nusabali

Kelompok Sarining Trigona Pertiwi Sukses Budidayakan Madu Kela-Kela

Rasa Madu Unik, Minim Perawatan

  • www.nusabali.com-kelompok-sarining-trigona-pertiwi-sukses-budidayakan-madu-kela-kela

MANGUPURA, NusaBali.com – Madu trigona atau dikenal di Bali dengan nama kela-kela mulai naik daun. Sensasi rasa yang berbeda dari madu pada umumnya, plus khasiat yang dimiliki, membuat madu kela-kela makin digemari.

Sensasi rasa yang ditawarkan madu kela-kela ini cukup unik, yakni, cair, asam, manis, bahkan ada sedikit pahit. 

Budidaya madu kela-kela di Bali itu pun makin marak. Pasalnya, kela-kela tidak memerlukan perawatan. Sementara harga madunya lebih mahal dari lebah biasa.

Salah satu yang sukses membudidayakan madu kela-kela ini adalah kelompok Sarining Trigona Pertiwi yang berasal dari  Banjar Ketogan, Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.

Walaupun berada di wilayah Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, kelompok yang beranggotakan 22 pembudidaya ini merupakan asuhan BUMDes Desa Bongkasa Pertiwi yang kebetulan anggotanya berdomisili di perbatasan antardesa namun menjorok ke wilayah Desa Taman.

Kelompok ini memiliki dua tempat utama yakni lokasi rintisan atau pertama dengan 80an koloni kela-kela terletak di sebelah selatan Puskesmas Abiansemal IV, Banjar Ketogan, Desa Taman di rumah sang Ketua Kelompok I Made Swastika Antara, 44, dan satu lagi di wilayah Banjar Karang Dalem II, Desa Bongkasa Pertiwi.

Menurut Swastika, kelompok budidaya madu kela-kela tersebut sudah dirintis oleh kolaborasi BUMDes dan CSR Danone-Aqua Mambal pada tahun 2020. Sejak dibentuk, kelompok tersebut sudah berkembang dengan anggota yang bertambah dan membudidayakan madu dari dua jenis kela-kela yakni Tetragonula laeviceps (mungil) dan Lepidotrigona terminata (gemuk).

“Lebah jenis ini juga disebut stingless bee karena tidak menyengat sama sekali,” jelas Swastika saat ditemui di lokasi budidaya di rumahnya, Selasa (13/9/2022) sore.

Lebih lanjut Swastika menjelaskan, kela-kela sama seperti lebah lainnya tidak perlu diberikan makan seperti ternak ruminansia lantaran lebah mencari makanan sendiri dari nektar dan serbuk sari bunga atau pollen.

Oleh karena itu, hanya perlu ditanam tanaman atau pepohonan yang bisa berbunga di sekitar pembudidayaan kela-kela. Dan berkat bebasnya kela-kela mencari makanan di sekitar lokasi pembudidayaan, kata Swastika, rasa madunya jadi kurang konsisten dan justru menambah keunikannya.

Misalkan, terdapat pohon kopi yang sedang berbunga di sekitar tempat pembudidayaan, maka rasa dari madu yang dihasilkan akan memiliki cita rasa sedikit mirip dengan kopi.

Selain pada cara mencari makan yang berakibat pada cita rasa madu, sarang kela-kela juga sangat unik dan sama sekali berbeda dengan lebah madu biasa. Jika lebah madu biasa memiliki sarang berbentuk pipih dan berlubang yang berpola konsisten, kela-kela memiliki sarang berbentuk guci membulat dan menempel satu sama lain.

Guci-guci tersebut pun mengelompok. Terdapat kelompok guci yang digunakan untuk menyimpan pollen bunga yang dibawa oleh kaki kela-kela, dan ada juga kumpulan guci dari cairan nektar yang dimuntahkan lebah endemik tanah air ini.

“Madu muntahan kela-kela dan pollen yang dibawa kakinya ini adalah cadangan makanan untuk koloni lebah yang terdiri dari 1.000-5.000 lebah dengan satu ratu di dalamnya saat musim paceklik,” tutur Swastika yang juga mantan pekerja pariwisata ini.

Madu dari koloni-koloni tersebut dipanen dalam periode bervariasi tergantung kondisi vegetasi dan lingkungan, mulai dari 2 bulan sekali untuk yang gemuk dan 3-4 bulan untuk yang mungil. Per mililiternya, madu kela-kela tersebut dibanderol seharga Rp 1.000 dan dikemas dalam botol berkapasitas 100 mililiter, 200 mililiter, dan 500 mililiter.

“Sejauh ini penyerapan produknya ke BUMDes, tetapi bisa juga dijual secara personal, atau bisa dimanfaatkan untuk keperluan sosial (bansos) masyarakat,” ujar Swastika.

Sementara itu, bagi masyarakat yang tertarik membudidayakan lebah yang menghasilkan madu berkhasiat untuk imunitas dan kesehatan lainnya ini, Kelompok Sarining Trigona Pertiwi menyediakan paket budidaya koloni kela-kela mulai dari Rp 250.000-Rp 450.000 per kotak sarang. Harga tersebut bervariasi tergantung model sarangnya, yakni kotak, beratap, atau dengan kaki peyangga dan atap. *rat

Komentar