nusabali

PSE Keuskupan Denpasar Gencarkan Pelatihan Pembuatan Eco Enzyme

  • www.nusabali.com-pse-keuskupan-denpasar-gencarkan-pelatihan-pembuatan-eco-enzyme

DENPASAR, NusaBali.com – Program pelatihan pembuatan eco enzyme terus berkesinambungan dilakukan oleh Kelompok Eco Enzyme Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Denpasar. Sejak dua tahun lalu, sosialisasi pembuatan eco enzyme rutin dilaksanakan di Denpasar.

 “Kami melakukan praktik pembuatan eco enzyme sejak bulan Oktober 2020. Dan sosialisasi ini kami lakukan setiap dua minggu sekali,” ujar Ketua Kelompok Eco Enzyme PSE Keuskupan Denpasar, Martinus Limana, 58. 

Keseriusan ini juga ditunjukkan saat tahun lalu menghadirkan Ketua Eco Enzyme Nusantara Joko Riyanto di Rumah Singgah St Mikael Br Semer, Kerobokan pada 17 Oktober 2021.

“Melalui sosialisasi eco enzyme ini diharapkan setiap orang atau setiap keluarga mengenal eco enzyme dan mengetahui cara pembuatannya,“ kata Martinus.

Sosialisai yang digelar dua mingguan ini terakhir diselenggarakan di basement Katedral Denpasar, Minggu (16/10/2022) siang. Terlihat sosialisasi itu dipenuhi puluhan ibu-ibu dan para remaja.

Cara pembuatan eco enzyme, kata Martinus, sebenarnya  tidak begitu sulit. Metode yang digunakan adalah 1:3:10. Rumus yang ia maksud adalah 1 bagian dari gula merah atau cairan melosen atau gula tebu, 3 bagian sisa bahan organik seperti sayur dan buah, dan 10 bagian air. 

Bahan-bahan yang dibutuhkan pun kata Martinus Limana adalah bahan yang gampang ditemui. Untuk satu bagian gula, ia menyarankan menggunakan gula aren, gula kelapa, atau cairan melosen. Namun tidak dianjurkan menggunakan gula pasir karena termasuk zat kimia. 

Lalu untuk bahan air, sumber air yang bisa digunakan lebih baik menggunakan air sumur. “Disarankan menggunakan air sumur. Jika menggunakan air PAM boleh, tetapi harus diendapkan semalam satu malam karena masih mengandung kaporit,” ujar Martinus Limana menjelaskan.
Selanjutnya, 3 bagian sayur dan buah yang digunakan, kata Martinus Limana paling tidak menggunakan 5 jenis. Dan walaupun menggunakan bahan sisa, Martinus Limana tidak menganjurkan para peserta nantinya menggunakan bahan yang sudah busuk atau berulat. 

“Bahan organis minimal 5 macam bisa kulit pisang, nanas, pepaya atau yang lainnya. Dan jangan menggunakan bahan yang sudah busuk karena bisa saja ini sudah berulat dan akan menyebabkan terganggunya fermentasi lalu bisa menyebabkan hasil yang tidak maksimal,” jelasnya.

Cara pembuatannya pun mudah. Martinus Limana terlebih dahulu memasukkan cairan melosen ke dalam gentong yang telah berisikan 10 liter air. Kemudian ia memasukkan sedikit demi sedikit potongan sisa buah dan sayur lalu selanjutnya ia mengaduk semua itu menjadi satu kesatuan hingga menjadi rata.

Ketika semua step itu berlalu, kemudian ia menjelaskan kepada seluruh peserta untuk menutup rapat wadah tersebut dan memberi label tanggal pembuatan dan tanggal panen.

“Ditutup rapat selama 3 bulan dan di letakkan di ruang terbuka tanpa terkena sinar matahari langsung. Nantinya satu minggu pertama, buka tutup wadah untuk membuang gas,” ujarnya.

Martinus Limana pun menegaskan bahwa cairan eco enzyme ini dibuat bukan untuk diperjual belikan karena telah dipatenkan oleh sang penemu asal Thailand, Dr Rosukon sebagai pemilik hal paten tidak mengizinkan hasil karyanya diperjualbelikan.

Lebih lanjut, Martinus Limana mengatakan jika masyarakat umum bisa mendapatkan sample eco enzyme secara gratis dengan cara menghubungi Kelompok Eco Enzyme PSE Keuskupan Denpasar. Ia menuturkan jika pihaknya telah menyetok ribuan liter untuk kegiatan sosial. 

“Eco enzym ini tidak untuk diperjualbelikan, jadi semua dikasihkan gratis untuk sosial,” tegas Martinus Limana.

Martinus Limana sangat senang dengan antusias masyarakat yang datang untuk mengikuti sosialisasi pembuatan eco enzyme. Dirinya berharap ketika semua orang saling menularkan ilmu kepada masyarakat yang didapat saat sosialisasi. Sehingga semua masyarakat bisa membuat eco enzyme sendiri.

“Jika hal ini terjadi, betapa alam itu menjadi indah nantinya. Harapan saya kalau semua keluarga mau membuat eco enzyme tentunya Bali ini tidak akan terbebani dengan bau TPA yang bau busuknya luar biasa, kotanya menjadi bersih, udara menjadi bersih dan tentunya menjadi wilayah yang sangat menyehatkan,” harap Martinus Limana.

Eco enzyme memiliki banyak manfaat di kehidupan sehari-hari seperti menjadi karbol alami, seperti sebagai penyubur tanaman, sabun cuci piring, pembersih buah, pereda infeksi kulit saat luka dan sebagainya. 

Dalam kesempatan yang sama, salah satu umat kristiani yang ikut dalam sosialisasi, Maria Goretti mengungkapkan banyak manfaat yang telah ia rasakan setelah menggunakan cairan eco enzyme di kehidupan sehari-harinya.

“Sering saya gunakan untuk cuci piring, mengepel lantai, membersihkan kamar mandi, dan menyiram tanaman,” ujar Maria Goretti.

Selaras dengan hal tersebut, Kristianne Sanjaya menjelaskan dirinya sering menggunakan cairan eco enzyme untuk penghilai bau yang menyengat dari hewan peliharaannya.
“Banyak yang bilang cairan ini untuk penghilang bau, jadi saya coba semprotkan di kandang anjing saya dan benar-benar baunya tidak menyengat. Bahkan saya pernah pakai cairan eco enzyme ini untuk luka yang berfungsi agar luka tersebut tidak membekas,” ujar Kristianne Sanjaya. *ris



Komentar