nusabali

Mendefinisi Perupa dari Karya Lukis Cat Air

Pameran Lukis IWCS di Komaneka Keramas, Gianyar

  • www.nusabali.com-mendefinisi-perupa-dari-karya-lukis-cat-air

GIANYAR, NusaBali
Karya seni rupa, terlebih lolos dalam ruang pameran bergengsi, umumnya lahir dari proses eksplorasi seniman agung atau yang diagungkan.

Pameran lukisan cat air bertajuk ‘We All Connected’ di Komaneka Fine Art Keramas Beach, Pantai/Desa Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, mengisyaratkan definisi ulang atas kelaziman itu.

Pameran dibuka Minggu (5/12) berlangsung hingga Rabu (15/12). Pameran memamerkan 60 karya lukis cat air dari 35 seniman dibawah naungan IWCS (Indonesia Water Color Summit). Pameran ini menjadi unik dan tetap gagah, meskipun memamerkan karya-karya bukan murni seniman. Mereka berasal dari pelbagai profesi, mulai dari kaum remaja, ibu rumah tangga, dosen IT, arsitek, bahkan perbankan.

Salah seorang pelukis, Yesika yang bankir di Jakarta, mengaku sejak kecil punya hobi menggambar. Hobi itu makin kuat tersalurkan karena pandemi yang memaksa harus beraktivitas untuk mengisi waktu di rumah. ‘’Awalnya saat melukis, saya harus menggali bentuk. Akhirnya saya percaya diri untuk memamerkan karya di sini,’’ jelasnya.  Dia mengaku bersyukur bisa bertemu komunitas IWCS yang mengajarkan melukis cat air secara online. Talentanya pun makin terasah.

Secara umum, semangat dan ragam tema karya dalam pameran ini mereprentasikan tentan kehidupan sosial pelukisnya. Mulai dari nostalgia masa kecil, kepekaan terhadap lingkungan, bahkan sikap kritis terhadap dunia sekitar.

Lukisan karya Jovita Nathania berjudul ‘Multitasking (Fight Stigma Againts Momen)’, misalnya, syarat pesan gerakan feminisme. Pelukis muda yang baru pertama kali berpameran ini menyuguhkan figur ibu rumah tangga   dengan sejumlah job di dapur. Dia memasak sambil mengendong anak, menjawab telepon, dan mengaktifkan laptop. ‘’Saya ingin meluruskan stigma, bahwa perempuan modern tak hanya mahir memasak dan mengurus anak. Dengan memanfaatkan tekonologi (hanphone dan komputer), perempuan juga mampu melakukan banyak hal dari rumah,’’ ujar Jovita optimistik, di sela-sela pameran itu.

Rektor ISI Denpasar I Wayan ‘Kun’Adnyana juga hadir dalam pembukaan pameran ini. Dia pun menyatakan kekagumannya atas karya-karya perupa muda IWCS. ‘’Melukis dengan cat air ini perlu proses lebih intens dan hati-hati,’’ ujar mantan Kepala Dinas Kebudayaan Bali ini.  

Pemimpin IWCS Silvia Zulaika mengatakan IWCS adalah komunitas yang dibentuk pada Februari 2019, saat awal pandemi melanda negeri. IWCS berbasis seni dan kewirausahaan bermisi utama; memromosikan cat air agar bernilai lebih layak secara ekonomi, menjadikan seniman cat air mandiri, berpengetahuan luas, dan berkembang seperti media-media seni rupa lainnya sesuai gerak zaman. ‘’Tekad kami, seni lukis cat air mesti mampu bersaing.  Dan, kami di IWCS meyakinkan perupa muda ini bisa,’’ ujarnya,

Silvia memaparkan, mulanya program IWCS menggelar kelas kursus melukis setiap Mei pasca pandemi. Karena  peminat dan potensi seniman cat air muda kian banyak, dibuat kelas-kelas utama dalam event besar 2 kali setahun, termasuk Pre-Summit agar peserta lebih menguasai teknik melukis. IWCS menyediakan tempat belajar bersama secara online (creative zoom room).

Silvia menambahkan, program-program yang disediakan IWCS tidak hanya teknik melukis cat air, tetapi juga mengajarkan tentang branding artis, kepercayana diri, etika bisnis, dan membanun  jaringan, melibatkan mentor-mentor berpengalaman dari dalam dan luar negeri. *lsa

Komentar