nusabali

Prof Gelgel Ungkap Rahasia Arak sebagai Ramuan Pengobatan Tradisional Bali

  • www.nusabali.com-prof-gelgel-ungkap-rahasia-arak-sebagai-ramuan-pengobatan-tradisional-bali

MANGUPURA, NusaBali.com - Minuman arak Bali menjadi populer belakangan ini, terutama setelah Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan Pergub Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan atau Destilasi Khas Bali.

Ditambah lagi setelahnya Gubernur Koster  memperkenalkan minum kopi campur arak sebagai salah satu cara ia menjaga vitalitas tubuhnya. Jauh ke belakang, arak banyak disebut oleh leluhur orang Bali dalam lontar usadha (pengobatan tradisional Bali) sebagai salah satu komponen dalam ramuan pengobatan tradisional Bali.

Jika dilihat secara ilmiah kandungan alkohol dalam arak sesungguhnya berfungsi sebagai pelarut dari senyawa-senyawa yang  terdapat pada bahan-bahan campuran lainnya.

Hal itu disampaikan ahli farmasi Universitas Udayana, Prof Dr rer nat Drs I Made Agus Gelgel Wirasuta Apt MSi, ketika bertindak sebagai salah satu pemateri dalam webinar yang diselenggarakan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bali bertajuk ‘Pemanfaatan Arak dalam Lontar Usada pada Pengobatan Tradisional Bali’, Kamis (29/10/2021).

“Alkohol adalah kandungan utama dari arak, pada umumnya hasil dari destilasi masyarakat mendapatkan paling maksimal 40 persen. Arak dalam lontar usadha umumnya digunakan sebagai pelarut atau pembawa dalam bahan-bahan obat atau sediaan obat di dalam usada,” ujar Prof Gelgel dalam paparannya.  

Dikatakannya, sebagai pelarut alkohol akan membawa kandungan-kandungan yang terdapat dalam bahan-bahan campuran lainnya yang umumnya adalah senyawa yang baik untuk kesehatan (antioksidan).

Selain sebagai pelarut, dijelaskan Prof Gelgel, alkohol juga berfungsi sebagai disinfektan yang membantu menghindarkan ramuan obat dari kontaminasi kuman atau bakteri yang merugikan.

Prof Gelgel mengungkapkan, pada sediaan farmasi,  alkohol memang sudah sering digunakan sebagai salah satu bahan pembantu yang berfungsi meningkatkan aktivitas suatu senyawa. Dikatakannya, sebagai bahan pelarut alkohol juga berfungsi dalam ekstraksi bahan alam.

“Alkohol pada umumnya ditentukan oleh konsentrasinya, efeknya, kemudian durasi kapan kita menggunakan, jalur penggunaan, kemudian kemurnian dari alkohol itu sendiri,” sambung Prof Gelgel.

Prof Gelgel menambahkan, selain alkohol (etanol) dalam minuman arak Bali juga ditemukan adanya kandungan metanol yang secara toksikologi lebih berbahaya dibandingkan  alkohol. Namun dari penelusuran Prof Gelgel, masyarakat Bali sebenarnya juga telah memiliki pengetahuan terkait menghasilkan arak yang berkualitas. Sementara secara modern destilasi tuak (bahan baku arak) menjadi arak telah mampu memisahkan alkohol dari metanol.

“Ketika saya berjalan-jalan keliling ke pedesaan ternyata orang-orang tua mengatakan cara membuat arak yang baik,  tendasne duduk, awakne tunas, ikuhne kahatur,” ungkap Prof Gelgel.

“Secara fisika metanol akan menguap lebih awal kemudian menetes, kemudian di tengah-tengah etanol (alkohol), di akhir hanya uap air,” imbuhnya.

Lebih jauh Prof Gelgel menuturkan, Pergub Bali 1/2020 bukan bertujuan untuk melegalkan peredaran arak di masyarakat secara sembarangan. Lebih dari itu, pergub tersebut bertujuan untuk mengatur agar peredaran arak di masyarakat lebih terstandarisasi, lebih aman untuk dikonsumsi.

“Apa standarnya? Tidak mengandung logam berat, itu berbahaya. Artinya proses destilasinya tidak menggunakan bahan-bahan berbahaya. Ada logam berat, Pb (Plumbum), itu akan mengaganggu saraf kita. Kemudian berikutnya tidak mengandung metanol,” jelas Prof Gelgel.

Sementara pemateri lainnya, I Gde Agus Darma Putra SPdB MPd, seorang ahli bahasa Bali yang fasih membaca lontar membenarkan adanya ratusan lontar yang menyebut arak sebagai salah satu campuran dari ramuan tradisional Bali (usadha).

Beberapa yang cukup terkenal disebutkannya seperti lontar taru pramana, lontar usadha dalem, lontar usadha sasah bebai, hingga usadha upas yang berisi ramuan untuk meningkatkan vitalitas seksual pria. “Kesimpulan saya sama, arak selalu jadi campuran, ada campurannya, arak tidak sendiri dia perlu teman,” sebut akademisi UHN I Gusti Bagus Sugriwa.

Namun Agus Darma juga menggarisbawahi jika pada lontar usadha masih banyak yang tidak menyebutkan berapa jumlah takaran arak maupun rempah yang harus digunakan.   *adi

Komentar