nusabali

Pembangunan Museum untuk Lestarikan Tari Sakral Sang Hyang Dedari

  • www.nusabali.com-pembangunan-museum-untuk-lestarikan-tari-sakral-sang-hyang-dedari

Diprakarsai tim peneliti tari sakral dari Fakultas Filsafat Lingkungan Hidup UI yang dipimpin Saras Dewi, Musem Sang Hyang Dedari ditarget sudah beroperasi Mei 2017 depan

Museum Sang Hyang Dedari Dibangun Krama Desa Pakraman Geriana Kauh, Karangasem


AMLAPURA, NusaBali
Museum tari aakral Sang Hyang Dedari tengah dibangun krama Desa Pakraman Geriana Kauh, Kecamatan Selat, Karangasem. Museum yang dibangun untuk melestarikan tari sakral Sang Hyang Dedari dan Sang Hyang Jaran Gading ini ditargetkan akan beroperasi, Mei 2017 depan.

Bangunan fisik Musem Sang Hyang Dedari di Desa Pakraman Geriana Kauh yang berukuran 11 meter x 9 meter ini dibangun di atas lahan seluas 11 are. Posisinya bersebelahan dengan Pura Pajenengan, Desa Pakraman Geriana Kauh. Nantinya, Museum Sang Hyang Dedari akan didukung beberapa bangunan penunjang, seperti Pasraman, Ruang Informasi, Bale Sakapat, Bale Bali, hingga kamar kecil, tembok panyengker, dan parkir. Saat ini, pembangunan Musem Sang Hyang Dedari di Desa Pakraman Geriana Kauh sudah mencapau 85 persen.

Menurut Bendesa Pakraman Geriana Kauh, Jro Wayan Berata, pembangunan Museum Sang Hyang Dedari ini sudah berlangsung selama tiga bulan sejak upacara Mamakuh (peletakan batu pertama) pada Anggara Paing Watugunung, Selasa, 17 Januari 2017 lalu, yang dipuput Ida Pedanda Istri Rai Taman (sulinggih dari Griya Taman, Banjar Pegubugan, Desa Duda, Kecamatan Selat, Karangasem).

“Kita targetkan museum ini segera rampung dan bisa dilaunching akhir Mei 2017 menda-tang,” ungkap Bendesa Jro Berata didampingi sederet tokoh Desa Pakraman Geriana kauh, seperti Jro Mangku Wangi, I Ketut Darma, dan I Nyoman Subrata kepada NusaBali di lokasi proyek Museum Sang Hyang Dedari, Jumat (14/4).

Saat ini, lanjut Bendesa Jro Berata, proses pengerjaan bangunan utama Museum Sang Hyang Dedari tinggal memasang keramik. “Sedangkan isi musem masih ditunggu, seperti patung Sang Hyang Dedari, gambar-gambar tari Sang Hyang, video, literatur, dan sarana penunjang lainnya,” jelas Bendesa Jro Berata.

Jro Berata memaparkan, Museum Sang Hyang Dedari yang tengah dalam penggarapan ini dibangun atas dukungan Saras Dewi, pengajar Fakultas Filsafat Lingkungan Hidup Universitas Indonesia yang juga dikenal sebagai penyanyi. Saras Dewi---yang notabene putri dari anggota Fraksi PDIP DPR RI Dapil Bali, Nyoman Dhamantra---kebetulan merupakan peneliti tari sakral Sang Hyang Dedari.

Menurut Jro Berata, Musuem Sang Hyang Dedari ini dibangun dengan tujuan untuk melestarikan dua tarian sakral dari Desa Pakraman Geriana Kauh, yakni tari Sang Hyang Dedari dan tari Sang Hyang Jaran Gading. Kedua tarian sakral ini perlu dilestarikan, karena keberadaannya berkaitan erat dengan kelangsungan kehidupan masyarakat agraris. “Tari sakral Sang Hyang Dedari dipentaskan setahun sekali, disinkronkan dengan prosesi ritual yang bertujuan untuk memohon kesuburan,” cerita Jro Berata.

Jro Berata mengisahkan, proses pembangunan Museum Sang Hyang Dedari ini berawal dari adanya tim peneliti Fakultas Filsafat Lingkungan Hidup UI yang terjun melakukan penelitian tentang pelestarian tari sakral Sang Hyang Dedari, 2 tahun silam. Tim peneliti ini dipimpin Saras Dewi, yang akan menyelesaikan program Doktor (S3).

Seusai melakukan penelitian tahun 2015, Saras Dewi menawari Bendesa Jro Berata agar membangun Museum Sang Hyang Dedari. Mengenai biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan museum ini, kata Jro Berata, pihak tim peneliti UI akan melakukan penggalangan dana.

Sementara itu, salah satu tokoh Desa Pakraman Geriuana Kauh, Jro Mangku Wangi, menyatakan pihaknya menyambut antusias pebangunan Museum Sang Hyang Dedari ini. Apalagi, Jro Mangku Wangi adalah seorang pragina (penari) tarian sakral Sang Hyang Jaran Gading, yang telah dilakoninya selama 46 tahun sejak 1971 silam.

“Dengan adanya Museum Sang Hyang Dedari, tentunya akan lebih menjamin pelestarian tari sakral di sini. Apalagi, tarial sakral selama ini secara rutin dipentaskan berkaitan adanya upacara mohon kesuburan tanaman padi,” jelas Jro Mangku Wangi.

Disebutkan, tari sakral Sang Hyang Dedari dan Sang Hyang Jaran Gadung telah diwarisi secara turun temurun. Dalam tahun 2017, tarian sakral ini akan dipentaskan 4 kali. Pertama, dipentaskan dipentaskan pas Hari Raya Kuningan pada Saniscara Kliwon Kuningan, Sabtu (15/4) ini. Tiga pementasan berikutnya masing-masing Kamis (20/4), Senin (24/4), dan Selasa (25/4) depan.

Menurut Jro Mangku Wangi, dirinya merupakan spesialis pragina tari sakral Sang Hyang Jaran Gading. Sedangkan pragina tari sakral Sang Hyang Dedari yang saat ini siap mentah berjumlah 4 orang, semuanya perempuan, masing-masing Ni Nyoman Suryantari, Ni Komang Septiani, Ni Kadek Anggi, dan Ni Wayan Siska.

Jro Mangku Wangi menyebutkan, penari Sang Hyang Dedari haruslah usia remaja yang belum pernah datang bulan. Biasanya, penari Sang Hyang Dedari digantikan setiap 2 tahun sekali.

Sementara, tokoh Desa Pakraman Geriana kauh lainnya, I Nyoman Subrata, menyatakan pembangunan Museum Sang Hyang Dedari pukan hanya penting untuk melestarikan tari sakral. Selain itu, dengan keberadaan Museum Sang Hyang Dedari ini, ke depannya bisa menjadi cikal bakal status desa wisata bagi Desa Pakraman Geriana Kauh. “Apalagi, ini didukung kehidupan masyarakat agraris, seni tabuh gong, angklung, gambang, gender wayang, dan kerajinan,” harap Nyoman Subrata. * k16

Komentar