nusabali

Dua Desa Tua di Manggis Ini Sudah Ada Sebelum Masuknya Majapahit

  • www.nusabali.com-dua-desa-tua-di-manggis-ini-sudah-ada-sebelum-masuknya-majapahit

Krama Desa Pakraman Bungaya, Kecamatan Bebandem, Karangasem melaksanakan Nyepi Tahun Baru Saka 1939 pada 28 Maret 2017 bersamaan dengan digelarnya upacara Usaba Dalem di Pura Dalem

Desa Pakraman Tenganan Pagringsingan dan Desa Pakraman Tenganan Dauh Tukad Tidak Laksanakan Nyepi


AMLAPURA, NusaBali
Tidak semua desa adat di Bali melaksanakan hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka. Dari 1.488 desa adat yang ada, 2 di antaranya tidak melaksanakan Nyepi Tahun Baru Saka yang jatuh setahun sekali sehari pasca Tilem Kasanga. Kedua desa adat bertetangga di wilayah Kecamatan Manggis, Karangasem, yakni Desa Pakraman Tenganan Pa-gringsingan dan Desa Pakraman Tenganan Dauh Tukad, trmasuk desa tua yang sudah ada sebelum masuknya pengaruh Majapahit ke Bali.

Kedua desa bertetangga ini tidak melaksanakan Catur Brata Penyepian, karena mereka memang tidak memiliki tradisi ritual Nyepi. Maklum, Desa Pakraman Tenganan Pagringsingan dan Desa Pakraman Tenganan Dauh Tukad merupakan desa tua di Bali, yang sudah ada jauh sebelum masuknya pengaruh Kerajaan Majapahit. Sedangkan tradisi ritual Nyepi masuk Bali dengan dibawa Kerajaan Majapahit.

Hal ini diungkap Bendesa Pakraman Tenganan Dauh Tukad, I Wayan Tisna, kepada NusaBali, Selasa (14/3). “Karena Desa Pakraman Tenganan Dauh Tukad sudah ada sebelum masuknya pengaruh Majapahit, maka di sini tidak ada tradisi Nyepi,” terang Wayan Tisna.

Kendati tidak melaksanakan tradisi ritual Nyepi, namun seluruh krama Desa Pakraman Tenganan Dauh Tukad yang mencapai 245 kepala keluarga (KK) tetap menghormati pera-yaan Nyepi Tahun Saka yang dilaksanakan umat sedharma. Caranya, krama yang tinggal di dua banjar adat yakni Banjar Kaler dan Banjar Kelod ini tetap tinggal di wilayahnya masing-masing saat Nyepi.

hal serupa juga berlaku bagi Desa Pakraman Tenganan Pagringsingan, yang tidak merayakan Nyepi. Tidak keluar wilayah desa ini berlaku bagi seluruh krama Desa Pakraman Tenganan Pagringsingan dan Desa Pakraman Tenganan Dauh Tukad saat Nyepi Tahun Baru Saka 1939 pada 28 Maret 2017 mendatang. Desa Tenganan Pagringsingan merupakan satu dari tiga desa ‘Bali Aga’, selain Desa Pakraman Trunyan (Kecamatan Kintamani, Bangli) dan Desa Sembiran (Kecamatan Tejakula, Buleleng).

Bendesa Pakraman Tenganan Pagringsingan, I Wayan Yasa, mengatakan krama setempat memang tidak melaksanakan Catur Brata Penyepian. Meski demikian, krama Desa Pakraman Tenganan Pagringsingan tetap melaksanakan upacara pecaruan saat Pangrupukan Nyepi (sehari sebelum Nyepi Tahun Baru Saka), tepatnya pada Tilem Kasanga.

Sedangkan saat sipegng (catur Brata Penyepian bagi umat Hindu di Bali), krama Desa Pakraman Tenganan Pagringsingan bukan hanya tidak melakukan aktivitas ke luar desa, namun juga tidak membunyikan benda-benda yang mengganggu khusyuknya pelaksanaan Nyepi di desa lain. Namun, setiap pagi pukul 06.00 Wita, Desa Pakraman Tenganan Pa-ringsingan tetap wajib mebunyikan kulkul desa.

“Kan kulkul desa dibunyikan pukul 06.00 Wita, sedangkan Nyepi belum dimulai. Kulkul desa dibunyikan sebagai pertanda memulai lakukan aktivitas,” jelas Bendesa Wayan Yasa yang kesehariannya bekerja sebagai guru SMK Negeri Manggis, Karangasem.

Bendesa Wayan Yasa menjelaskan, Desa Pakraman Tenganan Pagringsingan sebenarnya mengenal upacara Nyepi, namun itu bukan Nyepi Tahun Baru Saka. Nyepi adat di sini dilaksanakan pada Sasih Kasa (bulan pertama sistem penanggalan Bali). “Upacara Sasih Kasa, memulai bulan pertama, diselingi dengan Nyepi internal adat setempat,” katanya.

Nyepi spesial di Desa Pakraman Tenganan Pagringsingan ini dilaksanakan seusai Usaba Abuang. Menurut tokoh Desa Pakraman Pagringsingan, I Nyoman Sadra, dalam Nyepi khusus ini juga ada pantangan-pantangan yang harus dilaksanakan krama setempat. Pa-ntangan itu, antara lain, tidak boleh nebuk atau memukul alat penumbuk padi, tidak boleh membunuh binatang di wilayah desa, tidak boleh memukul benda logam, dan tidak boleh menggali tanah sedalam siku.

“Maksud tidak boleh memukul logam ini adalah tidak boleh membunyikan alat musik tradisional seperti selonding, gong, angklung, dan gangsa,” terang Nyoman Sadra yang juga mantan Kepala Desa (Perbekel) Tenganan Pagringsingan kepada NusaBali dalam suatu kesempatan.

Sedangkan larangan menggali tanah sedalam sikut, kata Sadra, punya makna agar ibu pertiwi sempat istirahat melalui penggalian yang dilakukan petani. Pantangan-pantangan yang dilakoni krama Desa Pakraman Pagringsingan saat Nyepi khusus sehari pasca Usaba Abuang ini, berbeda dengan pantangan yang dilakoni umat Hindu umumnya saat Nyepi Tahun Baru Saka. Bagi umat Hindu, mereka menjalani pantangan yang disebut Catur Brata Penyepian: Amati Gni (larangan menghidupkan api), Amati Karya (larangan bekerja), Amati Lelungan (larangan bepergian), dan Amati Lelanguan (larangan bersenang-senang).

Sementara itu, Desa Pakraman Bungaya, Kecamatan Bebandem, Karangasem beda lagi dalam merayakan Nyepi Tahun Baru Saka 1939 pada 28 Maret 2017 mendatang. Pasalnya, perayaan Nyepi Tahun Baru Saka jatuh bertepatan dengan pelaksanaan upacara Usaba Dalem di Pura Dalem, Desa Pakraman Bungaya.

Menurut Kelian Kerta Desa Pakraman Bungaya, I Gede Krisna Adi Widana, krama setempat tetap melaksanakan Nyepi Tahun Baru Saka sebagaimana layaknya umat Hindu di Bali, namun upacara Usaba Dalem tetap berjalan. Teknisnya, saat puncak Nyepi Tahun Baru Saka nanti, upacara Usaba Dalem dilaksanakan malam hari mulai pukul 19.00 Wita.

Karena berlangsung saat Nyepi, upacara Usaba Dalem di Pura Dalem pun dilaksanakan dalam suasana gelap. “Seluruh krama harus jalan kaki dari rumah menuju Pura Dalem, tidak boleh ada lalulalang kendaraan. Kami juga tidak mengeluarkan bunyi-bunyian berupa suara kulkul dan genta di Pura Dalem” unglap Gede Krisna Adi Widana, Selasa kemarin. * k16

loading...

Komentar