut unik karena selain dipamerkan di 'galeri' beratapkan langit juga karena sebagian foto-foto tersebut ada yang 'dibingkai' dengan kusen-kusen bekas. Bukan sembarang bekas furniture-furniture tersebut memberi pesan kesederhanaan dan lingkungan yang berkelanjutan.

Ada pula foto yang disandingkan dengan tanaman tertentu. Misalnya, foto makanan pepes ikan lengkap dengan daun kemangi di atasnya ditempatkan langsung di antara tanaman kemangi yang tumbuh subur di atas lahan dengan luas total sekitar 3 are.

Pameran bertajuk 'Kebun Kami' tersebut berlangsung 16 November - 10 Oktober 2022, di halaman rumah Teman Sayur, Jalan Tukad Batanghari XIB Nomor 8C, Panjer, Denpasar. Kebun Kami merupakan serangkaian kegiatan nafas urban, sebuah upaya kolektif dalam menampilkan realita dan imajinasi di seputar ekosistem agrikultur urban dan segala aspek yang terkait dengannya.

Ada beberapa fotografer yang foto-fotonya ikut dipamerkan pada pameran Kebun Kami, yakni Anggara Mahendra, Kristina Komalasari, Johannes P Christo, Syafiudin Vifick, Novi Tri M (Gogon), Elthon Rinaldi Halawulang, Primus Lede, dan Annisa Yuniar.

Anggara Mahendra mengatakan, fotografi merupakan bidang yang sangat luas dan sangat ekspresif. Dia mengakui memang belum umum untuk orang Bali membuat pameran fotografi di luar ruang galeri. Menurut Anggara, fotografi bukan sekadar memajang foto-foto bagus. Tapi, lebih dari itu ingin menyampaikan pesan kepada publik. Dan terkadang untuk tujuan menyampaikan pesan di balik foto, pameran harus dilakukan di ruang terbuka.

"Foto-foto ini mungkin bentuknya sederhana. Tapi, dia tidak akan menjadi efektif kalau tidak ditempatkan di situ," kata Anggara ditemui NusaBali, Jumat (2/12), di  lokasi pameran.

Beberapa foto Anggara yang dipamerkan menggambarkan bagaimana halaman Teman Sayur beberapa tahun lalu ketika sedang dibangun. Menurutnya, pengunjung pameran akan dapat melihat bagaimana perubahan yang terjadi dengan melihat foto yang berada di tengah lokasi yang saat ini sudah mengalami perubahan.

"Masa lalu dalam foto, masa sekarang itu yang kita lihat (langsung pada lokasi). Jadi menikmati fotografi itu tidak hanya dalam satu foto saja tapi foto dengan ruangnya. Itu yang coba kita tampilkan, merespons ruang," ungkap pria yang juga jurnalis foto.

Foto-foto dalam pameran juga berusaha mengusik pengunjung dengan konsep hulu-hilir. Bagaimana makanan bisa sampai di hadapan sebelum disantap. Bahwa ada tanaman tertentu yang tumbuh dan menjadi sumber pangan bagi  manusia. Hal-hal seperti itu, ujar Anggara, mulai jarang dirasakan masyarakat terutama yang hidup di daerah urban (perkotaan).

"Tidak semua orang kota tahu pohon kemangi seperti apa, pohon jeruk seperti apa. Makannya sering, tapi bagaimana dia tumbuh, di tanah seperti apa. Buat kita yang punya memori soal itu jadi sepele, tapi buat orang yang lebih urban itu jadi sesuatu yang spesial," kata Anggara yang berasal dari Yangbatu, Denpasar.

Anggara Mahendra, 35, bersama rekannya Kristina Komalasari, 34, merintis Teman Sayur sejak 2018. Teman Sayur awalnya merupakan sebuah usaha memasarkan produk-produk pertanian yang tumbuh di wilayah Desa Asah Gobleg, Buleleng. Kebetulan paman Kristina merupakan seorang petani sayur di sana.

Pelan-pelan, dari usaha memasarkan produk pertanian, Teman Sayur sedikit bergeser menjadi sebuah gerakan yang mengajak masyarakat kota untuk lebih 'berkesadaran'. Menurut keduanya, ritme hidup di perkotaan yang menuntut serba cepat membuat warganya lupa akan hal-hal sederhana yang justru membawa kegembiraan. "Intinya membawa value desa ke kehidupan di kota. Belajar untuk hidup lebih pelan, slow living, sustainable living, lebih berkesadaran," kata Kristina yang berasal dari Banyuatis, Buleleng ini.

Di sebuah lahan kosong yang masih milik keluarga Anggara, sekarang menjadi halaman Teman Sayur, mereka kemudian mulai menyemai beberapa macam tanaman yang sebagian besar bisa langsung dikonsumsi sebagai bahan pangan. Persis seperti yang biasa ditemui di rumah-rumah di wilayah perdesaan di Bali.

Lebih jauhnya nanti, Anggara dan Kristina berharap halaman rumah Teman Sayur bisa menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang punya visi sama, yang ingin hidup lebih berkesadaran, mengusahakan kemandirian pangan dari rumah. *cr78

Komentar