nusabali

Guru dari 100 SD di Denpasar Ikuti Pelatihan Lingkungan Hidup

  • www.nusabali.com-guru-dari-100-sd-di-denpasar-ikuti-pelatihan-lingkungan-hidup

DENPASAR, NusaBali
Guru dan tenaga kependidikan dari 100 SD di Kota Denpasar mendapat pelatihan pengembangan numerasi, literasi, dan karakter terhadap pendidikan lingkungan hidup berdasarkan Tri Hita Karana yang diselenggarakan Yayasan Bali Wastu Lestari, di Bali Wangi Venue, Jalan Sedap Malam, Denpasar.

Yayasan Bali Wastu Lestari yang memiliki bank sampah dengan nama yang sama merupakan salah satu organisasi masyarakat di Bali yang dipilih Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk menjalankan Program Organisasi Penggerak (POP) yang dimiliki Kemendikbudristek.

Guru atau tenaga kependidikan yang mendapat pelatihan nantinya diharapkan mengimplementasikan berbagai teori dan praktik terkait lingkungan hidup yang diterima selama mengikuti pelatihan selama empat hari, 26–29 April 2022.

Ketua Yayasan Bali Wastu Lestari Ni Wayan Riawati, menuturkan selama empat hari para peserta akan mendapatkan pelatihan terkait praktik penyelamatan lingkungan hidup. Menurut Riawati, perubahan iklim, pemanasan global adalah masalah nyata di hadapan kita. Dalam masyarakat Bali sudah ada filosofi Tri Hita Karana, namun belum maksimal diterapkan khususnya terkait pengelolaan lingkungan hidup.

“Ada 100 sekolah (SD) yang ingin kami ajak dan dijadikan sebagai role model bagaimana sekolah-sekolah ini dalam kesehariannya mampu mendukung pengurangan pemanasan global,” kata Riawati di sela kegiatan pelatihan hari pertama.

Ujung tombak program ini, ujarnya, adalah pengelolaan bank sampah di masing-masing sekolah. Bali Wastu Lestari yang berpengalaman mengelola bank sampah, akan mengajak sekolah belajar manajemen pengelolaan bank sampah sekolah secara lebih profesional. Termasuk menggandeng Bank BPD Bali sebagai salah satu narasumber untuk mengintegrasikan bank sampah sekolah dengan layanan perbankan.

Riawati menuturkan POP akan disinergikan dengan Program Merdeka Belajar di sekolah, sehingga nantinya sekolah bisa memasukkan program lingkungan hidup ke dalam kurikulum yang disusun sekolah secara mandiri. Nantinya, setelah siswa mendapat sosialisasi terkait penanganan sampah, diharapkan mereka juga akan meneruskan kesadarannya pada lingkungan rumah/tempat tinggal. “Itu target besarnya,” ujar Riawati.

Dia mengungkapkan tahun 2022 adalah tahun kedua dari tiga tahun kerjasama Bali Wastu Lestari dengan pihak Kemendikbudristek. Pada akhirnya nanti akan ada evaluasi apakah program-program yang dijalankan memberi dampak pada perubahan perilaku siswa yang mulai peduli terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. “Dalam jangka panjang diharapkan bisa mendorong perilaku secara berkelanjutan,” ucap Riawati.

Perwakilan dari Kemendikbudristek sekaligus sebagai narasumber pada pelatihan hari pertama, Debby Lukito Goeyardi, mengungkapkan bahwa tanggung jawab menjaga bumi harus ditanamkan sejak dini kepada siswa.

Debby pada kesempatan tersebut memberikan pemaparan terkait pembuatan kerangka pembelajaran dengan memasukkan literasi dan numerasi lingkungan hidup, namun dengan metode yang tepat diterapkan kepada anak-anak.”"Perubahan iklim sudah menjadi ancaman, bukan lagi sebuah wacana,” ujarnya.

Salah seorang peserta guru mengatakan pelatihan yang diikuti menambah wawasan terkait bagaimana mengelola sampah yang ada di sekitar dengan lebih baik. “Peserta diberikan kesadaran bagaimana memilah sampah dan memanfaatkan sampah menjadi barang yang berharga,” ujar I Gusti Ketut Alit Supartha SPd, guru di SDN 3 Sanur.

Dia menyebut sekolahnya akan segera mengimplementasikan materi yang didapat, namun kemungkinan baru bisa terealisasi pada tahun ajaran baru nanti. “Karena tahun ajaran ini baru saja dilakukan pembelajaran tatap muka, sehingga kami belum bisa berbuat maksimal,” kata Alit Supartha. *cr78

Komentar