nusabali

Nelayan Gianyar Tanggapi Santai

Soal Rencana Kenaikan BBM

  • www.nusabali.com-nelayan-gianyar-tanggapi-santai

GIANYAR, NusaBali
Nelayan di Kabupaten Gianyar selama ini sangat tergantung dengan bahan bakar minyak (BBM) untuk melaut.

Sebab mesin perahu mereka mengandalkan bahan bakar, seperti Pertalite dan Pertamax. Meski demikian, para nelayan di Gianyar menanggapi santai terkait rencana pemerintah akan menaikkan harga BBM per 1 April 2022.  Ketua Kelompok Nelayan Lebih Made Ana mengatakan sampai saat ini di kelompok nelayannya terdapat 198 nelayan. Dari total tersebut, 60 persen aktif dan 40 persen baru melaut saat ikan tangkapan melimpah, guna menghemat BBM. "Sampai saat ini, nelayan Pantai Lebih masih melaut dengan normal," ujarnya, Kamis (31/3).

Lebih lanjut, dikatakan, jika nanti nelayan melaut dengan harga BBM naik, maka cara untuk menstabilkan biaya operasional, tentu dengan menaikkan harga hasil tangkapan. Selain itu juga dengan memperhitungkan kondisi keberadaan tangkapan. "Kalau harga BBM naik, ya, terpaksa kami juga menaikkan harga ikan, hal tersebut sudah biasa. Menyesuaikan biaya operasional," ujarnya.

Tokoh Nelayan Pantai Gumicik, Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati I Wayan Puja mengatakan hal demikian. Jika harga BBM naik, kemungkinan para nelayan di Gumicik akan merubah sistem melaut. Jika terjadi kenaikan harga bahan bakar, maka akan memperpendek jarak tempuh dan hanya melaut ketika tangkapan sedang bagus. Selain itu, tentu akan ada penyesuaian harga jual hasil tangkapan. "Jika harga bahan bakar naik, maka kami akan memperpendek jarak tempuh, dan menyesuaikan dengan kondisi ikan di laut," ujarnya.

Puja mengatakan kebetulan sejak beberapa hari lalu, para nelayan Gumicik tengah tidak melaut karena sedang ada kegiatan adat. Namun seharusnya, saat ini nelayan sedang panen. Sebab kondisi gelombang sedang tenang. "Harusnya sekarang lagi panen, karena cuaca sedang bagus. Tapi karena sedang ada kegiatan adat, jadi nelayan di sini sedang tidak melaut," ujarnya. *nvi

Komentar