nusabali

Panglingsir Pamangku di Pura Besakih Meninggal Akibat Komplikasi

Jro Mangku Suyasa Sempat Selama Sepekan Dirawat di RS Kasih Ibu Denpasar Sejak 25 Agustus

  • www.nusabali.com-panglingsir-pamangku-di-pura-besakih-meninggal-akibat-komplikasi

Kesehariannya Jro Mangku Suyasa ngayah di Pura Merajan Kanginan Besakih. Jro Mangku Suyasa rutin meditasi di pura tersebut setiap rahina Kajeng Kliwon, Purnama, Tilem mulai malam pukul 23.00 Wita hingga dinihari pukul 02.00 Wita.

AMLAPURA, NusaBali

Panglingsir Pamangku di Pura Besakih, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Jro Mangku Suyasa, 68, meninggal dunia dalam perawatan di RS Kasih Ibu Denpasar, Selasa (31/8) malam pukul 23.52 Wita. Sebelum berpulang, Jro Mangku Suyasa sempat selama sepekan dirawat di rumah sakit, Rabu (25/8) lalu, akibat komplikasi.

Adik kandung Jro Mangku Suyasa, yakni Mayor Inf (Purn) I Ketut Sumendra, mengatakan almarhum selama ini menderita gagal ginjal, penyakit paru, dan stroke. Kondisinya mendadak drop, sehingga Jro Mangku Suyasa dilarikan RS Kasih Ibu Denpasar, 25 Agustus 2021 lalu.

“Selama seminggu dirawat di RS Kasih Ibu Denpasar, kondisi almarhum tidak kunjung membaik. Bahkan, almarhum akhirnya menghembuskan napas terakhir, Selasa jelang tengah malam,” ungkap Ketut Sumendra saat dihubungi NusaBali seusai menggelar rapat keluarga di rumah duka kawasan Banjar Batumadeg, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Rabu (1/9).

Menurut Ketut Sumendra, yang paling awal dan sudah lama diderita Jro Mangku Suyasa adalah penyakit ginjal. Sedangkan komplikasi saki ginjal, paru, dan strike baru belakangan dialamu Jro Mangku Suyasa. “Secara fisik, almarhum terlihat bugar, tetapi kenyataannya secara medis menderita gagal ginjal,” terang mantan Danramil Rendang, Danramil Abang. dan Danramil Sidemen ini.

Disebutkan, Jro Mangku Suyasa terakhir kali ikut hadir di kegiatan groundbreaking (peletakan batu pertama) pembangunan Penataan Kawasan Suci Pura Besakih yang dilakukan Gubernur Bali Wayan Koster, di jaba Pura Manik Mas Besakih pada Buda Umanis Dukut, Rabu, 18 Agustus 2021 lalu. Kala itu, Jro Mangku Suyasa hadir sebagai upasaksi sulinggih.

Setelah itu, kondisinya menurun hingga akhirnya Jro Mangku Suyasa dilarikan ke RS Kasih Ibu Denpasar, sepekan lalu. Namun, nyawa pamangku berusia 68 tahun kelahiran 17 Juli 1953 ini gagal diselamatkan.

Jro Mangku Suyasa berpulang buat selamanya dengan meninggalkan istri tercinta Jro Mangku Istri Nengah Tana dan 5 orang anak serta 15 cucu. Kelima anak almarhum masing-masing Ni Nengah Ngartini, Ni Nyoman Sridanti, Ni Ketut Artiyanti, I Komang Arta Susila, dan Ni Wayan Nurul Ariyati.

Hingga Rabu kemarin, jenazah Jro Mangku Suyasa masih disemayamkan di rumah duka di Banjar Batrumadeg, Desa Besakih, Kecamatan Rendang. Berdasarkan petunjuk sulinggih dan kesepakatan keluarga, jenazah almarhum rencananya akan diabenkan di Setra Desa Adat Besakih pada Wraspati Pon Landep, Kamis, 9 September 2021 depan.

Sebelum upacara ngaben, lebih dulu akan dilaksanakan serangkapan prosesi ritual. Pertama, ritual negtegang, mapiuning lan nunas tirtha pada Soma Kliwon Landep, Senin (6/9). Kedua, mesandekan pada Anggara Umanis Landep, Selasa (7/9). Ketiga, munggah tumpang salu lan ngaskara pada Buda Paing Landep, Rabu (8/9).

Setelah upacara pengabenan, akan dilaksanakan upacara rsi gana pada Radite Umanis Ukir, Minggu (12/9) mendatang. Selanjutnya, ritual ngulapin lan ngangget don bingin dilaksanakan pada Anggara Pon Ukir, Selasa (14/9). Sedangkan upacara ngeroras digelar pada Buda Wage Ukir, Rabu (15/9).

Jro Mangku Suyasa sendiri mulai ngayah sebagai pamangku di Pura Merajan Kanginan Besakih, sejak tahun 1979. Selain itu, Jro Mangku Suyasa juga menjadi pamangku di Pura Dadia Ki Tua Aji Pajengan.

Selama ini, Jro Mangku Suyasa dijadikan panglingsir (penua) pamangku di Pura Besakih. Jro Mangku Suyasa pula yang bertindak sebagai jura bicara pamangku di Pura Besakih. Kecuali itu, Jro Mangku Suyasa juga dipercaya sebagai Pengawas Manajer Operasional Badan Pengelola Kawasan Suci Pura Besakih.

Ketika digelar Karya Agung Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Besakih setahun sekali dan  Karya Agung Panca Balikrama di Pura Besakih 10 tahun sekali, Jro Mangku Suyasa selalu dipercaya sebagai seksi sulinggih. Karenanya, dia hafal nama-nama seluruh sulinggih di Bali yang katuran muput upacara di Pura Besakih.

Jika tidak upacara besar di Pura Besakih, kesehariannya Jro Mangku Suyasa rutin ngayah di Pura Merajan Kanginan Besakih. Biasanya, almarhum rutin meditasi di pura tersebut setiap Kajeng Kliwon, Purnama, Tilem mulai malam pukul 23.00 Wita hingga dinihari pukul 02.00 Wita. Kebiasaan meditasi itu dilakukan sejak jauh sebelum Jro Mangku Suyasa menjadi pamangku.

Saat meditasi tengah malam itulah, Jro Mangku Suyasa tiga kali merasakan pengalaman gaib di Pura Merajan Kanginan, yang merupakan stana Ida Bhatara Mpu Baradah. Pengalaman pertama, jelang periswiwa G 30 S/ PKI tahun 1965. Pengalaman gaib kedua, jelang Ibu Tien Soeharto meninggal tahun 1996, Pengalaman gaib ketiga, jelang aksi teror Bom Bali I 12 Oktober 2002.

"Pawisik (petunjuk niskala) yang saya rasakan dalam tiga peristiwa gaib itu selalu sama, yakni terdengar suara ribut-ribut di angkasa, semakin mendekat suaranya semakin keras. Biasanya, semakin keras suara itu, semakin besar bencana yang akan terjadi," kenang Jro Mangku Suyasa kepada NusaBali dalam suatu kesempatan di Pura Besakih.

Sedangkan pengalaman gaib lainnya Jro Mangku Suyasa selama ngayah di Pura Besakih, antara lain, saat tahapan Karya Agung Eka Dasa Ludra tahun 1979. Ketika itu, Jro Mangku Suyasa yang baru beberapa bulan menjadi pamangku menyaksikan ada pengayah istri menggoreng jaja untuk upakara di Pasucian Besakih, Ajaibnya, dari minyak mendidih yanjg dipakai menggoreng jaja, tiba-tiba muncul ular. “Minyaknya berubah jadi merah,” ungkap almarhum. *k16

Komentar