nusabali

Punyan Badung, Flora Endemik Bali Penjaga Ekosistem yang Langka

Refleksi Hari Konservasi Kehidupan Liar Sedunia 2022

  • www.nusabali.com-punyan-badung-flora-endemik-bali-penjaga-ekosistem-yang-langka

Punyan Badung atau Pohon Badung dengan nama ilmiah Casearia flavovirens merupakan tanaman endemik Bali yang sudah dinyatakan langka dengan status konservasi pohon badung menurut (IUCN, 2021) adalah vulnerable.

Mahasiswa Program Studi Doktor Biologi, Fakultas Biologi, UGM

Faktor penyebab terancamnya populasi pohon badung salah satunya adalah alih fungsi penggunaan lahan di Bali yang kian masif. Padahal pohon badung memiliki usia yang panjang, sehingga pohon ini memiliki banyak manfaat bagi ekosistem hutan. Selain sebagai penyedia oksigen dan penyerap karbon layaknya pohon lain, struktur akar badung yang kuat memastikan siklus hidrologis air di suatu ekosistem terjaga.

Casearia flavovirens Blume atau masyarakat lokal sering menyebutnya dengan “Punyan Badung” adalah spesies tumbuhan yang masuk dalam familia Salicaceae. Pohon badung merupakan spesies pohon terancam punah dan merupakan endemik Jawa dan Bali. Pohon badung memiliki status konservasi rentan berdasarkan IUCN Red List dengan status terancam punah (vulnerable) yang mana keberdaaannya di Bali sendiri sangat susah ditemukan. Berdasarkan data dari UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) (2018) terdapat total 38.000 hektare hutan lindung yang terdiri dari 34.000 hektare hutan lindung, 2.300 hektare produksi terbatas dan 63 hektare hutan produksi. 

Dari jumlah tersebut terdapat 109 hektar  lahan kritis yang disebabkan karena illegal logging dan alih fungsi hutan. Hal ini merupakan faktor penting yang menyebabkan terancamnya habitat pohon badung itu sendiri. Selain faktor eksternal dari lingkungan dan dampak perubahan iklim, faktor internal seperti rendahnya tingkat reproduksi dan keberlangsungan hidup bibit anakan di alam juga memiliki pengaruh signifikan terhadap kelestarian jenis-jenis tumbuhan yang terancam punah.  Permasalah utama dari pohon badung merupakan tanaman yang susah diperbanyak karena bijinya bersifat rekalsintran (susah ditumbuhkan) (Melisnawati,2022).

Hari Konservasi Kehidupan Liar Sedunia, yang diperingati setiap tanggal 4 Desember. Secara histori sebagai Hari Konservasi Kehidupan Liar merupakan inisiatif  Hillary Clinton, saat dirinya masih menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat di periode pertama pemerintahan Barack Obama. Hari Konservasi Kehidupan Liar Sedunia diperingati sebagai bentuk refleksi manusia terhadap alam, yaitu melepaskan flora dan fauna secara liar guna memperbaiki keseimbangan ekosistem akibat ulah manusia itu sendiri. Konservasi merupakan langkah konkret yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat Bali selaku pemilik tanaman endemik itu sendiri sebagai refleksi Hari Konservasi Kehidupan Liar Sedunia guna menyelamatkan populasi pohon badung. 

Upaya konservasi untuk menyelamatkan populasi pohon badung di alam dapat dilakukan secara in vitro, dengan melakukan perbanyakan dengan kultur jaringan. Pelestarian tumbuhan secara in vitro mempunyai beberapa keuntungan yakni dapat menyimpan tanaman langka yang hampir punah, dapat menyimpan tanaman yang tidak menghasilkan biji, bebas gangguan yang disebabkan aktivitas alam dan dapat disimpan dalam keadaan bebas penyakit.

Perbanyakan dengan kultur jaringan dapat dilakukan melalui jalur embriogenesis somatic untukmembentuk tanaman baru menggunakan bahan tanaman berupa organ vegetatif, sehingga permasalahan biji rekalsitran dari pohon badung dapat diatasi. Embriogenesis somatik (ES) merupakan proses perkembangan sel somatik membentuk tanaman baru melalui tahap perkembangan embrio tidak melalui fusi gamet (Lengkong, 2009). Cara ES banyak mendapat perhatian karena keunggulan metode ini dapat menghasilkan jumlah propagul/ produk yang dihasilkan tidak terbatas dan dapat dihasilkan dalam waktu yang lebih singkat.


*. Tulisan dalam kategori OPINI adalah tulisan warga Net. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Komentar