nusabali

Terkagum-kagum, Satu Keluarga Turis asal Belanda Ikut Mapeed

Di Tengah Pelaksanaan Tradisi Peed Saat Piodalan Pura Dalem Gede Sukawati, Gianyar

  • www.nusabali.com-terkagum-kagum-satu-keluarga-turis-asal-belanda-ikut-mapeed

Turis Belanda ini berhias seperti layaknya krama setempat yang mengikuti tradisi Peed. Mereka pun ikut iring-iringan Mapeed dengan berjalan kaki.

GIANYAR, NusaBali
Tradisi Peed Desa Adat Sukawati, Kecamatan Sukawati kembali digelar pasca dua tahun ditiadakan karena Pandemi Covid-19. Tradisi Peed ini digelar selama 4 hari beruntun setiap kali Pujawali di Pura Khayangan Tiga. Seperti saat piodalan Pura Dalem Gede Sukawati. Mulai Anggara Kasih Tambir, Selasa (2/8) lalu tradisi ini berlangsung hingga Sukra Pon Tambir, Jumat (5/8) sore pukul 16.00 Wita-19.00 Wita. Krama desa berjalan kaki beriringan dari Pura Dalem Gede Sukawati menuju Beji Cengcengan yang berjarak sekitar 1,5 kilometer. Yang menarik, pada gelaran terakhir Tradisi Peed, Jumat kemarin, terlihat wisatawan mancanegara (Wisman) alias turis asal Belanda satu keluarga ikut serta mapeed.

Mereka berhias seperti layaknya krama setempat yang mengikuti tradisi Peed. Mereka terlihat ikut iring-iringan Mapeed dengan berjalan kaki. Bahkan mereka antusias mengikuti mapeed dari awal hingga akhir. Guide I Gusti Ngurah Oka Jembawa mengatakan turis asal Belanda ini baru pertama kali berwisata ke Bali. "Mereka sedang berlibur," jelasnya. Turis satu keluarga ini kebetulan menginap di salah satu akomodasi wisata dekat Pantai Purnama, Sukawati. "Mulanya saya ajak mereka menonton. Kemudian mereka mengaku tertarik untuk ikut," jelas Gusti Oka. Sebagai pemandu, guide asal Banjar Gelumpang, Sukawati, Gianyar ini mengajak turis satu keluarga ini berhias di salah satu salon.

"Pas hari terakhir ini giliran Banjar Gelumpang (banjarnya Gusti Oka, Red), Bedil dan Dlodpangkung yang mapeed, jadi saya ajak mereka," jelas Gusti Oka. Salah satu turis, yakni Rachel mengaku tertarik karena Tradisi Peed baginya sangat cantik, penuh warna dan meriah. "Very beautiful," ungkapnya. Rachel mengaku mengajak suami, seorang putrinya dan tiga putranya berikut pasangan masing-masing, total 9 orang. Mereka pun jalan berpasangan. Kehadiran para turis asal Belanda ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang menonton di sepanjang jalan. Sesekali juga turis ini melempar senyum dan melambaikan tangan.

Sementara Bendesa Adat Sukawati, I Made Sarwa mengatakan tradisi Peed di Desa Adat Sukawati dilakukan dengan cara berjalan kaki secara beriringan mengenakan payas Bali. Mulai dari anak-anak, remaja, ibu PKK hingga lansia pun antusias berjalan kaki mulai dari Pura Dalem hingga Pura Beji Cengcengan, perbatasan Desa Sukawati dengan Desa Guwang.

Tradisi yang diwarisi secara turun temurun ini sifatnya sakral. Nilai sakral tradisi ini terletak pada tujuan Peed, yakni Mendak Tirta atau Toya Ning (air suci, red) di Pura Taman Beji. “Selanjutnya, air suci ini dipergunakan selama Pujawali berlangsung. Pujawali berlangsung selama 4 hari. Selama 4 hari itu pula digelar tradisi Mapeed ini,” ungkap Bendesa Made Sarwa. Seperti lazimnya Peed, tradisi ini diawali dengan barisan lelontekan, tedung, pasepan, dan sarana upakara lainnya. Sementara krama lanang maupun istri yang berhias menggunakan payas Bali berada di tengah-tengah. Paling akhir, iringan Peed ini dilengkapi dengan tetabuhan Baleganjur.

Selama 4 hari berlangsungnya tradisi Peed ini pun melibatkan krama yang berbeda setiap banjar. Di Sukawati, diistilahkan sebagai krama penyatusan. Dari 12 banjar, masuk dalam 4 satusan. Hari pertama yang Mapeed satusan Tebuana, hari kedua satusan Palak, hari ketiga satusan Telabah dan saat nyimpen satusan Gelumpang. *nvi

Komentar