nusabali

Kayu Asem Langka, Bahan Baku Talenan Didatangkan dari Jawa

  • www.nusabali.com-kayu-asem-langka-bahan-baku-talenan-didatangkan-dari-jawa

GIANYAR, NusaBali
Kayu Asem atau Asam sebagai bahan baku utama talenan bundar mulai langka di Bali. Untuk memenuhi kebutuhan pasar, pembuat talenan memasok bahan baku dari Jawa.

Seperti diungkapkan I Wayan Rudi,53, salah satu dari empat perajin talenan di Banjar Peteluan, Desa Temesi, Kecamatan Gianyar.  Kata Rudi, sebelumnya pernah bahan baku talenan didatangkan dari Buleleng, Jembrana, dan Karangasem. Namun kini kayu Asam sudah semakin langka di Bali hingga bahan baku didatangkan dari Jawa. "Pasokan datang dari Jawa, Madura, Banyuwangi, dan Situbondo," jelasnya saat ditemui Rabu (30/3).

Untuk menghemat ongkos, Wayan Rudi membeli dalam satuan truk. Nominalnya bisa mencapai belasan juta rupiah dalam satu kali pengiriman. Setelah bahan baku tiba, menjadi tugasnya untuk memotong sesuai ukuran. Pemotongan menggunakan mesin sensor. "Untuk satu truk, ongkos potong sekitar Rp 3 jutaan," jelasnya.

Ukuran yang dihasilkan bervariasi sesuai bentuk kayu. Paling kecil diameter 25 cm, 35 cm, sampai 60 cm. Kisaran harga juga bervariasi mulai Rp 30.000 - Rp 300.000 per buah. "Rata-rata satu truk menghasilkan 500 talenan berbagai ukuran," jelasnya.

Talenan buatannya sering diambil pengepul dari Tabanan, Denpasar, Badung. "Kalau ambil banyak untuk di jual lagi, saya kasi harga lebih murah," terangnya.

Selain Wayan Rudi, ada tiga pembuat talenan sejenis. Namun Rudi termasuk sebagai pemula. Pedagang asal Kintamani ini mengatakan mulai coba peruntungan di usaha kayu sejak Tahun 1991. Saat itu Rudi menjual pengotok atau palu kayu untuk pahat. "Ini berawal di Tahun 1991, saya menjual pengotok (palu kayu untuk pahat)," jelasnya. Pengotok tersebut dibeli tukang ukir dari Ubud, Tegalalang, Batuan dan daerah lainnya. Karena banyak bahan terbuang untuk pengotok, maka sisa kayu iseng-iseng dibuat untuk talenan. "Waktu itu, Tahun 92-an, saya pajang seratusan talenan, akhirnya laku dalam seminggu menjelang Galungan, sejak saat itu saya mulai menjual talenan sambil jual pengotok," terangnya.

Saat pandemi Covid-19, diakui pendapatannya sempat turun sampai 70 persen, namun dirinya bertahan berjualan talenan. Sebelumnya, menjelang Galungan, dengan stok 500 talenan habis terjual dalam sebulan, kini hanya laku sebagian. Sedangkan untuk Galungan yang sudah dekat ini, dia menyediakan stok sekitar 400 talenan berbagai ukuran. "Semoga perekonomian segera membaik, sehingga pendapatan kami juga meningkat," harapnya.

Wayan Rudi optimis kebutuhan talenan tetap diburu meskipun tiap rumah tangga sudah memiliki. Apalagi menjelang Galungan, biasanya permintaan semakin meningkat. *nvi

Komentar