nusabali

Kemasan Produk UMKM Sebaiknya Ramah Lingkungan

  • www.nusabali.com-kemasan-produk-umkm-sebaiknya-ramah-lingkungan

JAKARTA, NusaBali.com – Maraknya pertumbuhan UMKM di Indonesia, harus diimbangi dengan inovasi-inovasi serta inisiatif untuk memupuk kepedulian terhadap lingkungan.

Salah satu wujud nyata yang dapat dilakukan oleh para pelaku UMKM untuk berperilaku ramah lingkungan, yakni memperhatikan kemasan produk yang digunakan, serta pengaruh yang ditimbulkan terhadap lingkungan. 

“Dari awal pengemasan produk, hingga produk digunakan, dan pada akhirnya menjadi limbah sampah, perputaran tersebut harus dipikirkan. Sebisa mungkin, kemasan produk yang digunakan juga memiliki fungsi lain, agar dapat digunakan kembali, dan meminimalisir keberadaan sampah yang ada,” ujar Rengkuh Banyu Mahandaru, Founder Plepah id, dalam webinar Gerakan Bangga Buatan Indonesia, di kanal YouTube Mitrasdudi Kemdikbud, Rabu (10/11/2021).

Rengkuh menambahkan, bahwa pelaku UMKM, harus memiliki pemikiran serta cara agar kemasan produk yang diciptakan, sebisa mungkin tidak bermuara di TPA (tempat pembuangan akhir). “Coba gunakan alternatif kemasan yang bersumber dari alam, misalnya yang berasal dari pelepah pinang. Diolah sedemikian rupa agar dapat menjadi kemasan yang ramah lingkungan,” jelasnya. 

Apabila suatu UMKM terpaksa menggunakan kemasan plastik sekali pakai, disarankan minimal para pelaku UMKM tersebut memberikan edukasi kepada pelanggan, terkait fungsi lebih yang dapat digunakan oleh kemasan produk dari UMKM terkait. “Misalnya pengusaha kopi, terpaksa menggunakan gelas plastik. Pelanggan setidaknya diedukasi bahwa setelah menggunakan kemasan tersebut, gelas plastik itu bisa berfungsi sebagai wadah tanaman. Seperti itu kira-kira salah satu contohnya,” terangnya.

Sementara itu, Bunga Situmorang yang merupakan seorang aktivis lingkungan hidup di sebuah gerakan yang bernama Cleanaction, yang juga menjadi narasumber pada webinar tersebut, menyatakan bahwa kembali melihat kemasan-kemasan tradisional seperti besek, dan anyaman-anyaman bambu lainnya, selain bersifat ramah kepada lingkungan, juga dapat memberikan nilai lebih dari sebuah produk yang dipasarkan. “Para pelaku UMKM harus dapat berpikir kreatif menggunakan kemasan yang unik dan ramah lingkungan, sebagai salah satu strategi marketing yang dapat diterapkan,” tegasnya. 

Ia mengatakan bahwa para pelaku UMKM tidak harus kemudian berubah secara total serta menyeluruh, untuk beralih menggunakan kemasan produk yang ramah lingkungan. Melainkan secara perlahan, melalui evaluasi-evaluasi agar kemasan produk yang digunakan nantinya, tidak menurunkan nilai dari produk yang dipasarkan. “Para pelaku UMKM juga harus memiliki rasa bertanggung jawab atas keberadaan lingkungan. Bayangkan saja, misalnya jika satu pengusaha minuman menjual produknya dengan menyediakan sedotan plastik sekali pakai, dan rata-rata pembeli 20 orang per hari, berapa sampah sedotan plastik yang dihasilkan dalam satu tahun?,” ungkapnya.

Bunga berharap pertumbuhan UMKM yang ada di Indonesia, berjalan beriringan dengan pertumbuhan pemikiran terkait kepedulian terhadap keberadaan lingkungan hidup. “Terwujudnya lingkungan yang lestari dan terjaga tidak bisa dilakukan oleh pegiat UMKM atau aktivis lingkungan saja. Namun seluruh lapisan masyarakat harus ikut berpartisipasi,” tutupnya.*rma

Komentar